
"Dad ... Mam ... Apa kalian tidak malu ribut di depan Dara? Oh ayolah, jangan membuat aku yang malu karena ini Dad ...! Dua orang tua memalukan!"
Kedua orang tua Biru saling menatap lalu beralih menatap Biru.
"Maaf Dara, kedua orang tuaku memang aneh. Mereka berdua diam diam mencari tahu dan ingin mengenalmu. Kamu pernah bertemu wanita yang pura pura di kejar pencopet kan. Itulah Mami ..." terang Biru.
Sementara Dara hanya terdiam dengan menatap ke arah Agnia dan masih belum percaya.
Agnia mendudukkan dirinya di samping Zian. Lalu tersenyum pada Dara.
"Maaf Dara, tapi aku penasaran saja pada gadis yang membuat Biru berubah! Iya kan Dad?" ucapnya dengan menyenggol lengan Zian. "Biru putra kami satu satunya!" ucapnya dengan suara yang lebih serius.
Dara yang sejak tadi diam, lama lama merasa tidak enak juga. Dirinya penuh dengan ketakutan, takut jika kedua orang tua Biru tidak suka hubungan mereka.
"Apa kalian marah dan gak suka sama aku ... Karena aku juga sedang hamil tapi bukan anak dari Biru!?" cicit Dara dengan suara yang terbata bata dan penuh keraguan, "Tapi aku bisa jelasin kok ... Aku ... Aku, mnta maaf karena menyeret Biru dalam hal ini, aku tahu kalau aku salah, tapi aku sayang sama Biru. Dia memang bukan ayah anakku tap...."
"Kami tahu semuanya Dara, meskipun Biru tidak mengatakannya. Jangan khawatir karena kami akan selalu mendukung apapun keputusan Biru! Iya kan Baby?" kali ini Zian yang mengeluarkan kata kata, terdengar tegas tapi juga menghangatkan hati Dara.
"Itu benar, apapun yang menjadi keputusan Biru. Baik pekerjaan maupun pribadinya termasuk gadis pilihannya."
"Dan Daddy lihat kamu gadis baik! Hanya mungkin nasib mu yang kurang baik!" pungkas Zian, yang langsung disenggol Agnia.
"Dad!"
Biru tersenyum, menggenggam tangan Dara yang semakin basah. "Aku bilang juga apa, kedua orang tuaku tahu segalanya Dara!"
"Semuanya termasuk soal aku yang pernah menikahimu!"
Dara tersentak dan menoleh pada Biru yang mengangguk lirih. "Semuanya?"
"Ya ... Tentu saja semuanya, gak akan ada yang luput dari Mami and Daddy! Termasuk semua rencana busukmu!" sela Air pada Biru.
Biru hendak melemparkan bantalan sofa pada adiknya yang pengadu tapi tidak dia lakukan. "Apa yang kau maksud?"
Air berdecih melihatnya. Lalu bersembunyi di balik punggung ayahnya seraya menjulurkan lidah.
"Sudah cukup bicaranya! Kita makan dulu, aku sudah lapar." ucap Zian yang bangkit menggandeng sang istri dan juga Air.
__ADS_1
Membawanya ke arah meja bundar yang berisi macam macam makanan. Begitu juga dengan Biru yang mengajak Dara.
"Biru. Aku benar benar malu!" cicitnya.
"Astaga ... Apa yang membuatmu malu sayang, mereka saja tidak mempermasalahkan hal itu. Kamu tidak dengar apa yang mereka katakan tadi. Mereka mendukung segala apapun keputusanku termasuk aku yang memilihmu."
"Biru..." lirihnya.
"Ayo ... Jangan biarkan mereka menunggu."
Biru membawa Dara dan menyuruhnya untuk duduk, walaupun Dara masih tampak ragu dengan semua ini. Semudah itu keluarga Biru menerimanya sebagai gadis pilihan putranya tanpa ada embel embel sedikitpun. Merasa tidak pantas berhadapan dengan mereka yang tampak luar biasa, kehangatan dan juga keharmonisan sebuah keluarga yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Bahkan kedua orang tua Biru menerima kehamilannya tanpa syarat apapun lagi. Ini benar benar tidak masuk akal. Dara hanya mengambil makanan yang paling dekat saja, merasa canggung makan bersama mereka.
"Apa Dara tidak suka makanannya? Perlu Om ganti?"
"Daddy ... Harusnya kata kata itu diucapkan olehku!" pungkas Biru. "Daddy fikirkan saja iatri Daddy!"
Agnia menahan tawanya, dia menutup mulut seraya menatap ke arah Zian yang hanya bisa berdecak.
"Apa kau fikir aku akan merebutnya darimu. Istriku saja lebih cantik!"
Keduanya terus tertawa dengan sindirian itu sendiri, mengingat masa masa lalu keduanya.
Dara sendiri menjadi salah tingkah karena mereka semua, merasa tersindir dengan panggilan Om yang ternyata membuat mereka tertawa. Hanya Air yang fokus makan tanpa ingin peduli kedua orang tua dan kakaknya yang terus ribut.
"Apa aku salah ngomong. Harusnya aku panggil Daddy mu apa. Katakan Biru jangan bikin aku malu!" bisik Dara pada Biru.
"Tidak ... Mereka hanya sedang bernostalgia. Kau tahu Dara jarak usia keduanya sangat jauh. Mami dulu panggil Daddy dengan sebutan Om. Mungkin mereka ingat itu saat kamu memanggil Om tadi."
"Benarkah? Jadi aku gak salah ucap?"
"Sama sekali tidak!"
Dara sedikit lega mendengarnya, setelah masalah nama Air yang membuatnya malu, juga panggilan Om yang membuatnya takut salah.
"Biru ... Apa kamu tidak kasian pada Dara?"
__ADS_1
Biru menatap Sang ibu, dan mengernyitkan dahi karena ucapannya. "Berikan lauk itu, kamu tidak lihat Dara kesulitan mengambilnya?"
Biru tersenyum, mendongkak lalu mengambil ikan dan meletakkannya di atas piring Dara.
"Mami sengaja pesan untukmu!" pungkasnya
Dara diam diam melirik ke arah Agnia yang tengah memilih milih daun bawang di piringnya, tak lama Zian mengambil daun bawang dan meletakkannya di piringnya sendiri, memberikan bagian daging ikan salmon pada istrinya.
Dara juga melihat saat Zian melakukan hal yang sama pada Air, memberikan bagian miliknya yang penuh daging dan mengambil daun bawang dari atas piringnya. Sementara Biru terlihat sibuk memoting dagung salmon diatas piring milik Dara.
"Dara ... Makanlah!"
Benar benar keluarga yang hangat, aku iri melihat kedekatan dan segala perhatian mereka. Padahal mereka sama sama orang kaya raya dan pasti sangat sibuk. Tapi begitu memperhatikan satu sama lain. Batin Dara.
Merasa iri dengan kehangatan keluarga orang lain saat orang tuanya sendiri tidak pernah melakukannya.
"Dara ... Makanlah!"
Untuk kedua kalinya Biru mengatakan hal yang sama sebab Dara terlihat hanya diam melamun saja. Sampai gadis itu sadar yang mengambil sendok miliknya.
"Jangan banyak fikiran, ingat kau hanya perlu memikirkan tentang aku saja hm?"
Dara mengangguk, entah harus mengatakan apa. Biru benar benar seseorang yang dikirimkan untuk menjadi pelipur lara nya. Entah bagaimana hidupnya jika dia tidak bertemu dengan Biru.
Sampai acara makan makan berakhir, semua makanan di piring masing masing telah bersih.
"Kak Dara suka nonton gak?" celetuk Air.
"Nonton? Suka sih!"
"Temani aku nonton yuk, jujur aja semenjak di sini aku gak punya temen!" dengusnya. "Yuk ...!"
"Hm ... Boleh, mau nonton apa?" tanya Dara yang mulai merasa rilexs.
Air mengerdik, "Aku gak tahu juga mau nonton apa!"
Biru mendengus, "Kalau tidak tahu, lebih baik kau pulang, cuci kaki langsung tidur!"
__ADS_1
Dara terkekeh, benar benar merasa diterima di keluarga Biru dengan segala kekurangan dan juga kelemahannya. Membuat hatinya hangat sekaligus bahagia.
"Air jangan dengarkan kakakmu ... Aku tahu film yang bagus."