Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.113(Putraku)


__ADS_3

Kendaraan roda empat itu melaju kencang menuju sebuah tempat. Pria berkaca mata hitam itu menggenggam ponsel dengan kuat.


"Bi ... Biar aku yang mengurusnya. Kau lebih baik pulang dan istirahat saja."


"Hm ..., Kau fikir aku akan diam saja?"


Alex melarang Biru untuk menemui Rian karena tindakannya yang licik dan tidak dapat dipercaya. Alex khawatir bahwa Biru akan terjebak dalam masalah atau menjadi korban dari tindakan Rian lagi. Namun, itu bukan Biru namanya jika tidak berani melibatkan diri apalagi pada situasi genting seperti sekarang ini.


"Harusnya sejak awal aku tidak melepaskannya begitu saja, mereka benar benar licik." gumam Biru dengan kembali menatap layar ponsel yang kini menyala di tangannya.


Sebuah kabar berita beredar dengan luas dan di pastikan akan membuat kondisi Dara semakin memburuk saja.


Time line yang menyudutkan Dara yang melahirkan lebih cepat dari perkiraan dan berbagai spekulasi jika Biru bukanlah Ayah dari bayi yang di lahirkan Dara sudah menyebar luas.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan ultimatum pada redaksi manapun untuk tidak menerbitkan artikel itu Bi."


"Untung saja Dara masih belum melihatnya!"


Alex menghela nafas, meskipun ia menghargai kekhawatiran Biru yang terus memikirkan Dara dan perasaannya, namun Alex semakin kesal karena Biru tidak mendapat timbal balik yang sepadan dengan perasaannya dan juga apa yang di lakukannya. Alex menolehkan kepalanya untuk melihatnya. Sekalipun tidak terbersit dalam dirinya jika dia akan berhenti membantu sahabatnya itu.


Mobil pun berhenti tepat di depan rumah kediaman Prasetya. Biru langsung turun begitu saja saat mobil baru saja berhenti melaju. Tidak menutup kemungkinan jika Biru tetap ingin berbicara dengan Rian untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang situasi menyudutkan yang dia perbuat terhadap Dara.


Prasetya dan Rian beserta anggota keluarga lainnya merasakan perubahan suasana tersebut dan tidak lebih siap menghadapi kemarahan yang mendatangi mereka. Mereka menyadari bahwa pertemuan ini tidak akan berjalan lancar dan ketegangan di antara mereka semakin meningkat.


Biru, dengan nada suara yang penuh amarah, mengekspresikan ketidaksenangannya terhadap keluarga Prasetya. Kata-katanya yang tajam dan berapi-api memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang semakin tegang dan menekan.


Prasetya, meskipun berusaha menjaga ketenangan, tidak dapat menahan kebingungan dan ketegangan dalam menghadapi kemarahan Biru. Begitu juga dengan Rian yang lebih siap dari sang ayah dan sikap yang lebih tajam dan menantang, menyuarakan ketidaksetujuannya dengan sikap Biru.

__ADS_1


"Kau masih berani berulah rupanya!" ucap Biru dengan tajam. "Kau fikir kau bisa berbuat semaumu. Hah?"


"Kabar itu lebih cepat dari dugaanku rupanya!" tukas Rian dengan wajah senang terlihat di wajahnya.


Setiap interaksi dan pertukaran kata-kata di antara mereka terasa seperti berjalan di atas kaca yang retak. Suasana semakin tegang dan tegangan semakin nyata di setiap gestur, tatapan, dan ekspresi yang ditunjukkan oleh masing-masing individu di ruangan tersebut.


Ketika marahnya Biru bertemu dengan ketegangan di ruang itu, suasana semakin tegang dan penuh gejolak. Keberadaannya menimbulkan konflik yang tak terhindarkan dan membuat setiap orang dalam ruangan merasa terjepit dalam suasana yang tidak nyaman.


Dalam atmosfer yang sarat dengan kemarahan dan ketegangan ini, keluarga Prasetya dan Biru terlibat dalam pertempuran verbal yang intens. Setiap kata yang diucapkan semakin meningkatkan ketegangan dan menciptakan perpecahan yang semakin dalam di antara mereka.


Sikap Rian yang licik, setiap perkataan yang di tujukan padanya membuat Biru semakin berang saja.


"Aku tahu kau pasti akan melakukan apapun untuk melindungi Dara dan putraku! Ingat tuan Biru yang terhormat. Putraku!!"

__ADS_1


__ADS_2