
"Cucuku yang tampan! Lihatlah Dara, dia sangat lucu sekali...."
Sophia menyadari sikap dingin Dara meskipun dia mengakui kehadiran bayi itu mulai menghangatkan hatinya. Dara masih merasa canggung dan terkadang sulit untuk mengekspresikan emosinya dengan tulus.
"Dara, Mami tahu bahwa perubahan ini mungkin sulit bagimu," ucap Sophia dengan lembut. "Tapi percayalah, dengan waktu, ikatan antara ibu dan anakmu akan semakin kuat. Kau akan merasakan cinta yang tumbuh dalam dirimu dengan lebih dalam."
Dara menatap sang ibu dengan tatapan campuran antara keraguan dan harapan. Dia merasakan adanya dorongan dari dalam hatinya untuk mencoba terbuka dan menerima perubahan yang terjadi.
"Aku akan mencoba, Mami," ucap Dara perlahan. "Mungkin aku hanya butuh waktu untuk benar-benar merasakan ikatan ini, tapi aku akan berusaha."
Sophia tersenyum penuh pengertian. "Itu semua yang bisa kita usahakan Dara. Memberikan kesempatan pada dirimu sendiri dan membiarkan cinta mengalir secara alami. Bayi itu membawa keajaiban dalam hidupmu, percayalah."
Dara mengangguk, melihat ibu nya sendiri kini luluh dan berubah. Nada nada pedas dari mulutnya kini jarang dia dengar. Dara mencoba melibatkan dirinya dalam momen yang ada di hadapannya. Dia menyadari bahwa proses ini tidak akan mudah, tetapi dia berjanji untuk membuka hatinya dan memberikan yang terbaik bagi bayi yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.
Saat itu, Dara melihat bayi itu tersenyum dalam tidurnya, dan sedikit demi sedikit, hatinya mulai menghangat, mengisi ruang yang kosong dengan cinta yang baru dan tak tergantikan. Karena hanya melihat senyumannya saja, Dara ikut tersenyum.
Dokter anak pun masuk ke dalam ruangan, dan tersenyum melihat kondisi Dara yang semakin baik.
Dara, yang merasakan dorongan yang kuat untuk mendekat pada bayi tersebut, dia melihat saat Dokter dengan cekatan memeriksa putranya.
" Halo Dok, apakah saya bisa menggendongnya?" ucap Dara pada dokter yang berdiri di sampingnya dengan ragu.
Dokter mengangguk dengan senyum lembut. "Tentu saja, Dara. Anda sebagai ibunya memiliki hak dan keistimewaan untuk merasakan sentuhan hangatnya dalam pelukan Anda."
Dara merasakan hatinya berdebar-debar dengan campuran kegembiraan dan kekhawatiran. Hatinya berbicara padanya untuk memberikan cinta dan perhatian pada bayi itu, tetapi dia masih merasa tidak yakin dengan kemampuannya sebagai ibu.
"Dokter, saya merasa sedikit canggung. Apa aku akan tahu caranya gendong bayi dengan benar?" tanyanya dengan suara rendah.
Dokter dengan lembut meletakkan tangan di punggung Dara untuk memberikan dukungan. "Jangan khawatir, Dara. Anda tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kami akan membantu Anda dan memberikan panduan tentang bagaimana menggendong bayi dengan aman dan nyaman. Anda akan belajar, dan seiring waktu, semakin percaya diri."
__ADS_1
Dara tersenyum lega mendengar kata-kata dokter. Dia menyadari bahwa proses menjadi ibu adalah pembelajaran yang terus menerus, dan dia akan mengambil langkah pertamanya dalam menggendong bayi itu dengan penuh cinta, begitu juga dengan sang ibu yang berada di sampingnya.
"Dokter, terima kasih," ucap Sophia dengan tulus. "Seiring waktu Dara pasti siap. Dia akan siap untuk mencoba. Semoga maklum ya Dok!"
"Tentu Nyonya ... Hubungi dokter jika merasa kesulitan dan kami akan senantiasa membantu. Aku yakin Dara bisa memberikan yang terbaik untuknya."
"Ya Dok ... Semoga aku bisa!"
Dokter mengangguk memberikan semangat pada Dara. "Anda sudah melakukan yang terbaik, Dara. Bersiaplah untuk mengalami momen yang indah dan berharga bersama anak Anda."
Dara, dengan hati yang penuh harap, akhirnya mengulurkan tangannya dan dengan lembut menggendong bayi itu. Dia merasakan kehangatan kecil di dadanya saat bayi itu merespons dengan kelembutan dan ketenangan.
Saat itu, Dara menyadari bahwa dia mungkin masih memiliki banyak hal untuk dipelajari dalam peran barunya sebagai ibu, tetapi ada satu hal yang dia tahu dengan pasti cinta sejatinya terhadap bayi itu tidak akan pernah berhenti tumbuh, dan dia akan melakukan segalanya untuk melindungi dan mencintainya dengan sepenuh hati walau sejak awal Dara sulit menerima apa kehadiran anak itu hadiah ataupun musibah.
Dara, yang masih merasa ragu dengan keadaan bayi yang berada di inkubator, mengajukan pertanyaan lagi pada dokter. Dia benar benar tidak tahu apa apa.
"Dokter, apa bisa bayi ini keluar dari inkubator? Apakah gak apa-apa untuk kesehatannya?" tanyanya dengan kekhawatiran.
Dara memahami penjelasan dokter, tetapi masih merasa khawatir. "Tapi apakah gak lebih baik bagi bayi kalau dia? Apakah dia akan merasa nyaman di inkubator?"
Dokter menjelaskan dengan lembut, "Dara, inkubator dirancang untuk memberikan kondisi yang optimal bagi bayi saat ini. Inkubator dilengkapi dengan teknologi yang memantau suhu, kelembaban, dan tingkat oksigen yang diperlukan bayi. Ini membantu memastikan bahwa bayi mendapatkan perawatan yang tepat dan aman. Selain itu, inkubator juga memberikan privasi dan keamanan bagi bayi dari rangsangan eksternal yang berlebihan."
Dara merenung sejenak, mengerti alasan di balik keputusan dokter. Dia menghargai keahlian dan perhatian yang diberikan oleh tim medis untuk memberikan perawatan terbaik bagi bayi itu.
"Dokter, maafkan aku karena banyak bertanya. Dan aku percaya pada keputusan Anda. kalau itu yang terbaik untuk bayi ini, maka aku akan mendukungnya. aku ingin bayi ini tumbuh dengan sehat dan kuat," ucapnya dengan tekad.
Dokter tersenyum mengapresiasi kesadaran dan pengertian Dara. "Anda adalah seorang ibu yang peduli dan bijaksana, Dara. Bersabarlah dan terus memberikan dukungan pada bayi ini. Ketika waktu yang tepat tiba, bayi akan keluar dari inkubator dan Anda bisa mendekapnya dengan penuh kasih sayang."
Dara merasa sedikit lega mendengar kata-kata dokter. Meskipun masih ada rasa khawatir, dia mempercayai bahwa keputusan terbaik telah diambil untuk kepentingan bayi itu. Ketidak peduliannya pun kian memudar, dia merasa dekat saat mendekat bayi mungil itu. Kedua matanya terus menatap bayi yang menggeliat dalam tidurnya. Dia berjanji untuk terus mendukung dan mencintai bayi itu sejauh yang dia mampu, baik itu dalam atau di luar inkubator.
__ADS_1
Dokter dapat melihat keraguan dan keinginan Dara. Dengan penuh kelembutan, dokter yang merawat sang putra itu menyentuh lengannya. "Dara, apakah Anda ingin segera bisa pulang bersama bayi ini?"
Dara, yang merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, berpikir sejenak. Dia tidak pernah menyadari ataupun berfikir ke arah sana.
Dara tidak menjawab, namun dia terlihat berharap, melihat Dara terdiam dengan kebimbangan. Sophia pun berinisiatif untuk menjawabnya. "Dokter, tentu saja Dara ingin segera bisa pulang bersama bayi ini. Dara tidak sabar ingin memberikan perhatian dan kasih sayang sepanjang waktu untuknya. Tetapi mungkin juga Dara juga mengerti bahwa bayi ini masih membutuhkan perawatan khusus di sini."
Dokter menganggukkan kepala, memahami perasaan Dara. "Ya ... Tentu, Dara pasti masih bingung dan cemas. Saya menghargai keinginan Anda, Dara. Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan bahwa bayi ini tumbuh dengan baik dan memperoleh keadaan yang stabil. Tim medis akan terus memantau perkembangannya. Ketika bayi ini siap pulang, kami akan memberi tahu Anda dengan segera."
Sophia merasa sedikit lega mendengar jawaban dokter. Dia menggenggam tangannya, menguatkan hati Dara dan meyakinkannya. Dara merasa diberikan harapan dan keyakinan bahwa suatu saat nanti, mereka berdua akan bisa pulang bersama dengan keadaan yang lebih baik.
Meskipun masih harus bersabar, Dara siap memberikan dukungan dan kasih sayang sebanyak yang dia bisa selama proses perawatan ini.
"Dokter, terima kasih atas perhatian dan upaya yang Anda berikan. Aku akan lebih siap melalui proses ini dengan sabar dan berharap untuk hari ketika kami bisa pulang bersama," ucap Dara dengan tekad dan lebih semangat.
Dokter tersenyum lembut, "Anda adalah seorang ibu yang kuat, Dara. Bersabarlah dan teruslah memberikan kasih sayang pada bayi ini. Kami akan bekerja sama untuk memastikan kesehatannya. Jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan jika Anda membutuhkannya."
Dara merasa terhibur dengan dukungan dan perhatian dari dokter. Dia merasa lebih mantap dalam menghadapi perjalanan ini, mengetahui bahwa dia tidak sendirian. Dia bertekad untuk tetap kuat dan memberikan yang terbaik bagi bayi itu, sambil menunggu dengan sabar waktu mereka untuk pulang bersama tiba.
Dara terus menatap putranya yang masih tertidur, "Dara, Anda sangat beruntung memiliki suami seperti Biru. Saya melihat dukungan dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Biru kepada Anda sepanjang perjalanan ini." kata Dokter yang melihat sendiri bagaimana perjuangan Biru untuk Dara.
Dara tersenyum mengangguk, merasakan kebahagiaan dalam hatinya. Dia merasa bersyukur atas kehadiran Biru di sisinya dalam momen-momen yang sulit seperti ini. "Biru tampak sangat perhatian dan penuh kasih sayang terhadap Anda dan bayi ini. Dalam situasi seperti ini, memiliki seseorang yang mendukung dan peduli adalah hal yang sangat berarti. Ini dapat memberikan kekuatan dan ketenangan bagi Anda selama perjalanan ini." lanjutnya lagi.
Dara mengambil napas dalam-dalam, merenungkan kata-kata dokter. Dia merasa terhibur dan diingatkan akan pentingnya dukungan emosional dari pasangan dalam menghadapi situasi yang sulit terlebih situasi mereka.
"Dokter benar, aku sangat bersyukur memiliki Biru di sisiku. Dia bukan hanya memberikan kekuatan dan dukungan yang tak ternilai bagiku. Tapi segalanya. Kami akan melalui perjalanan ini bersama-sama," ucap Dara dengan tulus.
Dokter tersenyum penuh pengertian, "Saya senang mendengarnya, Dara. Teruslah mendukung dan saling menguatkan satu sama lain. Jangan ragu untuk berbagi perasaan dan kekhawatiran dengan Biru. Komunikasi yang baik adalah kunci dalam menghadapi tantangan ini bersama-sama."
Dara mengangguk, memahami pentingnya komunikasi dalam hubungan mereka. Dia berjanji untuk terus berbicara dengan Biru dan saling mendukung dalam menghadapi perjalanan ini.
__ADS_1
Dokter memberikan senyuman terakhir sebelum meninggalkan ruangan, meninggalkan Dara dengan pikiran yang lebih positif. Dalam hati, Dara bersyukur atas kehadiran Biru dan berkomitmen untuk terus membangun hubungan yang kuat dengan suaminya saat mereka melangkah maju dalam perjalanan menjadi orangtua.
Sophia mengangguk seraya melihat Dokter yang terus berjalan pergi. "Dokter saja bisa menilai sebaik apa Biru padamu dan Anakmu Dara!"