
"Apa maksudmu? Biru sama saja dengan Rian, mereka sama sama brengsekk Dara!"
"Enggak Pap ... Papa salah. Selama ini Birulah yang membantu Papa!"
Baskoro terbeliak sempurna, "Dara ... Apa maksud perkataanmu?"
Dara menghela nafas lagi, yang terbaik memang mengatakannya. "Biru bukanlah seperti yang kita kira Pap. Biru memiliki perusahaan. Dan Birulah yang membeli saham perusahaan Papa, Biru juga yang melunasi biaya rumah sakit tempo hari dan hari ini juga. Aku udah menjual barang dan juga mobilku tapi Biru membelinya dan mengembalikannya padaku. Sebagai gantinya dia membayar lunas biaya rumah sakit."
Baskoro terperanjat, dia bahkan tidak bisa menduganya sama sekali.
"Biru juga yang akan bertanggung jawab atas anak ini Pap. Jadi Dara mohon sama Papa ... Izinkan Dara bersama Biru. Dia pria paling baik yang pernah Dara temui."
Baskoro masih terdiam, terlebih saat Dara menggenggam tangannya. "Dara merasa Biru memang yang terbaik buat Dara Pap! Jadi Papa jangan pernah minta Rian untuk bertanggung jawab lagi, jangan Pap ... Apalagi Papa harus mengemis sama Rian dan ayahnya. Dara gak mau itu Pap!"
Baskoro menatap Dara yang kini berlinangan air mata, tanpa terasa air matanya juga luruh tanpa diminta. Genggaman tangannya mengerat menggenggam tangan putri semata wayangnya.
"Benarkah itu Dara?"
Dara tersenyum lalu mengangguk lirih. "Iya Pap ... Biru yang kita fikir seorang penipu dan hanya ingin manfaatin keadaan Dara. Padahal sejak awal Dara lah yang salah. Dara juga salah menilai Biru sampai hari kemarin Dara tahu semuanya. Dia anak dari pemilik G.G coprs Papa ...! Dia juga yang membuat Dara sadar kalau sebenarnya Rian tidak benar benar ingin bertanggung jawab sama Dara."
"Dara ...! Maafkan Papa Nak ...!"
Dara menggelengkan kepalanya. Lalu memeluk ayahnya dengan erat. Juga mengelus dada nya.
"Maafin Dara juga Pap ... Kalau aja gak ada kejadian ini, mungkin hidup kita gak akan kayak gini. Maafin Dara ya Pap!"
Keduanya menangis seraya berpelukan, Dara merasa lega karena memberitahu kan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya hingga mereka tidak lagi berfikir buruk pada Biru.
"Papa ingin bertemu anak itu ... Maksudnya Biru!"
Dara mengangguk. "Tapi setelah Papa sembuh yaa,"
Entah apa yang kini di rasakan Baskoro, tapi yang jelas dia benar benar salah menilai Biru jika semua yang dikataka Dara itu benar.
Tak berselang lama, sekretarisnya datang dengan beberapa orang dari notaris juga. Dara pun keluar dan meninggalkan ruang inap.
"Bagaimana keadaan kantor?"
"Sampai saat ini berjalan lancar Pak Bas, perusahaan tidak lagi mengalami kesulitan. Staff dari G.G Coprs datang setiap hari untuk mengevaluasi dan juga mengaudit. Mereka benar benar membantu, bukan hanya membeli saham dan lepas tangan tapi memperbaiki perusahaan. Aku juga kemari karena membutuhkan tanda tangan untuk kerja sama. Perusahaan sekarang banyak mendapatkan proyek besar itu karena mereka."
__ADS_1
Baskoro terdiam, benar benar merasa malu jika memang Biru lah yang membantunya. "Kau sudah bertemu langsung pihak G.G Coprs sekretaris Ho?"
Sekretaris Ho mengangguk, "Sudah Pak ... Beliau masih muda untuk ada di posisinya sekarang, tapi kemampuannya bisa di perhitungkan, G.G Coprs milik keluarga Maheswara. Semua orang tahu hal itu! Hanya saja katanya mereka baru saja pindah dari luar negeri, tepatnya anak sulung mereka yang mengurus perusahaan G.G coprs indonesia!"
Baskoro termangu, nama Maheswara memang sudah terkenal sejak lama, keluarga pembisnis handal dan ternama. Juga masuk jajaran pembisnis terhebat seasia. Tapi dia benar benar tidak sadar jika Biru adalah keturunan Maheswara.
Baskoro jadi ingat saat pertama kali Dara yang kabur hari ini dan diantar pulang oleh seorang pria dimalam hari.
Dia marah besar saat itu, bahkan hampir memukuli putrinya dan Biru yang menghalanginya. Menduga jika Birulah yang menghamilinya saat itu. Menuduhnya tanpa bukti pula.
'Jadi benar itu kau! Kau yang menghamili putriku. Siapa kau hah?'
'Aku....'
Baskoro dapat mengingat wajah Biru dengan jelas, wajah polos dan sedikit kaget melihatnya murka sampai dia memukulnya keras karena emosi yang memuncak.
Bugh!
Ujung bibirnya terluka berdarah, namun Biru tetap melindungi Dara.
'Katakan siapa kau! Akan aku bunuh kedua orang tua sekalian karena telah gagal mendidik anaknya!'
'Aku ... Biru Sagara Maheswara!'
Baskoro memejamkan kedua matanya saat teringat Biru menyebutkan namanya dengan sangat jelas, namun dia sama sekali tidak menyadarinya saat itu.
"Apa namanya Biru?"
Sekretaris Ho terkesiap. "Apa Pak Bas sudah tahu?"
Baskoro terdiam lagi dengan menatap nanar ke arah sekretaris Ho yang berdiri di depannya.
Jadi Dara benar, Birulah yang membantu perusahaan, bahkan dia membuat perusahaanku bangkit kembali. Batinnya bicara.
Baskoro mengangguk, lantas menanda tangani berkas yang di berikan oleh Sekretaris Ho padanya. Dia sudah tidak ragu lagi jika memberikan tanda tangan karena yakin pada apa yang di ucapkan Dara.
Setelah sekretarisnya pergi, Dara kembali masuk. Kali ini Sophia pun ikut masuk. Wajah Baskoro teelihat lebih ceria dari sebelumnya.
"Apa yang terjadi Pap?" tanya Sophia.
__ADS_1
Namun Baskoro justru menatap ke arah Dara. "Dara ... Terima kasih sayang, semua berkat dirimu. Papa sekarang merasa sehat kembali!"
Dara tersenyum, sementara Sophia mengernyit tidak mengerti.
"Pap ... Dara ada apa?"
Namun keduanya tidak ada yang berani membuka mulut, namun Dara memeluk sang Ibu.
Sementara di tempat lain, Biru di sibukkan dengan segala macam pekerjaannya. Banyak kerja sama yang harus dia urus juga termasuk dengan perusahaan Prasetya.
"Apa kau tidak salah mengambil keputusan Bi? Sepertinya kerja sama ini sangat menguntungkan bagi mereka! Aku kesal melihatnya."
"Kau tenang saja Lex, kita mungkin memberikan mereka peluang yang lebih besar. Tapi jika mereka tidak sanggup menjalankannya maka semua akan sia sia dan percuma! Kau tahu jika mereka sangat ambisius ... Dan itu akan menjadi kelemahan mereka sendiri. Bukankah aku tidak perlu menghancurkan mereka? Aku hanya akan menunggu mereka hancur dengan sendirinya!" terang Biru, satu alasan yang membuatnya memberikan mereka apa yang mereka inginkan.
"Kau selalu penuh keyakinan!"
"Tentu saja Lex ... Kau tahu aku bukan!"
Alex menghempaskan tubuhnya di sofa, rasa lelah akan kesibukan pekerjaannya yang luar biasa. Namun Biru benar benar bersemangat, dia sangat antusias terlebih jika ada laporan dari orangnya mengenai perusahaan Prasetya Daya Utama.
"Ayahmu akan mengadakan sebuah pesta pertemuan sebelum kembali ke luar negeri!" cicit Alex yang memeriksa jadwal di ipadnya seraya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Benarkah? Aku selalu jadi orang terakhir yang diberi tahu!"
"Hm ... Semua akan berkumpul. Dia juga bertanya apa kau ingin mengundang orang?"
Biru berdesis seraya menghempaskan tubuhnya. "Kau atur saja, yang pasti undang juga Rian dan Prasetya,"
"Ahk ... Kau hanya akan bermasalah!"
"Tidak ... untuk apa? Aku hanya ingin menyombongkan diri sedikit saja!"
Alex berdecak, "Macam macam saja. Tapi itu ide bagus! Aku akan memasukkan mereka di daftar tamu."
Biru tersenyum tipis. "Aku akan membuat mereka tahu sehebat apa keluarga Maheswara!"
.
.Lagi lagi kena review ... Semoga gak lama yaa ... Pusing nanti othor hihihi....
__ADS_1