Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.67(Menguji kesabaran)


__ADS_3

"Asal Papa tahu kalau Biru itu adalah orang yang___"


Bruk!


Biru menendang Prasetya, menumpu kakinya pada tubuh pria yang memegangi tangan kirinya lalu berputar dan langsung menendang pria di sisi kanan. Sontak semuanya melihat kearah suara dengan hantaman kuat, terlihat Prasetya sudah ambruk tergeletak dilantai.


Rian sendiri tersentak dengan menatap gerakan Biru yang bersalto dengan cepat, sudah jelas jika gerakan seperti itu adalah gerakan yang di kuasai seseorang yang memiliki bela diri.


Dia langsung berusaha membangunkan sang ayah sementara Biru kembali menghantam kepala dan perut pria yang memegangi tangannya tadi hingga keduanya ikut roboh.


"Selama ini aku berusaha sabar terhadap kalian, tapi kalian selalu menguji kesabaranku." Biru menghentakkan jas miliknya, lalu meludah untuk membuang darah yang berada di sudut bibirnya. "Jangan kalian fikir aku lemah!"


Rian dan Prasetya bangkit berdiri, sementara dua pria meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.


"Kau memang brengsekk!"


Dara berlari ke arah Biru, berdiri didepannya dan berusaha melindungi Biru.


"Kalian akan nyesel kalau kalian terus berbuat jahat seperti ini. Kalian gak tahu___"


Biru segera mencegah Dara mengatakan apapun, dia masih memiliki rencana jahat untuk Rian dan Prasetya.


"Jangan katakan apapun Dara, lebih baik kau masuk saja."


Dara menoleh padanya, menatap wajah Biru yang babak belur. "Kenapa kamu biarkan mereka memukulmu? Bodoh banget...."


"Supaya aku bisa membalasnya berkali lipat nanti. Kau tunggu saja. Hm!"


Ucapan keduanya tentu saja tidak terdengar oleh Rian maupun Prasetya. Mereka masih memeriksa Prasetya yang jatuh tadi.


Rian kemudian mendorong tubuh Dara sedikit ke kiri, dan langsung merangsek kerah kemeja Biru. "Kau brengsekk. Berani sekali kau menyerang ayahku!"


Biru berseringai tipis, menatap Rian dengan tajam tanpa mengatakan apapun.


Drett


Drett

__ADS_1


Tiba tiba ponsel Prasetya berdering, dia langsung memeriksanya. Terlihat kedua matanya membola saat tahu siapa yang menghubunginya.


"Rian! Ayo pergi. Sesuatu yang besar menanti kita!"


Sontak Rian menoleh ke belakang dan menghempaskan Biru begitu saja.


"Awas saja kalau kau berani kemari lagi. Pergi sana!"


Prasetya dan Rian masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Baskoro dibelakangnya. Begitu juga dengan Sophia yang kembali menarik Dara, namun kali ini Dara hanya mengikutinya dengan pasrah. Terlebih saat Biru mengangguk. "Aku tidak akan membiarkan Rian menikahimu. Percayalah Dara!"


Biru masuk ke dalam mobil, menyusut darahnya yang berada di sudut bibirnya. Sesekali dia melihat ke arah rumah Baskoro.


"Hampir saja!"


Biru menoleh pada samping kiri, dengan suara pintu mobil yang terbuka. "Kau bilang hampir saja! Sedikit saja lagi, maka aku benar benar jadi perkedel Lex!"


"Itu salahmu ... Kenapa kau biarkan mereka memukulmu. Sebegitu kau buat lemahnya dirimu sampai babak belur seperti itu!"


Biru tertawa sedetik kemudian dia meringis karena perih. "Tidak seru kalau aku kalahkan mereka sekali pukul Lex. Kau tidak lihat Prasetya tadi?"


"Thanxs Lex ... Kau bisa aku andalkan!"


Sementara didalam rumah. Prasetya dan Rian tampak kegirangan melihat pesan yang mereka dapatkan.


"Bagaimana ini yah. Bukankah besok pagi aku akan menikahi Dara?"


"Sudah, itu bisa kita undur. Tapi ini tidak bisa, ini kesempatan kita yang lebih besar Rian. Kita urus pernikahan setelah bertemu dengan pimpinan G.G Corps!"


"Papa benar!"


Keduanya bicara berdua, sementara Baskoro dan Sophia hanya menunggu keduanya saja. Begitu juga dengan Dara yang terduduk lesu.


"Maaf Baskoro, kami harus mengurus sesuatu lebih dulu. Pernikahan besok kita undur saja ya!"


Baskoro terdiam, diam diam kecewa dengan keduanya yang terus mengulur ngulur waktu untuk bertanggung jawab pada putrinya. Tapi tidak bagi Dara, bibirnya melengkung tipis. Dia tahu ini bagian dari rencana Biru.


"Kenapa Pras. Bukankah kalian sendiri yang ingin mempercepat pernikahan menjadi besok. Lantas kenapa kalian mengundurkannya lagi?" ucap Baskoro.

__ADS_1


"Kau ingat saat aku bilang mega proyek. Kami akan mengurus hal itu dulu. Tapi tenang saja, pernikahan pasti akan tetap terjadi! Tenang saja Baskoro! Kita akan segera jadi besan." tambah Prasetya lagi dengan mengenakan mantelnya.


Keduanya akhirnya kembali pulang, setelah mendapat pesan jika pimpinan G.G Coprs meminta pertemuan dengan mereka besok pagi.


Dara bangkit dari duduknya, "Pap ... Aku tetap gak mau nikah sama Rian, apa Papa gak lihat gimana Rian dan ayahnya tadi? Mereka aja gak pernah ngehargain keputusan Papa, bukankah mereka yang mibta dipercepat, tapi mereka juga yang mengulur ngulur dan lebih mementingkan hal lain dibandingkan bertanggung jawab. Apa harusnya Papa curiga hal itu. Bukankah aku bilang kalau mereka yang justru manfaatin keadaan ini. Mereka manfaatin Dara dan Papa." Ucap Dara dan langsung melenggang pergi ke kamarnya sendiri.


Baskoro menghela nafas, mencoba mencerna apa yang di ucapkan Dara. Anak semata wayangnya memang di kenal pintar, mungkin hal itu juga yang dia lihat dalam hal ini.


"Bagaimana Pap?" tanya Sophia. "Apa kita akan diam saja seperti ini, sejak awal Rian memang terlihat mengulur ngulur waktu. Padahal pembatalan pernikahan sudah dari 1 bulan yang lalu, apa jangan jangan Dara benar?"


Baskoro menoleh pada sang istri, menatap wajahnya yang juga tengah menatapnya dengan manik manik hitam risau miliknya. Anak dan istrinya mungkin benar, dia juga merasakan hal itu, sikap Prasetya dan Rian yang selalu seenaknya saja.


"Kita tunggu sampai besok! Aku ingin tahu bagaimana sikap mereka. Aku penasaran dengan mega proyek yang mereka lakukan saat ini! Sepenting apa proyek itu sampai mengorbankan waktu pernikahan yang mereka sendiri minta percepat!"


Sophia akhirnya mengangguk, membatalkan semua vendor yang akan datang besok di hari pernikahan. Dan tentu saja dengan kerugian yang harus mereka tanggung sendiri tanpa melibatkan Prasetya dan Rian.


Hingga sampai keesokan pagi, Prasetya dan Rian sudah berada di kantor G.G Coprs lebih awal.


Mereka juga mempersiapkan segala sesuatunya agar pimpinan G.G Corps merasa senang, membawa buah tangan yang cukup mahal, juga beberapa bingkisan telah mereka siapkan untuk acara lobi melobi yang kerap mereka lakukan.


Tampak ruangan meeting dengan kursi berjejer panjang, meja panjang berada di tengah tengah yang sudah di tata sedemikian rupa.


Beberapa orang dari perusahaan lain juga datang, salah satunya adalah sekretaris Baskoro dari PT. Persadara utama.


Hampir semua kursi sudah terisi, semua undangan juga sudah hadir di sana. Mereka hanya tinggal menunggu pimpinan saja.


Detik demi detik berlalu dengan cepat, terlihat wajah wajah penuh harapan baru yang juga bercampur khawatir jika apa yang mereka siapkan tidak membuat orang G.G Corps puas.


"Mereka lama sekali!" cicit Rian tidak sabar.


Prasetya melirik jam tangannya. "Kita yang terlalu antusias dan datang lebih awal. Bersabarlah Rian!"


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, beberapa orang dengan jas hitam hitam rapi masuk dan duduk berjajar. Wajah mereka terlihat serius dengan tatapan tajam menyertainya.


Rian menatap satu persatu orang yang duduk tanpa tersenyum sedikitpun, mereka benar benar dingin.


"Yang mana pimpinannya! Apa yang tengah itu?"

__ADS_1


__ADS_2