Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.115(Cara lain)


__ADS_3

Rian tertawa mengejek. "Kita semua tahu itu tidak akan terjadi!"


Biru merasa semakin geram dan marah, tetapi dia berusaha keras untuk tetap menjaga kendali diri. Meskipun emosinya memuncak, dia menyadari pentingnya menahan diri agar tidak terjerumus ke dalam kekerasan atau perilaku yang tidak pantas. Dia mengumpulkan tenaganya dan mencoba menenangkan diri sendiri dengan bernapas dalam-dalam.


Biru tahu bahwa jika dia melampiaskan kemarahan dengan tindakan yang kasar, itu tidak akan menghasilkan solusi yang baik. Dia ingin menyelesaikan konflik ini dengan cara yang lebih baik, meskipun sulit bagi dirinya untuk tetap tenang dalam situasi yang menegangkan ini.


Dengan usaha yang besar, Biru mengendalikan emosinya dan berusaha mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan sikap Rian secara tegas namun terkendali.


Alex menghentakkan kedua kakinya, dia menjadi tidak sabar menghadapi dua manusia tidak tahu diri itu. Namun langkahnya di cegah oleh Biru, dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu melakukan apa apa Lex ... Biarkan saja, ucapan mereka hanya untuk memancing emosi kita!"


"Aku tidak sabar untuk memukul mulutnya dengan keras!"


"Tahan emosimu Lex! Mereka akan senang kalau kita terprovokasi."


Rian masih terkekeh tanpa malu, apa yang dia lakukan memang tidaklah pantas mendapatkan kesabaran yang luar biasa dari Biru. Namun nyatanya, Biru mampu mengendalikan dirinya sendiri.


Dengan suara yang terdengar bergetar, Biru menepuk bahu Rian dengan kuat. "Sebenarnya aku sangat marah dengan apa yang kamu katakan, kau tidak layak untuk menguji kesabaranku. tetapi aku tidak akan turun ke tingkat yang sama denganmu yang sangat bodoh Rian. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih baik. Tunggu saja!"


Rian menepis tangan Biru dengan kasar, "Silahkan saja. Lakukan semaumu. Aku tahu kau akan bertindak dengan sesuatu yang akan berimbas pada perusahaanku, tapi aku rasa semua itu akan sia sia. Kau tidak akan pernah mempertaruhkan kehormatan keluarga besarmu hanya untuk anak yang bukan darah dagingmu sendiri!"


Biru hanya mengulas senyuman. "Kau tunggu saja Rian!"


Apa yang dilakukan Biru adalah mencari jalan yang lebih baik untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalahnya, dia tidak menyukai kekerasan seperti sang ayah, dia lebih suka memakai otaknya dibandingkan dengan ototnya.


Rian mungkin mencoba menggoda dan memancing reaksi emosional darinya, tetapi Biru bertekad untuk tetap tenang dan mempertahankan integritasnya dalam situasi yang sulit ini. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menghadapi konflik dengan dewasa dan membangun jalan menuju pemahaman, meskipun itu membutuhkan usaha yang besar.

__ADS_1


Meskipun geram dan kesal, Biru berusaha keras untuk menjaga diri tetap terkendali dan mencari solusi yang lebih baik daripada terlibat dalam pertikaian yang tidak akan menghasilkan apa pun kecuali lebih banyak kerusakan. Dia juga ingin membuktikan bahwa dia dapat menghadapi tantangan ini dengan bijaksana dan mempertahankan martabatnya.


"Kita pergi dari sini Lex!" ujar Biru yang langsung melangkah keluar dari sana.


Alex pun mendengus kesal pada Rian dan juga Prasetya yang tampak tidak bisa melakukan apa apa itu. Mereka terlihat sangat menyedihkan.


"Bi ... Kenapa tidak pukul dia sekali saja!"


"Kau ingin dia koma untuk selama lamanya? Orang yang licik tidak akan jera hanya di pukul. Aku akan memukul mereka ditempat seharusnya." Biru membuka pintu mobil dan masuk.


Begitu juga dengan Alex yang menyusulnya masuk ke dalam pintu kemudi.


Setelah usaha kerasnya untuk tetap tenang, Biru memutuskan untuk meninggalkan rumah Prasetya. Dia menyadari bahwa suasana di sana semakin tegang dan tidak kondusif untuk mencari solusi yang baik. Biru mengerti bahwa perlu waktu dan ruang untuk meredakan emosi dan merenungkan situasi yang sedang dia hadapi.


Biru memberikan penjelasan singkat kepada Alex. orang yang selama ini berada paling dekat di sekitarnya tentang keputusannya untuk pergi, tidak memperpanjang perdebatan atau konfrontasi yang ada.


"Aku heran kenapa kau tidak seperti ayahmu dalam hal ini!" ujar Alex yang melajukan kendaraannya.


"Kau lupa apa yang sering aku katakan padamu? Aku memakai otak dari pada otot yang bekerja. Apa kau tidak mengerti juga?"


Alex mengangguk paham dengan kedua tangan yang tetap berada di setir kemudi.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Kirimkan file file data base perusahaan Prasetya padaku! Kau akan tahu nanti!"


Alex menoleh ke arahnya dengan kedua alis yang mengernyit. "Untuk apa? Jangan kau bilang kau ....!"

__ADS_1


Alex faham sekarang apa yang dimaksud perkataan Biru yang akan memukul orang licik pada tempatnya. Menyadari akan hal itu bibir Alex ikut melengkung lebar.


"Aku yakin otakmu secemerlang wajahmu dan kehebatan keluarga Maheswara. Tapi demi apapun, aku tidak bisa menyangka jika kau berfikir ke arah sana!"


"Ya ... Seperti itulah Biru Sagara Maheswara...."


"Hanya saja otak kau menjadi bodoh saat berhadapan dengan Dara!" timpal Alex seraya mendengus.


Bukan perkara mudah berhadapan dengan orang orang licik seperti Rian dan juga Prasetya. Biru ingin menggunakan waktu yang dia miliki untuk memikirkan langkah-langkah selanjutnya dan mencari cara untuk menghadapi situasi yang rumit ini dengan kekalahan telak yang akan membuat keduanya hancur seketika. Bukan serangan fisik maupun verbal. Tapi dengan cara aksi yang akan dia lakukan.


Biru, yang lebih menginginkan cara lain untuk menghentikan Rian dan Prasetya, memutuskan untuk mengambil pendekatan yang lebih bijaksana. Dia memahami bahwa kekerasan atau tindakan merusak tidak akan membawa solusi yang baik. Sebagai gantinya, Biru merencanakan strategi yang dapat menghentikan mereka secara efektif tanpa melibatkan kekerasan.


"Kau mau aku mencuri data base perusahaan mereka?"


"Tidak!" Biru menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan data base perusahaan mereka?" tanya Alex yang heran dengan rencana yang Biru laksanakan saat ini.


"Melaporkannya pada Polisi!" ujarnya tanpa melihat lawan bicaranya.


Biru memutuskan untuk fokus pada pendekatan hukum dan mendapatkan bantuan profesional. Dia mencari saran dari pengacara atau penasihat hukum untuk mengetahui opsi yang tersedia baginya. Dengan demikian, dia dapat menggunakan sistem hukum yang berlaku untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang adil dan legal.


Selain itu, Biru juga sudah membangun jaringan dukungan yang kuat. Dia berbicara dengan teman-teman terpercaya, keluarga, atau mungkin konselor yang dapat membantunya mengelola emosi dan memberikan nasihat yang bijaksana.


Biru berkomitmen untuk menemukan cara yang konstruktif untuk menghentikan Rian dan Prasetya tanpa mengorbankan integritasnya sendiri. Dia ingin menunjukkan bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik dan mencapai keadilan tanpa melibatkan tindakan yang melanggar hukum atau merusak.


"Hah ... serius? Apa kau gila ...?"

__ADS_1


"Aku serius, Data mereka selalu berbeda dengan data yang di lakukan di lapangan! Dengan begitu dia selalu melanggar kontrak kerja sama baik dengan G.G Corps maupun perusahaan lain."


__ADS_2