
"Bi ... Aku lelah! Kenapa tidak kita hajar saja mereka sepuluh kali seperti kebiasaanmu dulu!"
Biru yang duduk di kursi kerjanya tertawa mendengar penuturan Alex, Ia menatap tumpukan bukti-bukti penyelewengan dana yang telah di kumpulkan dengan teliti. Dia merasa tegang dan penuh dengan perasaan campur aduk.
"No ... Aku sudah berubah haluan Lex, kita akan bekerja dengan jujur dan bijaksana!"
"Tapi Bi...!"
"Kau boleh mundur kalau kau tidak sanggup. Aku akan tetap profesional seperti yang kukatakan padamu sebelumnya. Aku akan menyerang mereka dari segala sisi. Baik Bisnis maupun penyerangan dan perbuatan tidak menyenangkan yang di alami Dara. Semua itu akan melibat mereka habis habisan. Mereka tidak hanya aku hancurkan, tapi mereka akan membusuk di penjara!" ungkap Biru.
Meskipun dengan menggenggam bukti-bukti kuat tersebut, Biru merasa berada di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, ia tahu bahwa mengungkap penyelewengan dana ini adalah hal yang benar dan penting untuk keadilan. Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa langkah ini akan memiliki konsekuensi besar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Perusahaan dan mempertaruhkan nama besar keluarganya.
Biru merasakan beban moral yang berat. Dia merasa bertanggung jawab untuk membawa kebenaran kepada muka umum. Namun, ia juga sadar bahwa melakukannya akan membawa implikasi yang signifikan bagi perusahaan, termasuk Prasetya dan semua orang yang terlibat di dalamnya yang akan menanggung semua kesalahannya termasuk kesalahan Rian.
"Panggil pengacaraku. Manager umum dan kuasa hukum! Aku tidak mungkin gegabah dalam hal ini. Daddy akan segera tahu dan aku tidak tahu bagaimana reaksinya setelah ini Lex!"
Alex hanya bisa mengangguk pasrah. Apa yang dikatakan Biru tidak ada cela, dan dia bisa melihat sedewasa apa Biru akan hal ini.
Penuh kekhawatiran dan pertimbangan, Biru memutuskan untuk berkonsultasi dengan orang-orang terpercaya dalam lingkungannya. Dia ingin mendapatkan sudut pandang lain, nasihat, dan dukungan mereka sebelum mengambil keputusan akhir.
__ADS_1
Biru menyusun rencana dan memilih orang-orang yang akan diajak berbicara. Dia tahu bahwa langkah ini tidak boleh diambil dengan gegabah, dan bahwa keputusan yang ia ambil akan memiliki dampak jangka panjang.
Dalam pertemuan dengan mereka, Biru membuka diri tentang bukti-bukti yang ia temukan dan keraguan yang ia rasakan. Dia mendengarkan dengan seksama saran dan pandangan mereka, mencoba memahami berbagai sudut pandang yang ada.
Setelah serangkaian diskusi yang intens, Biru akhirnya merasa yakin dengan langkah yang harus diambil. Dia memutuskan untuk menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang kuat. Meskipun ia tahu bahwa perjalanan akan sulit, ia siap untuk menghadapi konsekuensi dan memastikan kebenaran terungkap.
Dengan hati yang berat, Biru mempersiapkan langkah berikutnya. Dia mengetahui bahwa perjalanan yang akan ia tempuh tidak akan mudah, tetapi ia bertekad untuk membawa keadilan dan integritas kembali kepada perusahaan.
Dalam hatinya, Biru tahu bahwa keputusannya ini akan mengubah segalanya. Namun, ia yakin bahwa dengan mengungkap kebenaran, dia sedang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar bagi dirinya sendiri, Dara dan juga anak mereka.
Di sisi lain, Rian dan Prasetya mulai ketar ketir. Keduanya mulai merasakan kegelisahan yang mendalam saat mereka menyadari bahwa perusahaan mereka sedang dikendalikan oleh G.G Corps, sebuah perusahaan yang memiliki reputasi yang luar biasa dan sering melibas perusahaan yang berani bekerja sama namun dengan praktik bisnis yang meragukan.
"Papa bagaimana ini? Biru benar benar melakukannya!" Rian frustasi, melemparkan laporan yang dia terima dari perusahaan. Rian benar benar mengabaikan peringatan dari Biru untuk tidak main main dengannya. "Dia benar benar brengsekk! Mencampur adukkan bisnis dan masalah pribadi!"
Brak!
Prasetya menggebrak meja seraya bangkit. "Kau yang brengsekk. Sejak awal mereka memperingati kita untuk benar benar bekerja sama dengan loyalitas dan integritas yang baik, justru kitalah yang ceroboh. Kau yang mencampur adukkan semuanya hingga jadi kacau seperti ini!"
"Papa ... Bukan waktunya menyalahkan aku. Kita harus bergerak cepat untuk menyelamatkan perusahaan!"
__ADS_1
Rian dan Prasetya mulai melakukan investigasi internal untuk mencari tahu bagaimana G.G Corps bisa masuk ke dalam perusahaan mereka. Mereka mengumpulkan data, menganalisis transaksi keuangan, dan mencari jejak yang mengarah ke pemilik saham atau individu yang terkait dengan G.G Corps di perusahaan mereka.
Setiap bukti yang mereka temukan semakin memperkuat kekhawatiran mereka. Mereka menyadari bahwa upaya G.G Corps untuk mengambil alih perusahaan mereka bukanlah hal yang mudah diatasi. Rian dan Prasetya merasa semakin terjepit oleh situasi ini.
Dalam upaya untuk melindungi perusahaan mereka, Rian dan Prasetya mengumpulkan tim yang handal untuk membantu mereka menghadapi tantangan ini. Mereka mengadakan pertemuan strategis, menyusun rencana aksi, dan mencari peluang untuk mengatasi pengaruh G.G Corps yang nyatanya jauh lebih besar dari dugaannya.
Di balik keprihatinan mereka, Rian dan Prasetya tidak kehilangan harapan. Mereka bersikeras untuk menjaga bagaimana perusahaan tetap aman walau semua bukti penyelewengan sudah mulai terkuak.
Mereka juga disibukkan dengan pihak pemilik saham yang terus menagih janji dan meminta kejelasan tentang apa yang tengah terjadi.
Nilai saham turun dengan drastis, dan membuat semua staff kalang kabut. Perusahaan Prasetya berada di ujung tombak kehancuran. Walaupun mereka tetap berjuang untuk menjaga kemandirian dan otonomi yang mereka bangun selama ini.
Namun, mereka menyadari bahwa perjuangan ini tidak akan mudah. Mereka harus siap menghadapi kemungkinan konfrontasi, tantangan hukum, dan tekanan finansial yang mungkin timbul akibat campur tangan G.G Corps. Tetapi mereka bertekad untuk tidak menyerah begitu saja walau keduanya sudah sangat frustasi.
Rian dan Prasetya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti itu, bersikap serakah dan tidak profesional membawa mereka ke dalam libang kehancuran. Sekalipun segala upaya mereka lakukan. Menguatkan hubungan tim, mengasah keterampilan menyerang balik dan mencari peluang baru yang dapat menguatkan posisi perusahaan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan lagi Papa?" tanya Rian semakin frustasi.
"Kau datang pada Biru dan memohon. Bujuk dia untuk segera berhenti mengusik perusahaan dan minta maaf padanya!"
__ADS_1