
"Kau fikir aku peduli kali ini?" sentak Biru dengan tatapan yang tajam. "Habiskan makananmu dengan cepat! Aku tidak ingin kembali membuang waktu ku dengan percuma." ujarnya lagi.
Dara terkaget, kembali menundukkan kepalanya ke bawah, percuma saja merayu orang yang terlanjur kecewa, tertunduk dengan kedua mata yang kembali basah.
"Tidak usah berlagak sedih, kau yang memulai semua ini! AKu tidak akan berbuat jahat jika tidak kau yang mulai." ucap BIru dengan kedua tangan yang masih terlipat di depan dada. "Aku tidak akan memberikanmu kesempatan lagi, aku hanya akan menidurimu satu kali dan kau boleh pergi. Hanya itu, kita batalkan pernikahan konyol ini dan kau bisa kembali pada pria pengecut itu!" ujarnya lagi.
Brak!
Setelah itu Biru berlalu keluar dan membanting pintu dengan keras, membuat Dara tersentak kaget dan sedikit berjingkat saking kerasnya.
"Mati aku! Apa yang harus aku lakukan?" gumam Dara.
Gaid itu terus menatap pintu kamar, bersiap siap dengan bantal yang menutupi pahanya, juga selimut yang dia tarik agar bsa dengan cepat bersembunyi. Namun sudah hampir satu jam Biru tidak muncul juga, sampai akhirnya Dara terlelap dengan sendirinya.
Sedangkan Biru berjalan ke arah mini bar yang berada di luar, kamar president suite yang memang beda dibandingkan kamar yang lainnya. Dan Biru memiliki akses bebas dengan kartu yang dia miliki di hotel manapun milik ayahnya.
Traak!
Pria berusia 22 tahun itu membuka botol wine yang memiliki aroma lechy, menenggaknya langsung dari mulut botolnya dan hanya menyisakan setengahnyaa saja. Entah kenapa dirinya merasa sangat marah sekali, kesal dan juga emosi terhadap Dara.
Setelah menghabiskan satu botol wine, pria itu berjalan ke arah kamar dan masuk, melemparkan pakaian miliknya ke arah sofa.
Sementara Dara suda tampak tertidur dengan posisi yang meringkuk.
__ADS_1
"Saking takutnya kau padaku sampai tidur seperti itu! Aku akan melakukannya walaupun kau takut padaku Dara." ujarnya lagi dengan berjalan sempoyongan ke arah ranjang.
Biru menatap Dara yang tertidur pulas, dia sedikit tersenyum dengan tangan terulur di dahinya, merapikan selimut yang menutupi sebagian wajahny manisnya.
"Jangan sentuh aku! Tolong jangan ..."
Biru menarik tangannya sendiri saat mendengar Dara yang mengigau, dan tak berselang lama dia beringsut naik ke atas ranjang, merebahkan diri di sampingnya juga memeluknya dengan erat dan melupakan amarah yang sejak tadi memuncak.
"Tidurlah, aku tidak setega itu melakukan hal yang buruk! Bisa bisa Mami marah padaku kalau tahu aku berlaku brengsekk pada seorang wanita!" cIcitnya setengah tidak sadar.
Deg!
Dara yang tiba tiba terbangn karena gerakan di ranjangnya dapat mendengarnya dengan jelas, gerakan tiba tiba Biru saat melingkarkan tangan di pinggangnya membuatnya kaget, namun dia tidak bisa melakukan apa apa selain berpura pura tidur.
Lamat lamat Dara membalikkan tubuh ke arahnya, menatap wajah Biru yang kini terlelap, sangat damai dan meneduhkan. Melihatnya tertidur seperti seorang bayi, kedua mata tidak lagi tajam, bicaranya yang tidak kasar dengan kedua tangan kekarnya yang kini lembut melingkar di pinggangnya.
Dara terus menatapnya, dia akui ketampanan Biru di atas rata rata, hembusan nafasnya lembut menerpa wajahnya dengan hangat, aroma lechy yang keluar dari mulutnya tidak membuatnya mual atau apalah itu. Aneh memang, dan aroma tubuh Biru pun membuatnya tenang. Hingga keduanya kini sama sama terlelap dengan saling memeluk.
Sampai ke esokan pagi, Biru baru mengerjapkan kedua matanya tak percaya saat melihat wajah Dara yang pertama kali membuka mata berada tepat di depannya, dan itu cukup membuat janjung Biru berdegup kencang.
Dia memastikan dirinya sendiri dan mencoba mengingat ngingat semalam, dan merasa lega saat melihat pakaiannya dan juga pakaian Dara yang masih lengkap.
Sial ...bagaimana bisa aku tidur dengannya seperti ini!Jangan bodoh dengan kembali percaya gadis ini lagi Biru, kau hanya buang buang waktu saja. Batin Biru bicara.
__ADS_1
Namun saat kembali melihat Dara, dia merasa tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, tidak peduli jika Dara tengah mengandung anak dari Rian.
"Ya ... Ya ... Kasih aku kesempatan! Aku janji gak akan bikin kamu marah lagi, aku juga gak akan macem macem lagi selama setahun ini. Ya, please kasih aku kesempatan satu kali aja!"
Perkataan Dara kembali terngiang dengan nada manja khasnya, dan entah kenapa Biru kembali tersenyum saat melihat wajah damai Dara dalam pelukannya.
Anggaplah Biru bodoh soal wanita, selain keturunan. Ayahnya yang hebat dan jago soal apapun juga bodoh kalau urusan wanita terlebih pada sang ibu.
Biru menghela nafas,
"Apa yang aku dapatkan jika kali ini aku memberikan kesempatan lagi padamu?" gumamnya dengan mengelus pipi Dara.
Dan tiba tiba saja Dara membuka kedua matanya, pandangan mereka kini kembali beradu dari jarak yang sangat dekat.
Dara mengerjap, "Kamu boleh minta apa aja padaku Biru, aku yakin kamu gak sekejam itu sama aku!"
Biru terdiam, memang benar, dia tidak bisa berbuat hal yang kejam terhadap wanita, apalagi wanita yang kini menarik perhatiannya.
Pluk!
Biru menarik lengannya dengan cepat hingga Dara terhempaskan begitu saja, pria itu langsung bangkit dari ranjang.
"Otakku kacau gara gara kau. Cepat pulang sebelum aku kembali berubah fikiran!"
__ADS_1