Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.20(Mengambil kesempatan)


__ADS_3

Ucapan Biru tentu saja menohok untuk semuanya, terlebih pria berusia 22 tahun itu langsung bangkit dan berlalu begitu saja setelah piring berisi sarapan miliknya telah kosong.


Dara mendelik ke arahnya, dia tidak terpengaruh apa apa melihat Rian yang menggenggam tangannya. Tak lama kemudian, Dara pun menghempaskan tangan Rian begitu saja.


Ngapain sih gue! Cari perhatian banget, sebel deh kan jadinya. kata Dara dalam hati.


Hari itu mau tidak mau Baskoro harus membawa Biru ke kantornya. Selain ikut bekerja, Biru juga dipercaya langsung memegang satu proyek besar. Berkat Alex semua jalannya mudah, tentu saja dengan bantuan kedua orang tua Alex dan itu di lakukan hanya untuk membuat Baskoro dongkol saja.


Biru berdiri di depan lemari, mematung dengan melihat jejeran jas dan kemeja yang di siapkan Baskoro.


"Aku harus tampil semaksimal mungkin, agar mereka benar benar menyesal karena menyebutku seorang penipu. Dan jangan sebut aku Biru jika tidak bisa melakukannya!" gumamnya dengan mengambil satu stel kemeja berwarna abu abu.


"Melakukan apa? Jangan macam macam ya, jangan aji mungpung. Papa kasih kamu kesempatan hanya karena rekan bisnis Papa menyukaimu! Kalau kamu gak becus kerja ... Secara otomatis kamu akan di depak!"


Tiba tiba saja Dara masuk ke dalam kamar dan mengagetkannya.


"Jadi siapa di sini yang suka ikut campur? Masuk seenaknya ke dalam kamar tanpa mengetuk pula."


"Lah ... Suka suka aku lah, ini rumah ku dan aku bebas masuk ke mana aja termasuk kamar ini."


Biru menoleh kearahnya. "Baiklah Nona muda, terserah kau saja!"


Melihat Biru yang acuh entah kenapa Dara menjadi kesal, dia merebut jas yang hendak di pakai Biru dan melemparkannya begitu saja.


"Hey ... Apa yang kau lakukan!"


"Dengar ya, aku gak mau dianggap aku ini gak becus ngurus suami, kamu mau bikin aku dan Papa malu ya?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Dara mengambil setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi berwarna hitam dengan corak keemasan.


"Pake ini!" ujarnya dengan menyodorkannya pada Biru. "Semua orang kantor Papa dan rekan Bisnis Papa tahunya kamu adalah menantu Papa, otomatis mereka tahu kamu itu suami anak satu satunya Papa. Jadi kalau kamu jelek, siapa yang kebawa bawa jelek. Aku dan Papa ... Ngerti kan?" dengusnya dengan kasar.


Biru menatapnya tajam, berjalan mendekat dan menarik setelan jas dari tangannya dengan cepat, sontak tubuh Dara ikut tersentak dan hampir menabrak tubuhnya.


"Kalau begitu kau beruntung karena aku tampan, tubuhku seperti hanger ini, pantas memakai pakaian apapun. Kau mengerti Dara?"


Jantung Dara berdebar debar saat melihat Biru dengan wajah datarnya berada tepat di depan mata, sangat berbeda sekali saat bersama Rian.


Sialan ... Jantung juga gak bisa di ajak kompromi. Batin Dara.


"Dan satu yang kau lupakan Dara. Semua yang kau sebutkan itu tahu kalau kita suami istri, tapi kenapa kau ingin Rian yang mengantarkanmu ke kampus. Hm?" ujar Biru menohok.


Biru mengangguk, "Baiklah ... Terserah kau saja,"


Setelah itu barulah Biru mengenakan setelan jas yang di pilih Dara. Sementara Dara masih diam mematung.


"Tunggu apa. Kau mau melihat burungku?" ujar Biru melorotkan celana pendek yang dikenakannya.


"Heh ... Dasar sinting!"


Dara segera berbalik, namun Biru dengan cepat menarik lengannya hingga tubuh Dara kembali menabrak dadanya. Gadis itu tersentak kaget dan untuk kesekian kalinya tatapan keduanya kembali saling beradu.


"Pasangkan dulu dasiku!" cicit Biru dengan mengacungkan dasi tepat di depan wajahnya,

__ADS_1


Membuat Dara mengerjap dengan perasaan yang campur aduk.


Alih alih membungkukkan kepala, Biru justru mengangkat tubuh Dara ke atas sofa single yang berada di dekatnya. Membuat Dara terperanjat dan hampir terjatuh karena tubuhnya belum siap.


"Aarrghh!" pekiknya.


Namun dengan cekatan Biru menahan pinggangnya hingga Dara tidak terjatuh. Debaran jantung Dara tentu saja semakin bertalu talu tidak karuan, apalagi Biru terus menatapnya saat jemari Dara cekatan mengikat dasi di kerah kemejanya.


"Bisa gak sih gak lihatin aku kayak gitu. Aku tahu aku cantik!"


"Ya ... Kamu cantik!" desis Biru tersenyum manis.


Mendengarnya justru membuat Dara kikuk sendiri, dia menarik dasi yang sudah terikat itu dengan kencang hingga leher Biru tercekat dan terhuyung ke depan.


Bruk!


Tubuh Biru memeluknya, sedikit saja terlambat, Dara sudah pasti akan terhuyung ke belakang. Jarak keduanya sangat dekat hingga Biru perlahan lahan memajukan wajah dan mengecup bibirnya satu kali.


Dara termangu, kedua matanya mengerjap ngerjap dengan apa yang baru saja terjadi.


"Biruuuu ... Lepas!"


Sekejap kemudian Dara mendorong tubuh Biru lalu dia turun sendiri dari sofa. "Cari kesempatan terus!"


Biru menggaruk tengkuknya, baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Namun juga tidak merasa bersalah apalagi berdosa.


"Bukankah kau yang datang kemari, bertindak seolah menjadi istri yang baik. Dan kau bilang aku yang mencari kesempatan? Lucu sekali, aku hanya mengambil kesempatan, bukan mencarinya Dara!"

__ADS_1


__ADS_2