
Melihat mobil Biru yang terparkir cukup jauh, Dara sudah tahu jika Biru pasti menjaga jarak dengannya. Ucapan Zian benar benar tajam dan menusuk ulu hatinya.
Agnia menoleh ke arah di mana suami dan menantunya memandang. Dia mengernyit dan bertanya tanya. Kenapa Biru tidak menemani Dara.
"Kenapa mobil Biru terparkir begitu jauh?"
"Kau fikir karena apa?" ketus Zian menyela ucapan sang istri.
Agnia melirik Dara, pemilik mata sendu yang kini terlihat sayu dan juga pucat. "Dad ...!"
"Biru memang bodoh, sudah aku bilang untuk berhenti saja dan mencari wanita lain. Mungkin dia tidak akan di sia siakan seperti ini!" lirih Zian lagi.
Jelas Zian sengaja bicara seperti itu. Dia tidak akan peduli pada perasaan orang lain.
"Daddy!" Agnia menyenggol lengannya, berusaha mengingatkan suaminya agar tidak bertindak sarkas.
Dara masih menatap Biru, lalu menatap Zian dengan kedua maniknya yang kini terlihat memerah.
"Daddy benar. Harusnya Biru mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Bukan terus mendampingiku walaupun aku melarangnya, dan sekarang dia mulai bosan."
__ADS_1
Zian menatapnya dengan mata tajam miliknya. "Mungkin dia sudah sadar bahwa kamu tidak menghargai bantuannya dan sikap dinginmu padanya. Jadi dia memutuskan untuk menjaga jarak, seperti itu mau kan?"
Lagi lagi Dara tertohok, dia terdiam sejenak dan kembali menoleh pada mobil Biru. "Maafkan aku Daddy, aku membuatnya merasa seperti itu. Aku sedang melewati masa yang sulit dan tidak ingin terus melibatkannya."
"Bukankah seharusnya kau lebih menghargai dukungannya?" Kata Zian sengit.
Sophia tidak berkutik, dia tidak bisa membela maupun bicara sepatah kata pun saat Zian terus menyalahkan Dara. Dia justru bersyukur, dan berfikir jika ucapan Zian akan menyadarkan putrinya akan kebaikan Biru.
Agnia menenangkan Dara dengan mengelus lengannya, dia tidak memihak putranya maupun Dara sendiri.
"Dara, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kami semua mengerti bahwa ini adalah momen yang sulit bagimu. Tetapi juga penting untuk menghargai dan mengungkapkan rasa terima kasih pada mereka yang berusaha membantumu. Jangan berkecil hati, karena kami selalu ada untukmu, apalagi Biru, jangan fikirkan ucapan sarkasa Daddy. Hm?"
"Sekarang kita kesana. Upacara penghormatan akan segera mulai." kata Agnia lagi.
Agnia benar, Dara memang harus mengungkapkan rasa terima kasih nya pada Biru, karena selama ini Biru selalu membuat keadaannya semakin lebih baik. Ucapan sang ibu di dalam mobil kembali terngiang. Bagaimana hidupnya jika tidak ada Biru di sisinya.
Suster kembali mendorong kursi roda menuju tempat peristirahatan terakhir, Sophia berada di belakangnya sementara Zian dan Agnia berada di samping kanannya.
"Sikapmu terlalu lembut padanya, aku tidak suka sikapmu Sayang!"
__ADS_1
"Dad ... Apa perlu kita membahasnya di tanah kuburan ayahnya yang masih basah? Coba bayangkan jika kita di posisi Dara? Daddy terlalu keras padanya dan aku juga tidak suka!"
Zian menghela nafas. "Apa kau mau marah marah di tanah kuburan?"
Agnia mendengus kesal lalu mencubit lengannya. "Kita bahas ini di rumah saja!"
Upacara sudah dimulai, deretan kursi kini sudah dipenuhi oleh pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir pada Baskoro. Terlihat Biru dan Alex berada di jajaran paling belakang.
Biru terus menatap punggung Dara yang terlihat naik turun. Dia mungkin tengah menangis dan membayangkan semua tentang ayahnya.
"Aku ingin sekali memeluknya disaat seperti ini!" gumamnya pelan dan hanya bisa di dengar oleh Alex, sahabatnya.
"Cobalah ... Kau hanya akan menambah masalah saja!"
"Dia mungkin membutuhkanku Alex!"
Alex mendengus kasar, saking kerasnya pria di sampingnya langsung menolehkan kepala ke arahnya. Dan membuat Alex menutup mulutnya seketika. Dia langsung menyondongkan kepalanya ke arah Biru.
"Kau atau dia yang tidak tahu Diri?"
__ADS_1