
Biru tersenyum melihat Dara yang terus mendumel kesal, mengeluh tidak bisa tidur karena rasa penasaran terhadap seseorang yang sepertinya Biru tahu yang dia maksudkan.
"Apa kau sepenasaran itu sampai tidak bisa tidur dan ngomel ngomel tidak jelas di sini?" Celetuknya dengan menopang kedua tangan di lutut. "Siapa dia?" celetuknya lagi dengan terkekeh.
Dara tersentak, menoleh ke arah samping di mana Biru duduk santai melihatnya. Sialan ... Mampus aku kalau dia denger semua.
"Heh ... Manusia gak tahu diri! Ngapain sih so soan kepo urusan orang lain?"
"Astaga ... Aku tidak bisa membayangkan anakmu setiap hari mendengar suaramu saat menuduh orang!"
"Suka suka aku lah, lagian bukan urusanmu!"
"Memang bukan urusanku, itu sebabnya kenapa kau ingin bertanya pada Alex bukan? Kenapa tidak kau tanyakan langsung ... Pada ku misalnya?" Biru terus tersenyum, terlalu mudah mengerjai gadis seperti Dara.
"Heh Biri biri, gak usah kepedean jadi orang!" Ujarnya kesal, tak lama dia masuk ke dalam rumah dan naik kembali lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Biru tertawa melihat kekonyolan gadis berusia 19 tahun itu. Apalagi Dara terus menggerutu tidak jelas sepanjang langkah kakinya menuju ke lantai 2.
"Mati aku! Mana ketahuan aku yang kepo. Aaah ... Gak suka ... Gak suka!"
Brak!
Dara menutup pintu kamar dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar oleh Biru. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihatnya.
"Aneh ... padahal tinggal bilang saja kalau kau menyukaiku!"
Sampai keesokan pagi Dara keluar dengan wajah lebih segar, dia juga sudah mandi dan merasa tubuhnya semakin lebih baik, wajahnya juga tampak berseri seri dengan sedikit riasan. Dia melangkah keluar dan menoleh ke arah pintu kamar yang di tempati Biru lantas menjajaki tangga untuk turun.
Terlihat Baskoro dan Sophia sudah berada di meja makan, di sana juga ada Rian yang seperti biasa akan datang sesuka hatinya. Namun Dara tidak melihat Biru di sana. Kemana dia pagi pagi begini.
"Pagi Dara! Aku membawakan salad segar sebelum ke kantor!"
Rian bangkit dan menarik kursi untuknya, lalu membuka salad yang dia bawa untuknya. "Makan sampai habis ya!"
Dengan cepat Dara menutup hidungnya, "Mas pake parfum ini lagi ya, aku kan udah bilang aku gak suka wanginya!"
"Maaf Dara ... Aku lupa!" Rian membuka jas yang dikenakannya namun aroma parfum justru semakin menyeruak.
Dara bangkit dan berlari ke arah dapur menuju wastafel dan muntah di sana. Rian segera menyusulnya namun di tahan oleh seseorang.
__ADS_1
"Kau tidak dengar apa katanya tadi? Dara tidak suka aroma parfummu!"
Satu tangan Biru menahan tubuhnya untuk melangkah, entah datang dari mana pria itu dan tiba tiba sudah berada di sana.
Rian mengernyitkan dahi saat bertatapan dengan Biru, Dara sudah melarang kedua orang tuanya untuk tidak memakai parfum di rumah, begitu juga dengan dirinya walau kerap lupa. Tapi Biru bahkan memaki parfum daj sangat wangi.
"Sudahlah Biru! Biarkan Rian membantu Dara, dia ayah anak yang dikandung Dara!" celetuk Sophia.
"Ya aku tahu itu Mama mertua, tapi selama satu tahun Dara tanggung jawabku. Termasuk bayi yang dikandungnya, dan sebaiknya kau jaga jarak!" ujarnya pada Ibu mertuanya lalu pada Rian.
"Jaga jarak bagaimana. Yang harusnya jaga jarak itu kau! Bukan Rian." tambah Baskoro.
Sial ... Kalian semua menyerangku bersamaan, ini gak adil tiga lawan satu, mana bisa! Tapi, kalian fikir aku akan diam saja, no way! Batin Biru.
Rian tetap berjalan ke arah Dara dan menepis tangan Biru, pria itu tidak peduli pada Biru. Toh kedua orsng tua Dara memberikan dukungan yang besar padanya.
"Dara ... Kau baik baik saja?"
Dara berdecak, "Udah deh, mending Mas jauh jauh. Aku mual!"
"Maaf Mas lupa lagi!" Ucapnya dengan menyodorkan tisu ke arahnya.
Biru tersenyum, mengikuti langkah Dara yang membuka pintu kamarnya.
"Gak usah senyum senyum ya ... Aku bawa kamu kesini karena cuma parfum kamu yang gak bikin aku mual!" ujarnya dengan ketus.
"Aku tahu itu! Parfumku memang yang terbaik, apalagi orangnya."
"Dih pede banget! Mana parfummu?" ucap Dara dengan tangan yang menengadah ke arahnya.
Biru hanya diam, namun dagunya bergerak ke arah meja dimana dua botol parfumnya tersimpan.
Dan Dara langsung mengambilnya. "Cuma parfum yang terbaik, orangnya gak sama sekali!"
Dara langsung mengambil satu botol yang ukurannya paling besar, dia lantas menyemprotkannya pada pakaiannya sendiri.
"Bilang saja kau suka!"
"Ya ... Aku emang suka! Suka parfumnya." ujarnya dengan membawa botol parfum itu keluar.
__ADS_1
Dara kembali turun, tidak lupa memakai masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
Serrt!
Serrt!
Dara langsung menyemprotkannya banyak banyak pada pakaian Rian. "Cuma parfum ini yang gak bikin mual, jadi Mas Rian juga pake parfum ini."
Biru yang melihatnya dari atas tentu saja kecewa, alih alih memakainya sendiri Dara malah memberikannya pada Rian.
"Memang gak bisa di kasih hati!" dengusnya seraya kembali ke lantai bawah.
Baskoro dan Sophia tentu saja senang melihat Dara dan Rian yang kembali akur. Mereka juga duduk bersampingan dengan Dara yang mulai menikmati salad pemberian Rian.
Biru menarik kursi tepat di depan Dara hingga posisinya saling berhadapan tanpa ingin peduli mereka.
"Hari ini rencananya aku mau lihat kampus baru aku. Mas bisa nganterin aku kan?"
"Mau lanjut kuliah?" sahut Rian dengan raut wajah bahagia, sesekali menatap Biru yang acuh.
Dara mengangguk, "Abisnya kalau di rumah Bete gak ada kerjaan! Bisa kan Mas?"
"Tentu saja bisa!" Rian terlihat menggenggam tangan Dara.
Dan Dara sedikit tersentak namun tidak juga melepaskan tangan Rian, sengaja melakukannya karena ingin melihat reaksi Biru.
Namun Biru terlihat tidak begitu peduli, dia sendiri sedang mengendalikan dirinya agar tidak emosi perihal parfum miliknya yang diberikan pada Rian.
"Inget pake parfum yang kayak gini Mas!"
"Iya ... Aku tidak akan lupa lagi Dara."
Dara tersenyum, namun kekesalannya terlihat jelas karena Biru nyatanya tidak peduli.
"Aku beri tahu, parfum itu tidak akan ada di manapun. Jadi irit irit dalam memakainya!" ujarnya dengan mengelap bibirnya dengan tissu.
"Kau tenang saja, aku tahu ini produk luar. Dan aku yakin kau membelinya dengan uang hasil menipu!" Tukas Rian dengan berseringai tajam.
Biru mengangguk, melipat kedua tangannya di atas meja. "Ya ... Tepat sekali, aku membelinya dengan uang hasil menipu keluarga ini. Parfum itu sangat mahal, tapi ternyata Dara menyukai parfum hasil penipuan itu dan sekarang kau juga memakai barang itu. Apa kita semua bisa di katakan penipu? So Good lucky Rian!"
__ADS_1