
Tepuk tangan terdengar riuh setelah pria yang menyebut dirinya manager umum mengumumkan jika Biru adalah Chief Executive Officer, dengan kata lain Biru adalah seorang CEO sekarang. Posisi yang tidak dia sangka secepat ini, posisi yang hanya di bisa di pilih oleh pemegang saham dan dewan direksi. Tentu saja itu sangat mudah, mengingat perusahaan itu adalah perusahaan kelurga Maheswara dan tidak ada campur tangan orang luar.
Biru masih berdiri dengan gugup, rasanya diluar dugaan, sampai dia tidak berani membuka kaca mata hitamnya. Bibirnya melengkung tipis disertai anggukan kepala dan mencoba segagah mungkin padahal sebenarnya dia sangat kaget.
"Gila ... Posisi idaman ini namanya!"
"Diamlah, kau tidak lihat lututku gemetar saat ini?"
Alex tentu saja ikut senang, dia juga berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Terlebih saat Biru dipersilahkan untuk memberikan kata kata sambutan didepan orsng banyak.
"What the Fuccckkk!" cicitnya pelan.
Tapi dia tidak punya pilihan lain, selain mengambil mikrofon dan bicara.
"Sejujurnya aku tidak mempersiapkan diri untuk ini. Aku yakin kalian semua sudah hebat dalam dalam bidangnya masing masing. Jadi aku berterima kasih untuk semua yang bekerja sepenuh hati di perusahaan ini!"
Singkat dan padat, cukup simple karena Biru tidak tahu harus berkata apa. Namun mereka semua sangat antusias mendengarnya.
'Bos muda kita sangat cool.'
'Tidak ... Dia sangat keren, kita makin semangat kerja!'
'Benar dia dingin dan misterius! Itu kata sambutan paling keren. Tidak bertele tele.'
Bisik bisik itu mulai terdengar saat Biru meninggalkan para staff, berjalan beriringan menuju kantor barunya.
Bruk!
Biru langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruangan CEO yang akan dia tempati selama bekerja, ruangan luas full ornamen abu dan hitam. Ada foto kedua orang tuanya di atas meja, juga foto semua keluarga Maheswara yang tergantung di dinding.
"Ini gila Lex ... Rasanya tidak pernah menyangka aku akan di sini sekarang!"
__ADS_1
Alex masih betah berdiri, menyisir ruangan kerja yang terasa dingin. "Bagaimanapun juga ini akan terjadi, hanya masalah waktu saja! Orang tuamu sudah menyiapkan semuanya untukmu bahkan semenjak kau masih berbentuk Zigott!"
"Kau ini sudah seperti asisten sungguhan, tapi kau benar. Cepat atau lambat aku akan berada di posisi teratas. Bukan begitu?" Biru bangkit dan berjalan ke arah meja kerja miliknya sendiri.
"Ya ... Seperti itu! Lalu apa rencanamu sekarang?"
Biru mendudukkan bokongnya di kursi kekuasaannya, menatap meja yang masih terlihat bersih juga baru dengan papan nama miliknya sendiri.
Biru Sagara Maheswara.
"Aku akan melihat sejauh mana aku melangkah dan membuat mereka tahu siapa aku!"
"Mulai sombong!" Alex terkekeh.
"Pukulan yang aku terima masih bisa aku rasakan Alex, tapi itu tidak seberapa dengan perbuatan licik mereka, niat muliaku telah di sia sia kan. Kau fikir aku akan diam saja?"
Alex menghela nafas, kemudian mendudukan dirinya di sofa. "Jangan bilang kau begitu menyukai Dara sampai kau merasa terluka dan ingin membalas mereka!"
Tok
Tok
Alex bangkit dan membuka pintu, tepat pada saat itu pun Biru kembali menegakkan punggungnya. Dan seorang pria masuk dengan membawa setumpuk berkas.
"Maaf Pak ... Saya hanya ingin mengantarkan ini. Daftar perusahaan yang bekerja sama dengan kita, dan beberapa informasi penting lainnya." ujarnya dengan menyerahkan berkas itu pada Alex. "Jika butuh bantuan, panggil saya saja! Dengan senang hati siap membantu Pak Biru."
Biru mengangguk, "Terima kasih!"
Pria tersebut akhirnya pergi keluar dan Alex menyimpan berkas diatas meja. "Hari pertama yang menantang. Kita hanya perlu tahu siapa saja mereka!"
"Hari pertama tapi sudah mulai berat Lex!"
__ADS_1
Alex membuka berkas daftar para perusahaan yang bekerja sama. Lembar demi lembar dia buka dengan teliti dan berhenti saat melihat nama perusahaan yang tidak asing baginya.
Biru yang memilih mengotak ngatik ponsel dibandingkan berkas berkas itu pun meliriknya saat Alex tersenyum sendirian.
"Ada hal yang menarik?"
"Kau pasti suka!" Ucapnya dengan memperlihatkan berkas itu pada Biru. "Perusahaan Prasetya Daya utama." tunjuknya pada salah satu nama perusahaan yang tertulis jelas di sana.
"Hah?"
Alex mengangguk, "Jackpott!"
Biru memastikan apa yang dikatakan Alex dan itu benar adanya. Perusahaan milik keluarga Prasetya, alias perusahaan keluarga Rian Prasetya.
"Daddy benar benar tahu apa yang aku inginkan! Itu sebabnya dia kirim aku kesini." Ujar Biru dengan bibir yang melengkung sempurna. "Ini akan seru! Aku pastikan mereka akan kaget melihatku."
"Bukan kaget lagi! Ini Jackpott!"
Biru semakin bersemangat saat tahu perusahaan Rian ada di sana, tersenyum dengan segala rencana di dalam kepalanya.
"Kau atur bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Rian!"
"Kau terlalu terburu buru! Apa yang kau lakukan saat itu terjadi sementara kita saja masih belum mengerti apa apa di sini!"
Biru terdiam sejenak, benar apa yang dikatakan Alex, bisa bisa kembali mati gaya karena Rian sudah lebih dulu berkecimpung di dunia bisnis.
"Kau benar Alex!"
Alex mengangguk, "Aku selalu benar, lebih baik kau belajar dulu baru menunjukan taringmu!"
"Kalau begitu bagaimana kalau kau cari tahu kenapa Dara tidak menghubungi sampai saat ini, apa dia tidak khawatir padaku?"
__ADS_1