
Dari situ Dara semakin yakin jika Biru tidak seburuk yang dia fikir, pria itu mungkin hanya marah karena dirinya yang tidak bisa memegang perjanjian mereka, perjanjian yang dia buat sendiri dan dia sepakati juga. Dengan cepat Dara masuk ke dalam kamar mandi, tidak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada apaalagi membuat Biru kembali marah, bisa bisa dia tidak bisa pulang lagi.
Setelah selesai acara bersih bersihnya, Dara keluar, namun sosok bIru sudah tidak lagi terlihat, yang dia lihat hanya ada satu buah paperbag di atas meja, lengkap dengan sarapan sehat di sampingnya.
"Apa nih?" ujarnya dengan melihat note kecil yang berada di dalam paperbag.
...Bersihkan piring ini sebelum keluar dari sini! Jangan membuat repot staff hotel yang susah payah membuatnya, dan jangan tinggalkan apapun. Kau mengerti!! Sayang sekali aku ada urusan, jika tidak ... Aku sudah pasti akan menagih janjimu dan tidak akan tertipu lagi....
Mungkin kata katanya mengandung ancaman, tapi entah kenapa Dara justru tersenyum saat membacanya, semakin yakin jika Biru pria yang baik, yang hanya sedang marah padanya saja.
Dara pun mengeluarkan isi paperbag, di dlammya terdapat beberapa botol vitamin dan juga obat penguat kandungan, dan juga satu helai dress dengan motif bunga bunga kecil berwarna Biru.
Sebelum pergi Dara pun menghabiskan semua sarapannya, dia juga meminum vitamin dan juga obat penguat kandungan yang di berikan Biru, dia benar benar melakukan apa yang Biru tulis dalam note kecil itu.
Tok
Tok
Tok
Terdengar gedoran keras di pintu, Dara pun tersenyum dan membukanya dengan cepat karena menduga jika Biru yang datang lagi.
"Astaga ... Ternyata kau benar di sini Dara!"
"Mas Rian?"
"Aku mencarimu kemana mana dan si brengsekk itu yang membawamu kemari kan, kau tidak apa apa kan. Apa dia menyakitimu, apa dia menyakiti anak kita . Hm?" Rian terlihat khawatir dengan menyentuh perut rata Dara.
__ADS_1
Dara mundur, tidak ingin Rian menyentuh tubuhnya, "Dara, apa kau tidur dengannya juga?" tuduhnya saat melihat ranjang berantakan.
Dara menggelengkan kepalanya, lantas dia mengambil paperbag yang berisi obat obatan pemberian Biru dan berlalu keluar.
Rian mengejar dan langsung mencekal lengannya, "Kau belum menjawab pertanyaanku Dara?"
"Sudah aku katakan aku tidak tidur dengannya Mas!"
"Kau jangan bohong, kita sudah berjanji untuk membatalkan pernikahan konyol itu, kedua orang tuamu juga sudah setuju, jadi jangan coba coba membohongi ku Dara!" sentak Rian, "Kemarikan itu?" ujarnya lagi saat melihat paper bag yang di tenteng Dara.
"Ini hanya obat," ujar Dara dengan terus berjalan,
Secepat kilat Rian merebut paperbag dari tangannya, dan langsung mengeluarkan satu demi satu lalu melihatnya, "Obat apa? Apa Biru yang berikan itu padamu?"
Dara berdecak atas ketidak sopanan Rian, "Ya!" jawabnya malas.
Rian melemparkan paper bag itu ke dalam tempat sampah yaang berada tidak jauh dari sana, membuat Dara tersentak.
"Mas! Kenapa di buang?"
"Aku tidak sudi anakku minum obat obatan darinya!"
Glek!
Dara menelan saliva, menatap wajah Rian dengan tajam. "Memangnya kenapa?"
Rian menarik tangannya dan membawanya segera masuk ke dalam lift yang kebetulan baru saja terbuka.
__ADS_1
"Bayi ini jelas anakku Dara! Jadi hanya aku yang berhak mengurusnya."
"Ya tapi gak mesti di buang kan, lagian obat dan vitamin itu sama dengan obat dan vitamin yang aku minum sekarang!"
"Tetap tidak boleh!" ujar Rian dengan tatapan tajam.
Tidak ingin terus memperpanjang masalah, Dara hanya diam dan mendengus saja,
"Sekarang kita pulang dan melai mengurus pembatalan pernikahan." ujarnya lagi.
Dara terhenyak mendengarnya, bagaimana mungkin dua orang pria kini membuat hidupnya semakin rumit dalam waktu bersamaan,
"Aku ingin pulang! Kita bahas nanti saja!"
"Tapi Dara, lebih cepat lebih baik!"
"Mas please! Aku cape dan aku ingin pulang dulu!" ujar Dara yang langsung keluar dari lift saat pintu lift baru saja terbuka.
Sampai di dalam mobil Dara hanya diam, selama perjalanan menuju rumah pun Dara hanya membisu, tidak ingin membahas apapun dengan Rian begitu juga saat keduanya tiba di rumah, Dara langsung melenggang masuk ke dalam kamar tidurnya di lantai dua dan membiarkan Rian beserta kedua orang tuanya heran melihatnya pergi begitu saja.
"Nak?" Sapa Sophia, namun di abaikannya juga.
"Pulanglah dulu Rian, nanti Om yang bicara padanya. Mungkin Dara masih shock karena Biru menculiknya begitu saja." Baskoro menepuk bahu Rian, mencoba membuatnya tenang.
"Aku tunggu saja di sini Om, aku tidak akan membiarkan Biru kembali membawa Dara." sahutnya.
"Tidak perlu, kami pun tidak akan mengijinkannya datang kemari. Dan soal pembatalan pernikahan, Om sudah mengurusnya! Jadi kau tenang saja ya. Setelah semua selesai, baru kita rencanakan pernikahan Dara denganmu!" Ujar Baskoro lagi. Dia memang lebih setuju Dara menikah dengan Rian sejak awal.
__ADS_1
Brak!