
"Kau datang pada Biru dan memohon. Bujuk dia untuk segera berhenti mengusik perusahaan dan minta maaf padanya!"
"Apa. Jangan gila, mana mungkin aku melakukannya!" Rian jelas menolak usulan Ayahnya untuk menemui Biru dan meminta maaf."
Prasetya merasa kecewa dan marah karena Rian menolak usulnya untuk memohon pada Biru agar menghentikan G.G Corps dari menyelidiki perusahaan. Dia merasa bahwa Rian tidak memahami urgensi dan konsekuensi dari situasi ini. Dalam keadaan emosi yang memuncak, Prasetya mengungkapkan kemarahannya kepada Rian.
Prasetya semakin berang dibuatnya. "Rian, apa yang ada dalam pikiranmu? Aku telah memberikanmu kesempatan untuk menghentikan semua ini sejak awal kita menanda tangani surat perjanjian tenpo hari hanya untuk melindungi perusahaan dan masa depan kita sendiri. Kenapa kamu menolaknya mentah-mentah padahal kamu adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab!"
"Papa, aku tidak bisa melakukannya aku tidak bisa dan aku tidak mau. Aku tidak bisa memohon pada Biru untuk menghentikan G.G Corps. Lebih baik aku pergi dari pada datang padanya hanya untuk meminta maaf.!"
"Kau harus menghadapi konsekuensi tindakan mu sendiri. Papa, tidak ingin menghindar dari tanggung jawab kami."
"Tanggung jawab?" sentak Rian. "Dialah yang mengusik kita Papa. Kalau saja dia tidak muncul dan merusak semuanya. Aku pastikan kita sudah berhasil sekarang!"
"Apa yang kamu bicarakan? Ini bukan hanya tentang tanggung jawab pribadi, tapi tentang keberlangsungan perusahaan kita! G.G Corps sedang menggali seluruh penyelewengan yang terjadi di dalam perusahaan. Jika mereka menemukan lebih banyak bukti, kita bisa kehilangan semuanya! Kamu tidak mengerti urgensi situasi ini. Hah?" Prasetya menjadi murka dibuatnya, Rian benar benar lepas tangan.
Rian mendengus. "Papa, aku mengerti, tapi aku juga tidak mau menemuinya hanya untuk minta maaf. Lebih baik kita kabur saja. Hm ... Kita kabur ke luar negeri dan kembali setelah situasi membaik!"
Prasetya dibuatnya pusing 7 keliling, pria paruh baya itu mendekati putranya.
Plak!
__ADS_1
Prasetya melayangkan tamparan keras pada pipi Rian hingga tangannya sendiri bergetar hebat. Kemarahan jelas terlihat di wajahnya. "Apa kita hanya harus menghadapi kenyataan dan memperbaiki kesalahan. Menghentikan G.G Corps bukanlah hal mudah Rian!"
"Apa yang Papa lakukan. Apakah Kita harus belajar dari kesalahan kita dan membangun kembali perusahaan dengan integritas yang lebih baik? Apa Papa juga sanggup melakukannya?" Timpal Rian dengan rahang yang keras, menahan pipinya yang masih terasa perih!"
Prasetya kesal dan frustrasi dengan penolakan Rian serta ucapan Rian yang tidak tahu diri itu.
Dia merasa bahwa Rian tidak memahami betapa seriusnya situasi ini dan bagaimana dampaknya dapat merusak perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah.
"Kamu benar-benar tak tahu apa yang kamu lakukan, Rian. Kamu hanya berpikir tentang idealisme dan tidak melihat realitas di depan mata. Jika kamu tidak siap menghadapi konsekuensinya, maka jangan salahkan Papa jika kita semua runtuh!"
Rian merasa sedih dan terhina karena perkataan ayahnya. Dia merenungkan kata-kata Prasetya, menyadari bahwa mereka berdua memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana mengatasi situasi ini. Namun, dia tetap teguh pada keputusannya untuk tidak memohon pada Biru.
Prasetya hanya diam, meluapkan kekecewaannya dalam hati. Ia menyadari bahwa Rian telah membuat keputusan yang salah, meskipun itu berarti menentang usulnya. Mereka berdua kini terdiam, dengan suasana yang tegang mengisi ruangan.
Perdebatan mereka telah menciptakan kesenjangan di antara keduanya, berselisih faham dan tidak saling memberikan solusi.
Rian berjalan menuju kamarnya sendiri, mengambil koper miliknya di atas lemari lalu memasukkan pakaian pakaian miliknya ke dalam lemari.
"Apa yang kau rencanakan?" Prasetya mengikuti Rian menuju kamar dan melihat apa yang di lakukannya.
"Aku akan pergi ke luar negeri sampai semua aman. Papa juga, kita pergi sama sama! Semua ini akan redup seiring waktu dan kita bisa kembali!" ucapnya tanpa menghentikan aktifitasnya dan terus menjejalkan pakaian ke dalam koper.
__ADS_1
Prasetya jelas marah karena kembali mendengar usulan Rian untuk kabur ke luar negeri dan menghindari konsekuensi situasi yang sedang dihadapi oleh perusahaan. Dia merasa bahwa usulan itu adalah bentuk pelarian dan tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik.
Prasetya memijit pelipisnya. "Apa yang kamu bicarakan, Rian? Kabur dan menghindar? Kita tidak bisa melarikan diri dari masalah ini. Itu hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk. Satu satunya cara seperti yang Papa katakan pada mu sejak tadi! Apa kau tidak juga mengerti. Hah?"
Rian mengambil barang barang berharga miliknya dan memasukkannya ke dalam koper yang masih kosong. "Tapi, ayah, aku merasa ini adalah pilihan terbaik bagi kita saat ini. Jika kita tetap di sini, semuanya bisa hancur. Kita bisa menghindari risiko lebih lanjut dengan pergi sejenak dan kembali ketika semuanya sudah mereda."
Prasetya merasa terdesak dan bingung. Dia tahu bahwa memilih untuk kabur adalah menghindari masalah dengan masalah, namun pada saat yang sama, dia juga merasa terjepit dengan situasi yang sulit.
Prasetya menghela nafas. "Rian, aku tidak bisa menyetujui usulanmu untuk kabur. Itu tidak etis dan tidak bertanggung jawab. Kita harus menemukan solusi yang tepat dan menghadapinya dengan kepala tegak. Aku tidak akan melarikan diri dari masalah yang kau buat dan aku juga tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang akan membuat kita semakin bermasalah!"
Rian merasa kecewa dan frustasi karena ayahnya tidak memahami atau menerima usulnya. Dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit dan tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan.
"Papa. aku benar-benar percaya bahwa ini adalah langkah terbaik untuk melindungi kita. Tapi jika Papa tidak setuju, aku tidak tahu apa lagi yang bisa kita lakukan selain mungkin masuk penjara karena aku tetap tidak akan minta maaf pada Biru!"
Prasetya melihat keputus asaan dalam mata Rian, dan dia merasa bertanggung jawab untuk mencari solusi yang lebih baik lagi, menghindarkan anaknya kembali berulah. Dia menyadari bahwa saat ini, mereka perlu mencari bantuan dari pihak lain untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
"Rian, kita membutuhkan bantuan. Aku akan mencoba mencari jalan keluar yang lebih baik. Kita harus menghubungi pengacara atau konsultan hukum yang bisa membantu kita menangani situasi ini dengan seimbang. Kau jangan pergi dulu. Papa akan mencoba menghadapi masalah ini dengan kepala dingin."
Rian merasa sedikit lega mendengar saran ayahnya. Meskipun tidak sepenuhnya mendukungnya dalam perihal melarikan diri. Prasetya membuka pintu kamar Rian. Bagaimanapun juga Rian adalah putranya. Putra satu satunya.
"Tunggu di sini. Jangan kemana mana!"
__ADS_1