
Dara menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, hampir semua bagian tubuhnya terasa pegal. Dan karena kehamilannya itu membuatnya cepat lelah. Gadis itu mengelus perutnya yang masih terlihat rata dengan perasaan yang sulit di artikan.
Semua sudah terjadi, bukan lagi soal penyesalan yang dirasakannya, tapi jika dia boleh memilih dia ingin Birulah yang terus menjadi ayah dari anaknya. Tapi kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang dia inginkan.
Pintu terbuka, lamat lamat Baskoro masuk ke dalam, pria itu sungguh penasaran dengan apa yang di katakan Dara.
"Dara ... Papa ingin bicara!"
Dara yang sedang merebahkan diri beringsut bangun, menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang dngan memeluk satu buah bantal.
"Memang harusnya Papa itu bicarakan dulu semuanya sama aku, termasuk cara Papa bikin surat pembatalan pernikahan itu."
Baskoro terkesiap, alibi yang direncanakannya ketahuan, itu artinya Dara sudah bertemu dengan Biru.
Sial ... Dasar penipu ulung, aku sudah memberinya uang yang banyak agar dia pergi jauh, tapi mereka justru bertemu! Batin Baskoro.
Melihat ayahny terdiam, Daa semakin yakin jika apa yang di katakan Biru itu benar, dia di paksa menandatangai surat itu karena melihat tanda tangaannya juga,. membuatnya seolah Dara yang menginginkannya.
"Benarkan Pap ... Papa kenapa ngelakuin hal itu, Papa kenapa gak bilang dulu Dara, kenapa ngelibatin om Prasetya dalam urusan Dara sama Biru. Apa Papa tahu kalau Biru itu lebih baik dari pada Rian, dia lebih perhatian pada kehamilaan Dara dibanding Rian yang katanya ayah kandungnya. Apa papa tahu itu? Biru bahkan membiarkan Rian memakai parfum miliknya agar Dara gak mual mual deket Rian, itu karena Biru mikirin anak ini Pap. Dan asal Papa tahu, dia yang beliin buku buku ini agar Dara belajar." ungkapnya panjang lebar seraya menunjuk buku buku tentang kehamilan pemberian Biru.
"Papa kemai bukan ingin mendengar hal hal kecil seperti itu, Rian juga mampu melakukannya bahkan lebih baik, bagaimanapun Rianlah yang membuatmu hamil, dan sudah seharusnya Rian lah yang bertanggung jawab Dara. Kau mengerti!"
Deg
Memang benar apa yang dikatakan Papanya, tapi Dara lupa akan satu hal itu. Lantas bagaimana dengan perasaannya yang baru dia sadari sekarang. Kalau dia mencintai Biru. bulir bening mulai menganak di pelupuk matanya, dengan bibir terkatup rapat tanpa bisa menjawab ayahnya lagi.
__ADS_1
Baskoromenghela nafas, "Itu sebabnya aku memberinya uang yang banyak agar dia peri jauh dan melarangnya menemuimu Dara, kau ini masih tidak mengerti. Anak tengil itu hanya bermain main dengan keadaanmu dan juga perasaanmu, jangan tergoda. Sebab itu akan membuat keluarga kita haancur. Kau tahu Dara. Saaat ini perusahaan Papa sedang di ujung tanduk, berkat Prasetyalah usaha Papa bisa bertahan, apaa kau mau menghancurkan bisnis yang Papa bangun bertahun tahun. Dan soal black card dan kartu akses Blue moon yang dimilikinya, itu bukan hal yang penting. Kau faham Dara!" ujarnya ladi dengan suara yang lebih tinggi. "Jadi jangan bertindak seorang diri seolah olah kau ini tidak bersalah. Ingat Dara, semua kekacauan ini adalah kesalahanmu yang tidak pandai menjaga diri!" sentaknya lagi, llau keluar dari kamar Dara begitu saja dengan marah.
Sementara Dara kini menangis sesegukan, semua perkataan ayahnya begitu menyakitkan hatinya.
"Semua ini emang salah aku, semua salah aku, aku tidak tahu jika minuman itu sudah dicampur!"
Suara musik menggema di seluruh lantai ball room malam itu, puluhan siswa siswi SMA Internasional yang sedang berpesta karena kelulusan mereka. Botol botol minuman yang tersaji dengan berbagai jenis.
Dara bersama dua temannya baru saja datang, mereka sangat senang karena akhirnya lulus, dan pesta berlangsung hingga larut malam.
"Dara..."
Dara menoleh, lalu tersenyum saat Intan menyodorkan segelas minuman padanya. "Aku bawain kamu minuman."
"Thanks Intan, padahal aku bisa ambil sendiri!"
Dara memang gadis pintar, tapi dia juga bukan kutu buku, dia tahu dan pernah minum minuman beralko hol, tapi dia tidak tahu jika minuman itu sudah dicampurkan sesuatu yang menyebabkannya mab uk parah.
Dara berjalan sempoyongan bersama Intan, berjalan memasuki sebuah kamar dengan penerangan yang remang remang dan ambruk di sana sampai ke esokan pagi.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, tapi dia terbangun dengan seluruh tubuhnya remuk redam, bahkan tulangnya terasa patah semua. Dia hanya mengingat wangi tubuh seseorang yang berada di atasnya, mengguncangnya dengan kuat.
Dara sempat mendorongnya, juga menahannya hingga sebuah kancing terlepas. Dan kancing itu milik Rian.
"Dara ... Sayang, hey. You oke?"
__ADS_1
Sebuah guncanagn di bahunya membuat Dara yang terus menangis tersar dari lamunannya pada malam itu, malam kelam yang membuat hidupnya hancur berantakan.
"Kamu melamun Nak?"
"Mam?"
Sophia menenangkannya, dia juga memeluk putri satu satunya itu dengan erat, "Apa yang kamu fikirkan saat bertemu bIru saayang, apa yang kau lakukan itu membuat Papa kecewa, semua sudah terjadi. Dan kesalahan yang kamu buat itu juga memberikan keuntungan pada perusahaan Papa sayang, kita masih beruntung karena ternyata Rian lah yang membuat mu hamil, kita bisa meminta pertanggung jawabannya sekaligus menyelamatkan perusahaan. Jadi Mami mohon supaya kamu berhenti bertemu Biru, ya!"
Kecewa. Jelas, yang dia butuhkan adalah dukungan dan pengertian kedua oraang tuanya, dia juga tidak inginmengecewakan keduanya, tapi bukan dukunagn yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya melainkan sebuah penghakiman. Perlahan Dara melepaskan diri dari pelukan sang ibu yang seharusnya menenangkannya.
"Kenapa Mami juga gak bisa ngertiin Dara Mi? Kenapa kemalangan Dara ini jadi keuntungan Papi dan Mami, kenapa kalian gak ada yang ngertiin Dara?"
"Apa maksudmu Dara. Tidak ada ynag lebih mengerti dari pada Papi dan Mami, kami berdua melakukan hal ynag terbaik untukmu, kamu yang tidak memberikan yang terbaik bagi kedua orang tuamu Dara!"
Dara menggelengkan kepalanya, percuma saja bicara pada ibunya yang juga tidak akan mengerti. Tidak memahami bagaimana hnacur hatinya sejak kejadian itu ditambah kali ini, semua bak hukuman atas kesalahan yang dilakukannya, padahal dia sendiri disini adalah seorang korban.
"Percuma ngomong sama Mami karena Mami juga gak akan ngertiin Dara."
Sophia menghela nafas, menyimpan sepiring makanan yang masih mengepul juga segelas susu kehamilan di atas meja.
"Papi berencana mempercepat pernikahanmu dengan Rian." ujarnya kemudian memilih pergi dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Dara.
Pyaarrrr!
Dara melemparkan semua yang disiapkan ibunya, termasuk vitamn kandungan miliknya. Rasanya semua semakin percuma, bukan hanya mendapat tekanan tapi Dara merasa seluruh dunianya hancur sehancur hancurnya tanpa ada orang yang mengerti.
__ADS_1
Harapannya kini hanya satu, yaitu Biru. Tapi jika Biru pun tidak menepati janjinya, maka semakn hancurlah Diri Dara, tidak ada lagi keinginanya untuk hidup.
"Biru ... Lakukanlah sesuatu!"