Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.73(Kau yang tanggung jawab)


__ADS_3

Sementara itu Rian mengacak rambutnya, merasa frustasi dengan berkas yang kini tengah dia pelajari ditangannya.


"Sial ... dia benar benar mempermainkanku!" ujarnya dengan kesal.


Bagaimana tidak, kerja sama yang seharusnya menguntungkan itu nyatanya membuatnya harus bekerja dengan keras. Pihak G.G Corps benar benar selektif bahkan tidak menerima kesalahan sekecil apapun itu.


"Papa ... Ini sama saja bohong, kita dipermainkan namanya kalau mereka saja tidak langsung menerima malah mengembalikan surat ini sampai 2 kali. Susah payah aku merevisinya tapi mereka tetap tidak menerimanya. Aku rasa si Biru memang sengaja!" ucapnya saat Prasetya baru saja masuk ke dalam ruangannya.


Pria paruh baya itu menghampiri meja dan mengambil map lalu membukanya sebentar,


"Suruh bawahanmu perbaiki semua, dan jangan pulang ke rumah kalau hal ini saja kau tidak becus memgurusnya!" sentaknya seraya melemparkan map itu tepat di wajah Rian.


"Papa ... Kau tidak sadar juga dengan apa yang aku katakan barusan! Biru hanya mempermainkan kita saja."


Prasetya menoleh, "Kalau itu benar, dia tidak akan melakukan penawaran kemarin Rian! Sekarang lakukan apa yang Papa katakan tadi! Itu akan sangat menguntungkan dibandingkan menguasai perusahaan kecil milik Baskoro. Kau ingat itu!"


"Tapi Papa ... Biru nyatanya lebih licik dari pada yang kita kira. Buktinya dia masih menerima perusahaan lain bukannya hanya perusahaan kita saja yang dia loloskan kemarin?"


Prasetya menatapnya tajam. "Kau hanya mencari alasan, jelas hanya perusahaan kita yang dia loloskan. Kau tahu dari mana?"


Setelah mengatakannya Prasetya kembali berlalu keluar begitu saja dan tidak peduli ucapan Rian. Dan pria itu mendengus dengan kesal lalu membanting asbak yang berada tidak jauh dari jangkauannya ke arah pintu dimana ayahnya pergi.


Brak!


"Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan Biru! Kau fikir kau yang paling hebat dan berkuasa!" serunya keras. "Kau licik dan ingin menguasai semuanya. Kau berpura pura alim padahal kenyataannya kau lebih brengsekk dariku!"


Jam sudah menunjukan jam 20. 00 malam, Rian baru saja keluar dari ruangannya setelah berjibaku dengan berkas yang dia rasa sulit itu. Melangkah keluar dengan langkah kaki gontai. Bukan hanya merasa kelelahan tapi juga kepalanya sudah pusing tujuh keliling akibat mengurus satu hal saja.


Pria itu melajukan mobilnya dengan cepat ke arah rumah sakit, dia hendak mencari Dara dan bicara dengannya.


Tak berselang lama, Rian sampai di rumah sakit. Dia langsung turun dan masuk ke dalam. Entah bagaimana caranya tapi dia tahu di mana ruangan Baskoro di rawat.


Tanpq sengaja Sophia melihatnya, dia bangkit setelah melihat Rian berjalan mendekat.


"Rian ... Mau apa kau datang kemari?"


"Apa aku tidak boleh menengok calon mertuaku sendiri?" jawabnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila! Ayahmu sendiri yang membatalkan dan tidak ingin ada pernikahan di antara kau dan Dara. Kau lupa itu Rian?"


"Maaf Tante ... Tapi itu keinginan Papa, bukan keinginanku. Lagi pula ada seseorang yang mengancam kami. Sekarang ijinkan aku masuk untuk bertemu Baskoro dan Dara!"


Dara yang mendengar keributan di luar ruangan langsung keluar bertepatan dengan Rian yang hendak merangsek masuk.


"Oh Dara ... Kebetulan sekali! Ayo kita bicara!" ujar Rian yang memegang tangan Dara dan menariknya keluar, dia memaksanya ikut walau Sophia berteriak.


"Rian ... lepaskan putriku!"


Dara berusaha menepiskan tangan Rian dengan ceoat namun Rian mencekalnya dengan kuat seraya membawanya terus berjalan menuruni tangga.


"Rian ... Apa yang kau inginkan?"


Rian menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahnya. "Kau dan anak itu yang menyebabkan semua rencanaku berantakan. Kau harus tanggung jawab!"


"Tanggung jawab. Apa maksudmu?"


"Jangan pura pura tidak tahu Dara! Pria brengsekk itu mengancam kami, apa kau juga tidak tahu itu?"


"Biru?"


"Itu bukan urusanku Rian. Kau saja yang tidak sanggup!" sentak Dara.


"Kau!"


"Apa ... Kau fikir aku takut. Aku gak takut padamu Rian, kau memang pengecut. Bahkan dari awal ... Kau tidak sadar itu?"


"Ingat Dara. Bagaimanapun juga anak yang kau kandung itu adalah anakku!"


"Oh ya ... Apa kau baru saja sadar atau kepalamu baru saja terbentur tembok Rian?" Dara berjalan naik kembali, dia tidak ingin peduli apapun yang di katakan Rian.


"Dara. Jangan memancingku!"


Rian menyusulnya dan kembali mencekal pergelangan tangannya dengan kasar.


"Lepas ... Kamu gak tahu diri! Kamu fikir ini di mana? Di jalanan ... Di hutan? Kamu fikir sikap kasar mu itu gak bikin aku muak. Aku beruntung karena kamu mengulur ngulur waktu sampai ayahmu bilang gak akan ada pernikahan di antara kita. Dan aku udah bilang kalau anak ini bukan anakmu!" Ucap Dara dengan menggebu gebu dan puas hati.

__ADS_1


Gadis itu kembali naik dan tiba dilantai 3 dimana ruangan ayahnya berada. Tapi Rian kembali menyusulnya dan menariknya dengan kasar.


Pria itu berjalan ke arah pintu lift, menekan pintu lift dengan kasar sementara Dara terus meronta ronta.


"Rian ... Kau jangan gila!"


Ting


Lift terbuka, dia membawa Dara masuk ke dalam dan segera menutupnya. Menekan tombol lantai dasar dan menghempaskan tangan Dara begitu saja.


"Aku memang gila Dara! Kau mau apa. Disini hanya ada kau dan aku. Saat aku bilang anak itu adalah anakku. Berarti itu adalah anakku, dan kau tidak bisa menolaknya!"


Rian menghimpit tubuh Dara, menguncinya hingga gadis itu kesulitan bergerak. Dan berusaha menciium bibirnya.


Dara menahan Rian, kedua tangannya menghalau wajah Rian dengan kuat, walaupun dia harus bersusah payah karena kuatnya Rian yang tengah dikuasai amarah.


"Kau memang gila Rian! Pergi ... Atau aku lapor polisi!"


"Kau fikir aku peduli Dara? Sudahlah tidak usah menolak, bukankah kau pernah melakukannya denganku?" Rian semakin mengunci tubuh Dara hingga tidak berjarak lagi.


Dara histeris, berusaha menendang dan menginjak kaku Rian sampai lift terbuka dan dia mendorong Rian sekuatnya dan langsung berlari keluar dari lift, sementara Rian menyusulnya dengan cepat.


"Dara!"


Mereka berada di lantai 4, dimana ruangan faviliun dan juga VVIP berada. Lorong itu juga sangat sepi dan tidak terlihat satu perawat atau Dokter bertugas di sana.


Dara terus berlari sampai ujung lorong dan sempat kebingungan mencari jalan sementara Ria sudah mengejarnya semakin dekat.


"Ayolah Dara! Kau memang pintar memilih tempat. Disini sangat sepi bukan?"


"Rian ... Kau benar benar gila!"


"Aku tidak akan segila ini kalau Biru juga tidak melakukannya dengan cara licik!" sahutnya saat lebih dekat.


Dara semakin berjalan mundur, dengan terus mencari apapun yang dia temukan dan melemparkannya pada Rian.


Sebuah asbak, vas bunga bahkan dia melemparkan sepatunya sendiri namun Rian selalu berhasil menghindar.

__ADS_1


Sampai seseorang menarik Rian dari belakang lalu menghempaskannya dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan brengsekk!"


__ADS_2