
"Pergilah Mami, jangan fikirkan Dara. Aku tidak akan pergi sedikit pun dari sini."
Sophia mengangguk, dia lantas kembali masuk ke dalam ruang inap dimana Dara masih harus mendapatkan perawatan dan dia langsung membereskan barsng miliknya ke dalam tas.
"Mami mau kemana?" Tanya Dara,
"Mami mau ke pemakaman sayang."
Dara beringsut duduk. "Dara ikut!"
"Sayang ... Kondisimu belum bagus untuk keluar dari rumah sakit. Besok saja ya."
"Pokoknya Dara ikut ... Dara mau ikut Mami!"
Sophia menghela nafas, "Dokter tidak akan mengijinkanmu keluar dari sini nak. Besok ya ...!"
Dara berusaha turun dari ranjang, dia bersikeras ingin ikut ke pemakaman walau itu tidak mungkin bisa terjadi sebab kondisinya masih belum stabil.
"Aku ingin pergi ke pemakaman Papi! Kenapa Mami melarangku?
"Dara, kamu masih dalam perawatan di rumah sakit. Dokter tidak mengizinkanmu untuk pergi. Itu bukan keputusan yang bisa kita ambil sembarangan. Mami akan bicara pada Dokter." jelas Sophia yang berusaha menenangkan Dara namun kesabarannya setipis tisu.
Dara malah terisak, "Papi udah pergi, dan aku gak bisa memberikan penghormatan terakhir padanya? Itu gak adil! Aku ingin mengucapkan selamat jalan padanya! Papi pergi karena aku dan juga Biru, coba aku gak pernah setuju dengan rencana Biru. Mungkin Papi gak akan pergi kayak gini!"
"Dara ... Jangan bicara seperti itu sayang, Papi memang sudah ditakdirkan untuk pergi Nak. Ini bukan salahmu juga bukan salah Biru."
Mendengar suara percakapan ibu dan anak yang keras, Biru berinisiatif masuk untuk mencari tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Pria itu langsung membuka pintu dan menghampiri Sophia yang tengah melarang Dara untuk turun.
"Apa yang terjadi?"
"Dara ingin pergi ke pemakaman, tapi Mami melarangnya dan dia bersikeras." terang Sophia.
Biru mengangguk mengerti, dia lantas menghampiri Dara lebih dekay.
"Dara. aku mengerti kalau kamu ingin mengucapkan selamat jalan kepada ayahmu, tapi kita harus mempertimbangkan keadaanmu sekarang. Dokter tahu apa yang terbaik untuk pemulihanmu. Setidaknya kita bisa bicara pada Dokter apakah kamu bisa pergi atau tidak!"
Dara menghentakkan tangan Biru. "Kalian tidak mengerti perasaan aku! Papi aku udah meninggal, dan aku harus hadir di pemakamannya! Aku gak bisa duduk tenang di sini dan gak berbuat apa-apa! Ini semua gara gara kamu!"
Sophia mengelus bahu Dara, "Sayang. Ini bukan saat yang tepat untuk menyalahkan Biru, juga tidak tepat untuk pergi. Kesehatanmu sangat penting, dan kita harus mengikuti saran dari dokter. Biar Biru bicara pada dokter dulu ya!"
Dengan suara penuh amarah Dara menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau Biru yang bicara pada Dokter atau siapapun di sini. Aku gak peduli dengan saran dokter! Papi lebih penting daripada semuanya! Aku akan pergi sendiri kalau kalian gak ngizinin aku!"
Dara menggelengkan kepalanya serta menepis tangan Biru. "Kalian berdua gak bisa menghentikanku! Aku harus pergi, gak peduli apa yang terjadi padaku nanti. sekalipun aku mati menyusul Papi!"
Biru menghela nafas dan mencoba lebih sabar lagi menghadapi sang istri. "Dara, aku tidak ingin melihatmu menderita lebih lanjut, tapi aku juga tidak bisa memaksamu. Ayo kita mencoba mencari jalan tengah yang aman untukmu, bagaimana mengatur sesi penghormatan khusus untuk ayahmu di rumah sakit ini hm. Aku akan menyiapkan semuanya."
Sophia mengangguk setuju. Dia tidak berfikir sejauh itu tapi Biru bisa memikirkannya dengan mudah. "
Biru benar, sayang. Kita harus mencari cara lain untuk mengenang ayahmu dengan aman, tanpa mengorbankan kesehatanmu. Kamu tenang ya. Kita bicarakan rencana alternatif yang dapat memenuhi keinginanmu sambil tetap menjaga keamananmu. Ya sayang!"
Dara terdiam, dia mengekspresikan keinginannya yang kuat untuk pergi ke pemakaman ayahnya, meskipun ia masih dalam perawatan di rumah sakit. Sophia dan Biru yang terus berusaha menjelaskan pentingnya memperhatikan kesehatan Dara dan mengikuti saran dokter. Meskipun Dara marah dan frustasi, Biru mencoba menawarkan alternatif yang aman dan menghormati keinginan Dara untuk mengenang ayahnya.
Melihat Dara yang sedikit tenang, Biru mengulas seutas senyuman. "Aku akan bicara pada Dokter!"
__ADS_1
"Gak perlu! Udah aku bilang aku gak mau kamu ngelakuin apa apa. Aku mau kita jaga jarak dan aku gak mau mau terlibat urusan keluarga aku lagi!"
Biru tersenyak kaget mendengarnya. Terlebih Sophia yang merasa menyayangkan sikap Dara yang kini berubah drastis pada Biru.
"Dara! Harusnya kamu berterima kasih pada Biru!" kesal Sophia. Merasa sangat kasihan pada Biru.
Tatapan Dara kembali berubah dingin. "Aku gak perlu berterima kasih padanya. Kamu hanya melakukan itu karena kamu merasa bersalah padaku karena membuat Papa meninggal kan?"
Biru menggeleng tidak percaya. "Dara, aku melakukan ini karena aku ingin mendukungmu dan memahami betapa pentingnya momen ini bagimu. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku merasa bersalah karena ayahmu ... Tapi aku juga ingin bertanggung jawab pada kesehatanmu."
"Kamu gak mengerti apa pun. Kamu hanya mencoba menjadi pahlawan yang baik dimata keluargaku kan?"
"Aku tidak pernah bermaksud menjadi pahlawan Dara. Aku hanya ingin membantu dan mendukungmu dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan."
Dara menggelengkan kepala. "Kamu gak perlu membantu. Aku gak membutuhkan bantuanmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri!"
Dara menjadi sangat egois, dia tidak ingin menerima bantuan apa apa dari Biru sekalipun Biru hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang menjaganya.
Wajah Biru terlihat muram, dia menatap Dara yang terus bersikap dingin sejak kemarin. "Dara, aku tahu kamu sedang marah dan sedih, dan aku minta maaf jika membuatmu seperti ini. Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik sebagai seorang suami."
"Terbaik? Kamu gak tahu apa yang terbaik untukku. Kamu gak tahu apa yang aku butuhkan, dan jangan harap aku menerima semua bantuanmu lagi!"
"Aku kan terus mencoba memahami dan membantumu sebaik yang aku bisa, Dara. Kalau kamu tidak ingin menerimanya, itu hakmu. Tapi aku akan tetap di sini kalau kamu membutuhkanku."
Dara tetap tidak bergeming, dia menatap Biru dengan tajam. Kemarahan dan kecewa juga rasa sedih yang tidak pernah dia harapkan dalam hidupnya datang bersamaan.
"Pergi Biru! Aku gak mau lihat kamu di sini lagi, tinggalkan aku dan anak itu ... Kamu gak perlu tanggung jawab karena dia bukan anakmu, aku bisa mengurusnya sendiri. Pergilah!"
__ADS_1