Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.59(Maafkan Papa)


__ADS_3

Hari hari berlalu dengan cepat, kondisi kesehatan Baskoro pun semakin baik, ditangani oleh beberapa dokter ahli. Sophia terus berada di rumah sakit untuk mendampinginya. Sementara Dara masih sering bulak balik ke rumah.


Kondisi perusahaan Baskoro yang mengalami kesulitan berangsur membaik, dengan campur tangan orang orang terbaik di G.G Corps dari luar negeri.


Dan kemampuan berbisnis Biru semakin baik saja, dia berhasil dalam beberapa proyek besar tanpa bantuan ayah dan ibunya.


Pagi itu, terjadi keributan di perusahaan milik Baskoro yang sedang mencoba bangkit dari keterpurukan. Prasetya menuntut ganti rugi karena kerja sama mereka terbengkalai akibat bergeseran kekuasaan sementara karena Baskoro masih belum juga pulih.


Sahamnya memang tidak besar, tapi dia berkuasa karena menduduki kursi Direksi.


Pemilik saham yang terdiri lebih dari 4 orang, Baskoro masih memiliki saham paling besar, sementara G.G Corps memiliki setengah dari saham keseluruhan dan sisanya adalah milik Prasetya dan kumpulan serikat pekerja yang memiliki saham lebih kecil di sana.


Hal itu jelas membuat gerak geriknya Prasetya terlihat, ditambah G.G Corps mengirimkan staff terbaik G.G Corps untuk di sana. Hingga Dewan direksi selalu meminta data transfaran pada semua divisi saat mereka meeting maupun mengevaluasi kinerja dan kerap kali meremehkan Prasetya.


"Mereka fikir mereka siapa!" serunya saat keluar dari ruangan meeting.


Rian menariknya keluar, menghindari keributan yang akan terjadi jika ayahnya di biarkan begitu saja.


"Pap ... Kita harus segera menemui pimpinan G.G corps dan minta dukungannya agar para cecunguk cecunguk luar negeri itu tidak membuat ulah!"


"Kau benar, mereka hanya staff biasa dari perusahaan asing yang kita saja tidak tahu. Tapi sebelum kita ke sana, kita harus pergi menemui Baskoro di rumah sakit.


Karena untuk keberapa kalinya rencana Prasetya gagal, dewan direksi tidak pernah mendukung apapun yang jadi rencananya. Membuatnya kesal dan langsung mendatangi rumah sakit, dia langsung masuk saat di ruangan hanya ada Baskoro seorang.


"Pras?"


"Aku lihat keadaanmu semakin baik! Jangan terlelu lama di rumah sakit, kau tahu apa yang terjadi di perusahaanmu. Bisa bisa kau kehilangan semuanya!"


"Apa maksudmu Pras?"


"Kau menjual saham perusahaanmu begitu saja. Orangmu juga tidak mengabariku dan kau tahu apa. 20 % terbesar telah di miliki perusahaan asing sekarang. Kau tidak takut mereka me merger perusahaan yang hampir bangkrut karena mereka terlalu ikut campur! Aku kehilangan kendaliku di sana Baskoro!"


Baskoro tidak dapat menjawabnya dengan baik, dia sudah mengerahkan seluruh fikiran dan tenaganya di perusahaan itu dan bersyukur saat tahu G.G Coprs menyelamatkan perusahaannya secara tidak langsung.


"Kau ingin aku lakukan apa Pras?"

__ADS_1


"Kau kehilangan kendali karena kau terlalu lemah Baskoro, harusnya kau katakan padaku sebelum kau menjualnya pada orang lain!"


"G.G Coprs, mereka yang membeli saham 20 % itu!"


"Apa kau bilang? G.G Corps. Sejak kapan?"


"Entahlah ... Sekretarisku yang mengurusnya. Mungkin sejak aku masuk rumah sakit, bukankah itu satu bentuk penyelamatan Pras?! Umur tidak ada yang tahu, aku tidak sadarkan diri dan sekretarisku hanya menjalankan tugasnya saja."


Prasetya terdiam, bukan karena ucapan Baskoro tentang sakitnya atau penyelamatan yang dia maksudkan. Tapi soal siapa yang membeli saham dan sok berkuasa sekarang. Saat itu tepat saat dirinya dan juga Rian pergi ke kantor G.G Coprs, namun pihak sana membatalkan janji dan sampai hari ini tidak ada kabar perubahan jadwal meeting.


Sialan ... Ternyata mereka lebih mendahulukan perusahaan yang hampir bangkrut dan mengabaikanku! Padahal aku sudah menunggu lama. Batin Prasetya.


"Baskoro. Kau harus jual sahammu lagi padaku, agar sahamku bertambah di sana!"


"Maaf Pras ... Itu tidak mungkin aku lakukan, sahamku saja hanya 40 % dan aku bisa kehilangan semuanya. Maaf Pras aku tidak bisa menjualnya lagi." ucap Baskoro yang masih lemah itu.


Sophia baru saja masuk dan tidak sempat mendengar percakapan mereka. Prasetya pergi begitu saja saat melihat Sophia.


"Kenapa Prasetya Pap?"


"Tidak ada apa apa. Dia hanya menengok Papa saja. Dara mana?"


Baskoro mengangguk, "Kapan aku bisa pulang? Aku sudah bosan di sini! Dan biaya rumah sakit juga pasti sudah membengkak!"


"Dara yang mengurusnya kemarin, Mami tidak sempat bertanya. Tapi sepertinya tidak ada masalah, Papa harus segera sembuh ya!"


Semenjak sakit, Baskoro terlihat lebih tenang. Dia tidak sekeras biasanya pada Istri dan anaknya. Tidak lama kemudian Dara masuk, menenteng tas miliknya dan beberapa jurnal.


"Kau sudah pulang. Dara?"


"Pap ... Gimana, udah lebih baik?"


Baskoro mengangguk, menggenggam tangan Dara yang langsung menghampirinya.


"Oh ya ... Papa tahu kalau G.G Coprs yang beli saham terbanyak di perusahaan Papa?"

__ADS_1


Baskoro kembali mengangguk, "Tahu ...! Sekretaris Pap sudah beritahu Papa kemarin."


"Papa tahu orang orang dari G.G Coprs?"


Kali ini Baskoro menggelengkan kepalanya, "Perusahaan itu perusahaan besar, jaringannya juga sangat luas yang memiliki pusat berada di luar negeri. Dan jarang yang bisa menembus ke sana. Susah, mereka sangat selektif."


Dara tercengang mendengarnya, jika mereka seperti itu lalu bagaimana caranya mereka akhirnya mau membeli saham perusahaan kecil milik keluarganya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Dara menggelengkan kepalanya, "Kalau kayak gitu apa Papa masih terus bergantung pada keluarga Rian?"


Baskoro mengulas senyuman, "Kenapa kau bertanya seperti itu. Bukannya memang seharusnya Rian membantu?"


Dara terdiam, tidak bagus bagi Baskoro jika dia terus mendesaknya.


"Dara ... Maafkan Papa, Papa egois dan tidak memikirkan perasaanmu! Dan Papa berharap Rian segera menikahimu, Papa baru sadar setelah Papa berbaring lemah dan tidak berdaya sekarang ini. Papa terlalu egois padamu!"


Dara tersenyum, sekian lama tidak mendengar perkataan yang lembut dan membuat hatinya hangat dari sang ayah.


Dara terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah yang terbaringm "Papa jangan banyak fikiran, cepat pulang karena aku gak tahan bau obat!"


Sementara Prasetya keluar dengan kesal, dia merasa di permainkan oleh perusahaan besar yang berbasis di luar negeri itu, menganggapnya kecil sementara langsung turun tangan pada perusahaan milik Baskoro yang kala itu hampir dia dapatkan dengan mudah.


Prasetya langsung menghubungi pihak G.G Coprs dan bertanya kapan mereka bisa menjadwalkan ulang meetingnya terkait kerja sama mereka.


Namun pihak G.G Corps tidak memberikan keterangan yang pasti pasti saja padanya, hanya menunggu intruksi pimpinan saja.


Prasetya benar benar kesal dan memilih kembali ke perusahaannya. Pria paruh baya itu masuk ke dalam ruangannya, di ikuti oleh Rian.


"Bagaimana Pap. Kapan mereka akan menemui kita? Aku sudah tidak sabar lagi!"


"Mereka masih tidak memberikan jawaban pasti! Dan kau tahu Nak, mereka juga membeli saham Baskoro!"


"Hah?"

__ADS_1


Prasetya menghempaskan tubuhnya di sofa, sementara Rian maish berdiri dengan menatap dirinya, berulang lagi mencerna ucapan Ayahnya.


"Kau harus segera menikahi Dara, dengan begitu kita akan aman!"


__ADS_2