Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.46(Kepergok)


__ADS_3

Hari semakin malam, dengan tergesa gesa Dara keluar dari hotel itu dan langsung menuju tempat mobilnya terparkir.


Drett


Drett


Ponselnya berdering, Dara menghela nafas saat melihat nama Rian tertera dilayar yang menyala itu dan mengabaikannya. Tapi Dara tidak tahu jika Rian berada di tempat yang sama dengannya, bahkan saat ini tengah melihat ke arahnya.


"Dara?"


Dara tahu betul siapa


Langkah Dara terhenti saat mendengar namanya di panggil dan ternyata Rian berdiri tidak jauh darinya.


"Mas? Maaf, aku gak keburu mengangkat telefon mas Rian.


"Tidak apa ... Sedang apa kau disini?"


Dara gelagapan, menggenggam kunci mobilnya dengan erat. "Mati ... Kepergok!" cicitnya pelan.


"Aku menemui teman lama," jawabnya dengan berbohong. "Mas sendiri lagi apa?" Dengan cepat Dara balik bertanya.


"Teman?" Dara mengangguk, "Oh aku mau menyusul papa yang sedang meeting."


Dara kembali menganggukkan kepalanya agar cepat selesai, dia ingin cepat cepat pergi dari sana.


"Kebetulan kamu ada di sini, bagaimana kalau kamu ikut denganku?"

__ADS_1


"Hah?"


"Ayo ... Papa pasti senang melihatmu di sini. Kau sudah makan malam?" ujar Rian lagi dengan menatap jam tangan di pergelangan tangannya.


Alih alih menolak dan cepat pergi, Dara memilih untuk ikut saja. Dia tidak ingin Rian merasa curiga sedikitpun jika dia baru saja bertemu Biru.


"Aku ... Aku sudah makan!" sahutnya pelan.


"Kalau begitu kamu temani aku ya," Rian menggenggam tangan Dara, namun dengan cepat Dara melepaskan genggamannya.


"Maaf Mas ... Aku mau ke toilet dulu!" ujarnya beralasan.


Rian mengangguk, dan kembali berjalan ke arah ruangan dimana ayahnya melakukan meeting kerja. Sementara Dara menuju ke arah toilet.


Gadis itu menghela nafas saat berada di salah satu bilik toilet, tanpa menduga bisa bertemu dengan Rian ditempat itu.


Rian masih menunggunya di depan pintu ruangan meeting, menunggu Dara agar mereka bisa masuk ke dalam sama sama.


Dan tiba tiba pintu terbuka, terlihat ayahnya beserta beberapa rekan bisnisnya berjalan keluar.


"Lho ... Kamu jadi menyusul Papa rupanya. Papa baru saja selesai."


"Iya Pa ... Aku sedang menunggu Dara yang ke toilet! Papa baru selesai meeting?"


Prasetya mengangguk, lalu melempar senyuman pada rekannya yang berdiri di sampingnya.


"Dia pasti putramu? Apa kabar?" ucap salah satu rekan Prasetya dengan mengulurkan satu tangannya.

__ADS_1


"Benar Pak ... Dia anak ku satu satunya!"


Rian menjabat tangannya seraya menganggukkan kepalanya sedikit saat memperkenalkan diri. "Rian Prasetya."


"Wah ... Kau gagah sekali!"


Semuanya tertawa, termasuk Rian yang juga ikut tertawa saja.


"Kau sudah menikah?" tanyanya lagi.


"Aku ...? Aku akan me--"


Prasetya melihat Dara yang berjalan pelan ke arahnya, dan membuat semua orang menoleh padanya.


"Nah itu calon menantu saya!" tunjuknya. Memberitahu rekan bisnisnya betapa dia bangga mempunyai calon menantu cantik dan juga pintar.


Terlebih anak orang kaya yang sedang mereka dekati dengan sempurna.


Walau sekejap saja melihatnya, namun Dara merasa tidak asing saat beradu tatap dengan seseorang yang berdiri dengan tegang.


Tapi itu tidak berlangsung lama ... Pria yang membuatnya penasaran itu pun pamit pergi dan menyalami semua orang.


"Sampai jumpa Pras!"


Pras mengangguk, mempersilahkan tamunya untuk pergi lalu menatap Dara. Namun gadis yang di tatap itu tengah sibuk menatap punggung 3 orang rekan bisnisnya.


"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana yaa itu tadi!" cicit Dara dengan gumaman saja.

__ADS_1


__ADS_2