Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.133(Dara canggung)


__ADS_3

Dara yamg sudah bersiap siap untuk pulang dari rumah sakit terperangah melihat siapa yang datang menjemputnya. Alih alih Biru yang datang, justru Zian dan Agnia lah yang datang menjemputnya untuk pulang, dan membawanya pulang ke rumah. Sementara Biru menang harus kembali ke kantor karena pekerjaannya belum juga selesai


Dara terperangah saat melihat Zian dan Agnia datang menjemputnya di rumah sakit. Hatinya campur aduk antara rasa terkejut, kebingungan, dan kelegaan.


"Dad ... Mom?" katanya dengan tersipu malu.


"Sayang ... Kami datang untuk menjemputmu. Kamu sudah siap?"


"Kalian? Yang menjemputku?" katanya dengan suara tergagap.


"Ya ... Memangnya kenapa? Kau tidak mau pulang. Atau kau tidak mau kami yang menjemput?" suara Zian tegas seperti biasanya.


"Enggak ... Maksudku ... Itu ....!" Dara bingung mengatakannya, sebab dia jelas tidak menyangka kedua orang tua Biru datang menjemputnya.


"Biru harus pergi ke kantor. Ada urusan yang perlu dia selesaikan. Jadi kamu pulang bersama kita ya!" Tukas Agnia lembut.


Berbeda sekali dengan Zian yang kerap bersikap tegas. Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan inap, bersama Sophia yang baru saja tiba,


"Pak Zian ... Bu ...!" Sapanya.


Keduanya mengangguk, keheningan kembali terasa di antara mereka.


"Bu Sophia ... Dara akan pulang bersama kita ke rumah. Jadi Bu Sophia bisa beristirahat setelah ini di rumah. Atau mungkin ikut ke rumah kamu saja?" ajak Agnia.


Sophia jelas tidak akan mau, walau bagaimanapun dia akan tetap memilih tinggal di rumahnya sendiri walau kini rumah itu sepi dan sunyi.

__ADS_1


"Maaf Bu ... Sepertinya aku akan ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, kebetulan sepeninggal Papa Dara, aku memang belum sempat membereskan rumah."


"Baiklah kalau begitu Bu!"


" Percayakan saja Dara pada kami. Biar kami yang akan mengurusnya." Sela Zian yang selalu bicara dengan nada yang tegas.


Ketiganya akhirnya keluar dari rumah sakit. Keheningan memenuhi mobil saat Dara pulang bersama Agnia dan Zian, orang tua Biru. Suasana terasa sedikit canggung karena mereka belum pernah menghabiskan waktu bersama dalam situasi seperti ini. Dara merasakan ketegangan di udara, namun dia berusaha untuk tetap tenang.


Mereka saling melirik dengan ekspresi yang mencerminkan perasaan campur aduk. Dara mencoba memulai percakapan ringan untuk mengurangi kekakuan.


"Jadi, Biru masih di kantor ya?"


"Biru tadi mampir ke rumah, bertemu Air yang merengek padanya!"


"Bagaimana kabar Air Mommy?"


"Ya, dia sibuk dengan banyak hal. Terkadang kami kesulitan menemukan waktu untuk berinteraksi dengan dia."


Dara mengangguk, merasa sedikit sedih mendengarnya. Dia ingin menjadi bagian dari kehidupan adiknya dan berbagi momen bersamanya.


"Apa Air akan senang aku datang? Aku harap suatu saat kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama sebagai keluarga."


"Tentu, Dara. Kami juga berharap bisa lebih dekat denganmu. Kamu adalah keluarga kami sekarang. Apalagi Air, setiap hari dia merengek ingin bertemu kalian."


"Lebih tepatnya bertemu kakak kakaknya!" ucap Zian tak berperasaan.

__ADS_1


Kecanggungan masih terasa, tetapi mereka berusaha untuk memperbaiki suasana. Mereka saling tersenyum dengan harapan bahwa waktu dan kesempatan akan membantu memperkuat ikatan keluarga mereka.


Saat mereka tiba di rumah, suasana menjadi lebih hangat. Dara melihat Air dengan senyum lebar di wajahnya, dan mereka berpelukan dengan penuh kegembiraan. Meskipun masih ada perasaan tidak nyaman, Dara merasa bahwa langkah pertama menuju kedekatan dengan keluarga Biru sudah terjadi.


"Kak Dara!! Akhirnya kak Dara kesini juga, aku bosan karena menunggu kakak! Mana bayi Kakak? Apa masih belum bisa pulang?" seloroh Air dengan segala pertanyaan.


"Iya Dara ... Bayi belum bisa pulang karena kondisinya masih perlu perawatan." timpal Agnia. "Sekarang ajak kak Dara ke kamar. Dara ayo istirahat sayang...!" ujarnya lagi.


Dara mengangguk, benar benar berharap bahwa dengan waktu dan usaha bersama, kecanggungan tersebut akan menghilang dan kehidupan mereka sebagai keluarga yang diperluas akan menjadi lebih harmonis dan penuh kasih sayang. Lebih tepatnya hanya Dara yang merasakan hal itu.


Dalam perjalanan pulang tadi, Dara mencoba memahami mengapa Biru tidak bisa datang menjemputnya. Meskipun dia merasa sedikit kecewa, dia juga mengerti bahwa pekerjaan Biru seringkali membutuhkan perhatian penuh dan keterlibatan yang intensif. Dara berusaha mengalihkan pikirannya dengan mengobrol dengan Zian dan Agnia, mengenalkan mereka pada pengalaman di rumah sakit dan berbagi cerita tentang perkembangan bayi mereka.


Sampai di rumah, suasana hangat menyambut Dara. Agnia dengan penuh kasih mengurus Dara, menyiapkan makanan lezat dan membuatnya merasa nyaman. Dara merasa terharu melihat dukungan dan perhatian yang diberikan oleh Agnia, meskipun bukan ibu kandungnya. Dia merasa beruntung memiliki keluarga yang bisa menerimanya dan mendukungnya sepenuhnya.


Sementara itu, Biru tenggelam dalam pekerjaannya di kantor. Meskipun dia merindukan kebersamaan dengan Dara dan ingin bisa hadir untuk menjemputnya, tanggung jawabnya di perusahaan tidak dapat dia tinggalkan begitu saja. Dia berusaha fokus pada tugas-tugasnya, tetapi pikirannya terus melayang pada Dara dan bayi mereka di rumah.


Setelah selesai dengan pekerjaan yang mendesak, Biru memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia merasa sedikit menyesal karena tidak bisa bersama Dara saat pulang dari rumah sakit, tetapi dia berjanji akan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan keluarganya begitu sampai di rumah.


"Hey ... Hey ... Kenapa kau buru buru begitu!" Alex terlihat heran, tidak biasanya Biru langsung membereskan semua pekerjaannya dan bergegas pulang.


"Dara hari ini pulang dari rumah sakit, aku tidak bisa menjemputnya jadi kedua orang tuaku yang datang ke rumah sakit dan membawa Dara pulang! Aku yakin jika Dara belum terbiasa terlebih pada Daddy ... Kau tahu sendiri seperti apa Daddy kalau bicara!" tukas Biru yang bersiap keluar ruangan. "Pulanglah lebih awal, kau juga harus mencari pasangan. Jangan cari di klub ... Cari yang benar benar cocok!" tukasnya lagi sesaat sebelum pergi.


Biru pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah, dia ingin bergegas dan tidak sabar untuk kembali berkumpul dengan keluarganya termasuk Dara.


Keceriaan menyambut kepulangannya. Ada Air yang mengajak Dara bermain dan menemaninya. Padahal sebelumnya Air terus merengek agar Biru tidak mengajak Dara. Biru tersenyum melihat senyuman Dara saat melihatnya. Dia tahu bahwa meski ada momen di mana pekerjaannya harus menjadi prioritas, keluarga tetap menjadi hal terpenting baginya.

__ADS_1


"Kakak sudah pulang, cepatlah ... Kak Dara dari tadi terus bertanya terus kapan kakak pulang!"


Dara tersipu malu, raut wajahnya menjadi kemerahan. "Air ... Bukankah tadi aku bilang itu rahasia?"


__ADS_2