Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.107(Tidak akan berubah)


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" tanya Alex saat melihat Biru keluar dari ruangan dengan wajah yang muram dan terlihat sedih.


Pria itu mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan kedua tangan bertumpu di atas kedua pahanya. Biru sedang merenungkan sikap Dara yang semakin dingin saja.


"Entahlah Lex ... Aku sendiri bingung dan khawatir!"


"Dara lagi?" tanya Alex dengan ikut duduk di sampingnya.


"Dia bersikap dingin padaku dan menolak semua bantuanku dari tadi, bahkan saat aku ingin membantunya untuk bangun dari ranjang! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."


"Itu pasti sulit!"


"Ya ... Dara memang sedang kesulitan saat ini!"


Alex mendengus pelan. "Bi ... Apa kau akan terus memikirkan Dara dan mengabaikan perasaanmu sendiri. Jujur aku mulai kesal padanya, kau terlalu baik padanya tapi dia tidak menghargaimu sama sekali. Dia malah menyalahkanmu atas kematian ayahnya padahal kita melakukan itu hanya untuk menyelamatkannya." ujar Alex dengan wajah kesal. "Dara menolak bantuanmu? kenapa dia melakukan itu? Aku pikir kaulah yang terlalu bodoh!"


"Ya, aku juga tidak mengerti. Aku ingin membantunya, tetapi dia menolak tanpa alasan yang jelas. Aku jelas kecewa. Tapi aku mencintainya Lex ... Aku khawatir padanya!"


"Biru, sampai saat ini aku tidak bisa mengerti mengapa kamu masih memperhatikan Dara seperti itu. Kamu sudah melakukan yang terbaik dan lihatlah sikapnya itu. Dia bahkan menolakmu. Mungkin kamu harus berhenti mencoba dan fokus pada hal-hal lain yang lebih penting." Kali ini Alex mendengus kasar.


"Tapi aku peduli padanya, Alex. Aku ingin membantu dan mendukungnya. Aku tidak bisa hanya berhenti begitu saja, ditambah kau tahu aku mencintainya!"


"Tapi kamu juga perlu memikirkan dirimu sendiri, Biru. Kenapa kamu begitu terobsesi dengan seseorang yang tidak menghargai bantuanmu? Aku jadi kesal karenanya ...!"


Biru terlihat frustasi, dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan kekarnya.

__ADS_1


"Kenapa jadi kau yang marah marah!"


"Ya aku kesal ... Aku marah karena kau bodoh dan Dara tidak bersyukur ada kau yang baik ini. Aku jadi berfikir padahal sejak awal seharusnya kau menghindarinya saja dan fokus pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan dan menghargai bantuanmu, liburan kita dan mungkin kita tidak akan terjebak di situasi ini!"


"Aku faham apa yang kamu bicarakan, Alex, tapi hatiku masih terikat dengan Dara. Aku masih akan terus mencoba lagi!"


Alex menggelengkan kepalanya lirih. "Baiklah, terserah kau saja. Kau yang punya keputusan. Tapi ingat Biru, kalau kamu juga berhak mendapatkan hubungan yang bisa saling memberikan dukungan dan seseorang yang menghargai perjuanganmu. Jangan sampai kamu terlalu terpaku pada seseorang yang tidak memberikan hal itu padamu."


Alex sudah menyampaikan ketidak puasan dan ketidak pengertiannya terhadap sikap Dara yang dingin pada sahabatnya. Dia bahkan menyarankan Biru untuk berhenti saja. Pria itu ikut kesal sendiri karena Biru terus mencoba membantu Dara dan fokus pada hal-hal lain yang lebih penting terhadapnya.


Namun, Biru tetaplah Biru. Dia tidak akan goyah sedikitpun terhadap perasaannya dan tetap mempertahankan keinginannya untuk membantu Dara dan memberikan yang terbaik baginya.


"Lalu bagaimana dengan Rian dan Prasetya. Haruskah kita lepas mereka begitu saja?"


"Kau atur saja Lex! Aku tahu kau bisa aku andalkan."


Dara mungkin sedang mengalami stres atau perasaan cemas yang besar. Kondisi bayi dan perawatan inkubator mungkin memberinya tekanan emosional yang luar biasa dan menambah tekanan emosional yang dia rasakan sebelumnya. Dia mungkin merasa sangat cemas dan takut, dan dengan menunjukkan sikap dingin adalah sebagai cara melindungi dirinya.


Alex memilih duduk dan tetap menemani Biru tanpa berkata kata lagi, dia tahu Biru tidak akan mudah berubah terlebih soal keputusannya.


Tak berselang lama. Sophia keluar dari ruangan dan duduk di samping Biru, melihat hal itu Alex pun mengerti dan meninggalkan mereka.


"Aku akan membeli kopi untukmu!" ujarnya sebelum beranjak pergi.


Sophia bersyukur Alex memahami situasi dan meninggalkannya. Dia memang ingin bicara pada Biru.

__ADS_1


"Kau baik baik saja Nak Biru?"


"Apa aku terlihat tidak baik baik saja?" jawab Biru. "Aku hampir frustasi karena sikap Dara Mami!" jawabnya lagi.


"Maafkan sikap Dara Biru. Dia memang keterlaluan dan tidak bersyukur tapi Mami minta sama kamu satu hal saja boleh?"


Biru mengangguk, "Apapun Mami ... Mintalah padaku. Apalagi itu untuk Dara."


"Mami pikir yang terbaik adalah memberikan ruang dan dukungan tanpa menuntut atau memaksa Dara untuk menerima bantuanmu. Tunjukkan saja padanya bahwa kamu di sini untuknya, tetapi juga hormati perasaan dan batasan yang dia tetapkan. Jadilah pendengar yang baik ketika dia ingin berbicara, dan terus berikan dukungan. Mami memang tidak tahu diri meminta hal ini pada mu Biru, tapi situasi Dara memang sulit melebihi Mami yang hanya kehilangan suami." Ucap Sophia dengan air mata yang mulai menganak pinak. "Dara kehilangan Papinya, dia juga harus melahirkan mendadak seperti ini karena shock, dan sekarang kondisi anaknya yang harus di inkubator dan perawatan intensif karena usia kelahiran yang belum cukup. Jadi Mami mohon pengertianmu Biru!" sambungnya lagi.


Biru mengangguk, tanpa diminta pun dia memang akan melakukan apapun untuk Dara.


"Mami tahu kamu peduli, Biru. Bersabarlah dan terus tunjukkan kasih sayangmu. Semoga hubunganmu dengan Dara bisa pulih dan semakin kuat. Maafkan Mami dan mendiang Papi yang sudah sempat ragu padamu Biru!"


Sophia memegangi tangan Biru, di dalam hatinya bersyukur atas kehadiran Biru dalam hidup sang putri. Tidak bisa dia bayangkan jika Rian yang mengambil peran itu. Pria itu justru akan menghancurkan semuanya. Tidak hanya hidup Dara tapi juga perusahaan keluarga mereka.


"Mami tidak bisa membayangkan jika tidak ada kamu Biru!" lirihnya lagi dengan mengusap air mata. "Mami sangat bersyukur ada kamu sekarang dan mendiang Papi pergi dengan tenang karena ada kamu yang menemani Dara."


Biru kembali mengangguk, bibir tipisnya melengkung pada Sophia. "Terima kasih Mami ... Mami bisa katakan apapun padaku. Tidak perlu memikirkan apa apa lagi terlebih Dara. Dan tentang perusahaan. Tim dari G.G. Corps akan terus mengawasi Om Pras dan Rian."


"Mungkin itu sebabnya Papi hanya diam saja saat mereka menarik kembali saham mereka Biru. Apa mungkin Papi sudah mengetahui rencana Pras dan Rian?"


"Sepertinya tidak, maka dari itu Papi drop dan meninggal. Papi masih tidak percaya jika Om Pras melakukan hal seperti itu."


Sophia mengangguk lagi. "Terima kasih Biru. Mami akan pergi ke pemakaman. Tolong jaga Dara selama Mami pergi."

__ADS_1


"Pergilah Mami, jangan fikirkan Dara. Aku tidak akan pergi sedikit pun dari sini."


__ADS_2