Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.30(Secepatnya)


__ADS_3

"Deal ... Kau boleh suruh apapun padaku Tuan Raja!"


Biru tergelak, memajukan gelas miliknya ke arah gelas yang kini dipegang Alex.


"Ayo bersulang!"


"Ah ... Kau tidak bisa banyak banyak minum, ingat kalau kau akan mengacau jika terlalu banyak minum Biru!"


"Kau tenang saja! Dasar bawel ... Aku menyuruhmu kesini bukan untuk ceramah, lakukan ini untukku!" ujar Biru dengan mengeluarkan sebuah kartu nama di hadapan Alex.


"Rian Prasetyo!" gumamnya.


"Bukannya kita sudah tahu jika dia adalah putra kekuarga Prasetyo. Huh!" Alex menghembuskan nafas, "Keluarga yang selalu mencari masalah!"


"Justru itu, cari tahu semua bisnisnya, hanya untuk berjaga jaga saja! Dia pasti tidak akan tinggal diam saat tahu kalau aku dipercaya memegang proyek di kantor papanya Dara." terang Biru.


"Makin hari tugas yang kau berikan makin berat, kita akan semakin cepat dewasa ini!" cetus Alex menghela nafas, "Padahal gadis cantik, bening bisa kau pilih dengan mudah. Tinggal tunjuk saja, kenapa repot repot dengan gadis yang bahkan sudah hamil lebih dulu!" Biru pun terlihat menghela nafas, awal dari sesuatu keisengan belaka yang akhirnya semakin menyenangkan baginya.


"Kau tidak akan mengerti Lex ...!"


"Ibuku bilang kau harus lebih hati hati, kedua orang tuamu bisa saja curiga dengan penyalah gunaan wewenang yang dilakukan ayahku. Dan kau wajib___"


"Aku mengerti! Kau tenang saja, Daddy tidak akan sampai tahu ... Dan aku menjamin keselamatan paman dan bibi!"


Alex mengerdikkan bahu lalu bangkit dari duduknya dengan membawa kartu nama milik Rian dan memasukkannya ke dalam saku celana.


"Awas saja kalau kau membuat kacau hidupku dan keluargaku!"


Biru berdecih dengan ke dua mata yang menyipit ke arahnya, hingga Alex beringsut dari tempatnya. "Aku pergi dulu ... Gara gara kau liburanku berantakan!"

__ADS_1


"Sudahlah berhenti mengeluh, ini sangat menyenangkan!"


Alex yang sudah berjalan ke arah pintu dan membukanya kembali menoleh, "Hanya menyenangkan untukmu saja! Tidak untukku!"


Tak lama Alex keluar dari kamar hotel suite presiden itu dan kembali turun, sementara Biru terkekeh dengan kembali menenggak minumannya.


Di sisi lain, sepulang dari rumah sakit, Rian membawa Dara kembali ke rumah Baskoro. Akhirnya Dara bisa bernafas lega karena sepanjang perjalanan dia sangat kesal pada Rian. Gadis itu langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar tanpa peduli pada Rian.


"Yang sabar ya Nak Rian, wanita hamil msmang seperti itu," ucap Sophia menenangkan Rian.


"Aku ingin bicara pada Om dan Tante mengenai hubunganku dengan Dara."


Sophia mengernyit, "Bukannya kita sudah sepakat untuk menunggu mereka sampai satu tahun?"


"Tetap tidak bisa Tante, aku tidak tahan melihat mereka berdua terus menerus seolah olah benar benar suami istri dan anakku seolah anaknya. Aku tidak terima! Pokoknya aku sekarang akan bicara pada ayahku tentang hal ini, aku ingin mengurus dengan cepat!" Terang Rian dengan raut wajah yang kesal dan langsung pergi lagi.


"Pap ... Kita harus segera membereskan masalah ini, jangan sampai dibiarkan terlalu lama dan berimbas pada kesehatan Dara."


Baskoro menghela nafas, masalah sang putri yang tidak selesai selesai dan menghabiskan banyak waktu. Di sisi lain dia ingin menuruti permintaan Dara yang sudah terlanjur terikat kontrak tapi di sisi lain, dia juga tidak mungkin membiarkan Rian begitu saja, mengingat perusahaan Prasetyo lah yang selama ini banyak menyokong perusahaan miliknya.


"Apa Rian baru saja pergi?" tanyanya kemudian duduk. "Anak itu terus saja merajuk!" Ujarnya lagi.


Sophia mengangguk kecil, "Bagaimana kalau sampai Rian bicara pada Ayahnya. Sudah pasti kita tidak bisa menolaknya!"


"Lebih cepat lebih baik, Papa juga tidak suka Biru berlama lama di rumah ini dan semakin berani saat di kantor!" desis Baskoro.


Mereka berdua sama sama memikirkan bagaimana caranya melepaskan Dara dari Biru, tidak ingin terus dimanfaatkan Biru dan takut pula jika keluarga Prasetyo akan bertindak yang dapat menggoyahkan perusahaan.


Sementara Dara kini hanya duduk dengan bibir yang mencebik, mengingat kekesalannya pada Rian dan uga Biru yang tidak kunjung datang untuk sekedar menyusulnya di rumah sakit.

__ADS_1


"Kemana tuh anak, kebiasaan kalau pergi gak pernah bilang bilang, ngilang gitu aja kayak anak setann!"


Sampai akhirnya Dara tertidur dengan sendirinya di atas sofa dengan posisi meringkuk.


Hingga tengah malam tiba, Biru mendadak pulang dengan kondisi setengah mabuk akibat terlalu banyak minum minuman alkohol.


Dia langsung masuk kedalam kamar Dara, dan tersenyum saat melihat istri yang hanya dalam kontrak itu tertidur pulas.


"Sepertinya kau menungguku Dara!" ujarnya dengan langkah kaki yang dia angkat pelan, tidak ingin membangunkan Dara apalagi membangunkan kedua orang tuanya yang akan di pastikan marah jika tahu Biru masuk kedalam kamar putrinya.


Pria berusia 22 tahun itu bersimpuh dengan bertumpu pada satu lutut kakinya, menatap wajah Dara yang damai. Lalu kembali tersenyum.


"Kenapa aku tidak bisa melarikan diri dari mu Dara, padahal aku tahu cepat atau lambat kita akan berpisah!" ucapnya dengan menatap perut rata milik Dara, bayi itulah yang menjadi tembok penghalang di antara mereka, cepat atau lambat Rian lah yang akan berada di posisinya saat ini.


Dara sedikit menggeliat, tubuhnya bergerak semakin maju ke tepian sofa dan hampir terjatuh. Biru yang kaget langsung mengambil ancang ancang untuk menangkapnya namun urung dia lakukan karena takut jika Dara bangun dan marah lagi.


Biru hanya mengambil selimut dan menutupi tubuh Dara, kemudian meletakan dua buku yang dia bawa diatas meja.


"Sweet dream jodoh orang!" cicitnya pelan.


Tak lama Biru berjalan ke arah pintu namun terhenti sejenak lalu menoleh ke arah belakang di mana Dara kembali menggeliat dengan tangan yang kini menjuntai kebawah.


Biru menghela nafas, kesadarannya yang tidaklah penuh membuatnya kembali menutup pintu. Tak lama dia mengangkat tubuh Dara dan membaringkannya diranjang, tidak lupa menutupinya dengan selimut.


Bruk!


Pria berhidung mancung itu ikut merebahkan tubuhnya ke samping Dara begitu saja. Mendekapnya dengan erat hingga membuatnya tertidur dengan sendirinya. Tidak memikirkan jika Dara yang mungkin akan marah atau pun kesal keesokan paginya, atau bahkan reaksi kedua orang tua Dara jika tahu. Dia tidak peduli sama sekali.


"Harusnya seperti ini kan suami istri tidur bersama!"

__ADS_1


__ADS_2