
Melihat hal itu Biru bukannya mereda, dia tetap marah sekalipun di depan orang tuanya. Benar benar mitip sang ayah yang tidak peduli apapun jika sudah berurusan dengan Agnia.
Agnia hanya terkekeh, melihat putranya yang marah sedemikian rupa hanya karena hal sepele, dia tidak membela Air maupun menyalahkannya.
"Tidak usah dianggap, mereka memang suka sekali ribut, itu salah satu cara adik kakak saling menyayangi." Agnia mengelus lengan Dara yang tampak khawatir.
Berbeda dengan dengan Zian yang menajamkan kedua matanya pada Biru. "Kau ini seorang pria, kau mau bertengkar dengan wanita yang tidak ada kata salah di kamusnya?"
"Dad?"
"Maaf baby ... Tapi Biru benar benar mirip denganku saat muda, aku ah ... Sulit berkata kata!"
Agnia mengelus bahunya lembut. Tahu bagaimana perasaa Zian saat ini. Mengingat apa yang dilakukan Biru sama persis dengan apa yang dilakukannya dahulu kala.
Menikahi seorang wanita hamil dan mau bertanggung jawab atas apa yang bukan tanggung jawabnya. Bedanya Zian muda adalah tidak mendapat sedikitpun dukungan dari sang kakek. Dia justru berjuang sendirian dan mengecewakan kakeknya sampai akhir hayatnya.
Zian tidak mau hal itu terjadi pada putranya, dia tahu bagaimana rasanya tidak mendapat satu dukungan keluarga, tidak memiliki keluarga yang bisa dia andalkan selagi muda.
Begitu juga Agnia, semua orang tahu seperti apa saat Agnia muda, dianggap sebagai gadis murahan seperti ibunya, padahal tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Menjadi anak broken home tidak selalu berakhir negatif.
Keduanya jadi lebih mengerti, mendukung segala keputusan anak anaknya, menjadi support sytem terbesar dalam kehidupan anak anaknya. Hingga kedua anaknya bisa mendapatkan semua haknya sebagai anak yang dilahirkan dengan penuh suka cita dan air mata.
Biru Sagara, nama unik yang diberikan Zian pada putra pertamanya. Berharap tumbuh jadi pria dengan pemikiran seluas samudera, memiliki hati bersih dan pria baik yang menghargai orang lain.
Biru mendengus, menatap Air yang berada dipelukan sang ayah, lalu menghela nafas.
"Jangan lakukan itu lagi! Kau harus lebih berhati hati kedepannya Air!"
Air mendongkak ke arahnya. "Aku tahu dan aku minta maaf!"
Dara terperangah, semudah itu pertengkaran adik kakak berakhir, menggemaskan dan sedikit lucu memang.
"Tante sudah bilang kan. Jadi jangan terlalu difikirkan, kamu hanya perlu diam saja kalau mereka bertengkar ya!"
"Iya Tante ...!"
Agnia mengangguk. "Tegur saja kalau Air nakal, apalagi kalau Biru membuatmu menangis, laporkan pada Tante biar Tante yang jewer dia!"
Dara memeluk Agnia, kehangatan seorang ibu yang dia inginkan saat ini. Penuh dukungan dan menenangkan.
"Tante baik banget, Makasih Tante!"
"Apa Om tidak dipeluk?" celetuk Zian yang langsung mendapat cibiran dari Biru.
Ketiganya tertawa, membuat Air yang sedih akhirnya tertawa juga.
__ADS_1
.
Malam pertemuan dengan keluarga Biru benar benar membuat Dara senang, tidak hanya diterima tapi juga diperlakukan dengan baik. Tidak ada penghakiman apalagi mengungkit ngungkit, bahkan mereka tidak bertanya penyebab Dara hamil dan tidak membuatnya berkecil hati.
Sebaliknya Dara yang merasa malu sendiri atas kebaikan keluarga Biru, kedua orang tua dan juga adiknya Air.
Dara pulang dengan di antar supir, namun yang lucu adalah mobil Biru yang mengikutinya dari belakang, hal konyol memang tapi Biru melakukannya hanya karena ingin memastikan Dara pulang dengan selamat tanpa mendapat masalah.
Ada hal yang lebih yang tidak dia duga adalah mobil Rian berada di halaman rumahnya, tentu saja pria itu ada di dalam. Membuatnya resah saat melihat mobil Biru justru ikut masuk ke dalam halaman rumahnya, ikut keluar saat Dara pun keluar dari mobil.
"Kenapa?" tanya Biru.
"Di dalam ada Rian!"
"Aku mengantarmu pulang! Apa tidak boleh? Dan aku sudah tidak peduli jika ada Rian atau ayahnya lagi."
"Tapi ...?" Dara gelagapan, melirik ke arah rumah khususnya jendela kamar orang tuanya. Dan masih gelap. Itu artinya mereka sedang berkumpul. "Kamu yakin?"
"Aku yakin!"
Dara tersenyum, apapun yang terjadi dia akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Biru, dan akan ikut berjuang seandainya ayahnya sendiri masih belum menerima Biru, apalagi hanya Rian dan Prasetya yang notabene ayah dan kakek dari anak yang dia kandung saat ini.
Dan benar saja, Baskoro sudah berdiri di balik pintu. Menunggu Dara masuk dan tentu saja sudah tahu keberadaan Biru di rumahnya, begitu juga dengan Rian yang tampak kesal disampingnya.
"Pap ... Lebih baik papa istirahat saja. Biar Mami yang urus mereka!"
"Papa sudah tidak tahu bagaimana caranya bicara pada Dara agar dia mengerti kalau Rianlah yang akan tanggung jawab!"
"Om benar, harusnya Dara tahu diri. Dia tidak boleh sembarangan membawa pria lain khususnya si brengsekk itu. Apa yang ada di fikiran putrimu itu!" tukas Rian kesal.
Prasetya menghela nafasnya dengan kasar, benar benar tidak terima jika rencananya kembali gagal. Rian harus segera menikahi Dara bagaimanapun caranya.
"Tenanglah Nak, Dara pasti punya alasan kenapa masih berurusan dengan anak itu. Benarkan Baskoro?" pungkasnya menohok.
Baskoro hanya mengangguk kecil, dan akhirnya membuka pintu dengan lebar.
"Dara!"
"Pap ...!"
Biru melangkah dan berdiri disamping Dara lalu memegang tangannya dengan erat. Tidak peduli tatapan Rian yang tajam begitu juga dengan Prasetya. Rian langsung berjalan ke arahnya dengan cepat,
"Kau benar benar tidak tahu diri Biru!"
"Aku tidak ada urusan denganmu Rian!" Biru mendorong Rian ke arah samping dan berjalan membawa Dara.
__ADS_1
Rian yang tidak terima langsung merangsek kerah kemeja Biru dari belakang hingga Biru terjengkang.
"Kau benar benar brengsekk! Sudah aku bilang jauhi Dara dan jangan pernah menemuinya lagi!"
"Kau tidak hak untuk melarangku Rian! Kau bukan suaminya dan bukan siapa siapa!"
Bugh!
"Rasakan itu! Aku ini calon suaminya! Dasar brengsekk!"
"Biru!"
Dara tersentak kaget, dia berlari menghampiri Biru namun Sophia segera menahannya. "Rian! Jangan pukul dia!" ucapnya dengan berusaha melepaskan diri dari cekalan sang ibu.
"Ayo masuk Dara!"
"Enggak Mam! Dara gak mau! Dara gak akan ninggalin Biru!"
Bugh!
Biru membalas memukul Rian, hingga pria itu hampir terjatuh. "Kau yang brengsekk!"
Prasetya ikut berlari, di ikuti dua pria tinggi tegap yang langsung memegangi Biru hingga dia tidak bisa berkutik lagi.
Plak
Plak
"Dasar tidak tahu diri!" sentak Prasetya menampar pipi Biru. "Kau tidak pernah pantas untuk Dara. Jadi pergilah sebelum aku jadikan perkedel!"
"Apa kalian sepengecut ini sampai bermain keroyokan. Hah?"
Dara semakin histeris, menangis dan meminta ayahnya menolong Biru agar Rian dan ayahnya tidak menyakiti Biru seperti itu. Terlebih Prasetya dan Rian terus bergantian memukuli Biru yang tidak berdaya karena dua orang memegangi tangannya.
"Pap ... Tolong Biru! Biru yang yang udah nolongin kita, Biru nolongin Papa juga atau Papa akan nyesel nanti."
"Sudahlah Dara ... Papa tidak tahu lagi bagaimana Papa bicara padamu soal ini, Rian akan menikahimu besok jadi bersiaplah untuk menikah dan biarkan anak itu mereka yang urus!"
Dara tersentak kaget dengan air mata yang semakin terjun bebas. "Pap ... Dara gak mau nikah sama Rian, Dara cinta sama Biru!"
"Dara!" sentaknya.
"Asal Papa tahu kalau Biru itu adalah orang yang___"
Bruk!
__ADS_1