
Biru masuk kedalam mobil, segera memasang seat belt dengan terus bergumam tidak jelas, sementara Dara menatapnya.
"Kenapa sih marah marah terus, yang harusnya marah itu tuh aku bukan kamu, lagian ya aku kan gak sampai jatoh juga!" ucap Dara.
"Itu karena aku sigap menangkapmu, bagaimana kalau tadi aku tidak ada. Menurutmu apa yang akan terjadi?" Biru pintar membalikkan keadaan.
"Ya ... Mungkin ada orang lain yang bantu aku!" Sahutnya dengan wajah polos.
Biru mulai menghidupkan mesin kendaraannya, lalu langsung menginjak pedal gas dan langsung melaju kencang.
"Oh ayolah Dara ... Apa yang kamu maksud adalah Rian?"
"Aku gak bilang Mas Rian kok, memangnya di sekitar kantor cuma ada dia doang? Banyak kali."
"Kamu fikir semua orang akan mau membantumu?"
"Ya pastilah ... Aku selalu berfikir positif, gak kayak kamu yang negatif mulu, udah itu ngeres pula!" cetus Dara terkekeh.
Sementara Biru berdecak namun dengan satu bibir yang terangkat, mencoba kembali tenang dan bersikap santai selama perjalanan.
"Oh ya ... Kamu selalu bilang sedang liburan di kota ini, emangnya kegiatanmu apa?" tanya Dara.
"Tidur!" jawab Biru dengan datar.
"Astaga ... jawab yang bener!"
"Iya ... Tidur itu sebagai kata lain dari liburan bukan?"
Dara berdecih, "Kalau hobi kamu?"
__ADS_1
"Tiduran!"
"Biru! Gak ada jawaban yang bener apa ih ditanya juga!"
"Itu memang hobiku Dara!" Biru mulai tertawa kecil, melupakan kekesalannya karena gadis ceroboh di sampingnya.
"Ya terserahlah! Kalau hal yang kamu sukai apa?" tanya Dara lagi. Kali ini menggeser duduk ke arahnya hingga dapat melihat wajah Biru dengan jelas dari arah samping, terlihat hidungnya yang mancung bak perosotan dengan ujung yang sedikit runcing.
"Hal yang aku sukai ya?" gumam Biru mengingat ngingat apa yang dia suka, "Rebahan aja!" sahutnya lagi dengan terkekeh.
Plak!
Dara memeluk lengan Biru yang tengah mengerat di setir mobil dengan keras. "Kamu mau mati ya! Bercanda mulu hidupnya."
"Sakit Dara!"
"Syukurin! Suruh siapa kasih jawaban yang bikin kesel gitu!" ucapnya dengan kembali memukul lengannya beberapa kali.
"Biru!"
"Apa Dara ... Jawabanku memang benar semua kok!" ucapnya dengan suara yang lebih pelan lagi.
Untuk beberapa saat kedua tangan mereka saling menggenggam, sampai Dara sadar jika Biru sedang menyetir dan dia menarik tangannya dengan cepat.
Suara di dalam mobil tiba tiba menjadi hening, keduanya terdiam dengan fikirannya masing masing, suasana kikuk yang lagi lagi membuat jantung Dara berdebar debar.
Entah seperti apa Biru di matanya, sulit sekali menebaknya dengan sekali tebak. Pria itu terus mempemainkannya dengan sikap yang tiba tiba manis, namun bisa juga marah dan menyebalkan.
"Aku sedang belajar bisnis pada ayahmu, aku juga sedang memperpanjang liburanku." celetuk Biru tiba tiba.
__ADS_1
Dara menoleh ke arahnya."Orang tuamu kan pembisnis juga!"
Biru mengangguk, "Aku ingin lebih hebat dari ayah dan ibuku."
Dara menatap kembali Biru yang mengulas senyuman walau tipis. Membuat hatinya semakin tidak karuan saja karena senyumnya yang manis.
"Please gak usah senyum!" lirih Dara sangat pelan.
"Aku tahu senyumku ini paripurna!"
Dara tersedak ludahnya sendiri, tidak menyangka Biru mendengar lirihannya yang pelan itu. Sampai akhirnya keduanya tiba di rumah sakit tempat Dara memeriksakan kandungannya.
Biru menatap tajam seseorang yang terlihat berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Rian yang sudah tiba lebih dulu menunggu kedatangan Dara.
"Kamu yang menyuruh pria itu datang?"
Dara mengangguk, sudah menjelaskan berkali kali jika Rian yang paling berhak tahu keadaan dan perkembangan janin yang di kandungnya.
Biru menggertakkan giginya dengan kesal, baru saja keduanya terlibat pada keadaan yang harmonis namun tiba tiba rusak karena Rian.
Dara yang sudah tidak perlu mengantri di pendaftaran pun langsung turun dari mobil tanpa mengatakan apa apa lagi pada Biru. Dan Rian yang langsung menghampirinya.
"Kamu sudah datang?" tanya Rian.
Dara mengangguk, melirik ke arah mobil di mana Biru justru belum juga turun dari sana. Pria itu tentu saja tengah kesal dengan terus menatap keduanya tajam.
"Ayo Dara ... Dokter sudah menunggumu!" Ujar Rian dengan mengulurkan tangannya.
Dara tampak diam, dia kembali melirik ke arah Biru namun sayang kini mobil Biru sudah melaju mundur hingga akhirnya pergi dan menghilang dari pandangan. Dara tentu saja merasa bersalah terhadapnya, dia tidak mengatakan jika Rian sudah menunggunya lebih dulu.
__ADS_1
"Ayo Dara. Tunggu apa lagi?"