
Prasetya merasa tegang saat dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Meskipun dia hanya sebagai saksi saat ini, dia menyadari bahwa situasinya bisa berubah jika bukti yang cukup menunjukkan keterlibatannya dalam kasus tersebut. Dia berusaha untuk tetap tenang dan memberikan keterangan yang jujur dan sebenar-benarnya kepada pihak kepolisian.
Sementara itu, pihak kepolisian tak tinggal diam. Mereka mengerahkan anggota-anggota lainnya untuk mencari keberadaan Rian. Kehadiran Rian sangat penting dalam proses penyelidikan untuk mengungkap fakta-fakta yang lebih jelas terkait kasus tersebut. Pihak kepolisian berusaha melakukan upaya yang maksimal untuk menemukan dan memanggil Rian agar dia dapat memberikan keterangan yang diperlukan.
Prasetya merasa campur aduk dalam situasi ini. Di satu sisi, dia prihatin dengan nasib Rian, anaknya sendiri. Namun, di sisi lain, dia juga merasa tertekan dengan proses penyidikan yang sedang berlangsung dan kekhawatiran akan konsekuensi hukum yang mungkin dihadapinya. Dia berharap agar segala masalah segera terungkap dan diselesaikan dengan adil dan berkeadilan, serta berharap Rian bisa segera ditemukan untuk memberikan klarifikasi terkait perannya dalam kasus tersebut.
Proses penyelidikan terkait kasus yang melibatkan Prasetya menjadi semakin pelik. Saat dimintai keterangan oleh penyidik, Prasetya terlihat tidak terlalu kooperatif dalam memberikan jawaban. Ketika ditanya mengenai kegiatan perusahaannya, ia memberikan jawaban yang samar-samar dan terkesan menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam.
Penyidik yang bertugas merasa frustasi dengan sikap Prasetya yang kurang transparan. Mereka berusaha menggali informasi lebih lanjut untuk memperoleh bukti yang cukup dalam kasus ini. Namun, Prasetya tampaknya enggan memberikan keterangan yang lebih rinci, menyulitkan proses penyelidikan yang sedang berlangsung.
Kehadiran kuasa hukum Biru juga turut mempengaruhi dinamika proses penyelidikan ini. Kuasa hukum tersebut cenderung membelakangi upaya penyidik dan mencoba melindungi kepentingan Prasetya. Hal ini semakin mempersulit penyidik dalam mengumpulkan bukti dan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai peran Prasetya dalam kasus tersebut.
Situasi ini menimbulkan frustrasi bagi pihak kepolisian yang berusaha menjalankan tugas mereka dengan sebaik mungkin. Mereka harus menghadapi kendala dalam mengumpulkan bukti yang kuat dan menghadirkan fakta yang dapat mendukung proses hukum yang adil. Sementara itu, Prasetya terus diinterogasi, namun sikapnya yang enggan memberikan jawaban yang tegas membuat proses penyelidikan semakin rumit.
Tantangan ini membuat proses penyelidikan semakin rumit dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memperoleh bukti yang cukup. Pihak kepolisian harus bersabar dan terus melakukan upaya maksimal untuk memecahkan kasus ini dengan transparansi dan keadilan yang diperlukan.
Kabar perginya Rian akhirnya mencapai telinga Biru, yang sedang sibuk dengan tugasnya di perusahaan dan penyelesaian masalah yang melibatkan Prasetya. Ketika ia mendengar bahwa Rian telah kabur, perasaan campur aduk memenuhi pikiran Biru.
Di satu sisi, ada kelegaan karena Rian tidak lagi berada di sekitarnya dan tidak memperburuk situasi yang sudah rumit. Namun, dan di sisi lain, rasa kesal dan kekecewaan melanda hati Biru. Rian telah melakukan banyak kesalahan, tapi dia selalu bisa berhasil lari dari tanggung jawabnya.
"Brengsekk!" Geram Biru.
__ADS_1
Biru merenung. Dia berharap bahwa suatu hari nanti, mereka bisa menyelesaikan semua masalah ini dan Rian tidak akan mengganggu keluarga kecilnya yang utuh. Dan saat ini, ia terus berfokus pada tugasnya di perusahaan dan upaya untuk memulihkan reputasi dan kestabilan bisnisnya.
Meskipun Rian telah pergi, konsekuensi dari perbuatannya masih harus dihadapi. Biru tahu bahwa proses hukum akan berlanjut, dan dia akan tetap memastikan keadilan tercapai. Dalam hatinya, ia berharap agar semua pihak dapat belajar dari kesalahan yang terjadi dan memperbaiki diri untuk masa depan yang lebih baik.
Sambil memikirkan Rian yang pergi, Biru juga menyadari bahwa ia harus tetap fokus dan kuat. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, dan dia bertekad untuk menghadapinya dengan kepala tegak. Dalam perjuangannya untuk mengembalikan kehormatan dan integritas perusahaannya, Biru terus bergerak maju, menghadapi setiap rintangan dengan keberanian dan keteguhan hati
Berbeda di tempat lain, Dara yang masih menjalani perawatan di rumah sakit juga merasa cemas karena tidak mendengar kabar apapun dari Biru. Meskipun dia mengerti bahwa Biru harus mengurus masalah dengan Rian, kekhawatiran dan kerinduannya semakin memenuhi pikirannya.
Pada akhirnya, setelah tiga hari yang panjang, Biru kembali ke rumah sakit. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi juga penuh dengan tekad. Sophia merasa lega melihatnya kembali, dan dia segera mendekat untuk menanyakan keadaannya.
"Kau datang? Apa semua sudah selesai?" tanya Sophia yang baru saja keluar dari kantin.
"Sebentar lagi!" Biru dengan sopan memberikan penjelasan singkat tentang kepergiannya dan mengapa dia tidak dapat hadir di rumah sakit selama beberapa hari. Dia menjelaskan bahwa ada masalah terkait kasus yang sedang dia perjuangkan dan harus ia selesaikan,
"Bagaimana keadaan Dara?"
"Dara semakin membaik, hanya saja dia cemas karenamu!"
Biru tersenyum, menjadi tidak sabar untuk segera bertemu Dara. "Apa Dokter sudah mengijinkan Dara pulang?"
Sophia mengangguk, "Ya ... Kemungkinan Dara bisa pulang besok tapi anaknya belum bisa dibawa pulang.
__ADS_1
Biru mengangguk mengerti dan memberikan dukungan kepada Sophia, padahal dia sendiri saja membutuhkan dukungan dari orang orang terdekatnya.
Tapi mereka juga mengerti bahwa kadang-kadang dalam hidup, ada hal-hal yang lebih penting daripada pekerjaan.
"Bagaimana perkembangan Rian dan Prasetya?" tanya Sophia, mencoba menawarkan bantuan dan siap membantu Biru mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. "Kalau kamu butuh sakti yang bisa memberatkan Rian dan Prasetya, jangan sungkan pada Mami. Mami siap kapanpun membantumu Biru!"
"Terima kasih Mami!" ucapnya dengan terus berbicara.
Keduanya kini tiba di kamar inap Dara. Dara yang masih belum tahu jika Rian kabur merasa lega saat mendengar kabar bahwa Biru sudah kembali.
Dia merasa sedikit lebih tenang, mengetahui bahwa Biru sedang berusaha menyelesaikan masalah dengan tekad yang kuat.
"Bi ... Kenapa kamu baru datang hari ini? Kamu bikin aku khawatir Bi!" Dara langsung menyeloroh saat pintu terbuka dan Biru melangkah masuk.
Biru terkekeh. "Maaf ... Aku terlalu lama datang kesini dan membiarkanmu menunggu. Tapi sesuatu terjadi saat proses hukum berlangsung." terangnya dengan merengkuh kedua bahu Dara untuk meluapka kerinduan yang tidak tertahankan.
"Apa yang terjadi? Apa Rian kembali berulah?"
Biru mengangguk, tidak bisa menyembunyikan apapun dari Dara. Terlihat wajah Dara menjadi khawatir dan jelas kaget karena kabar buruk itu.
"Tapi kau tenang saja, aku akan segera mengatasinya cepat atau lambat! Walau bagaimanapun Rian tidak akan bisa pergi jauh, semua kasus yang menjeratnya sangat banyak. Dan dia sudah ditetapkan sebagai tersangka!"
__ADS_1