Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.54(Dara!)


__ADS_3

Setelah mencoba semua pakaian pilihan Dara, Biru memberikannya pada Alex yang membantunya mengurus pembayaran. Dan semua itu membuat Dara penasaran.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku?"


Biru menghela nafas, tidak ada satu pun yang dia sembunyikan kecuali asal usul dan jati dirinya.


"Ada satu, tapi aku tidak ingin memberitahukannya sekarang. Aku akan memberitahukan semuanya nanti, setelah semua rencanaku berhasil. Kamu tidak akan marah kan? Karena aku melakukannya karenamu."


"Jangan bilang kamu nipu orang?"


Biru tergelak, merengkuh pinggang Dara dengan lembut. "Aku tidak hanya akan menipu, tapi aku akan membuat Rian melepaskanmu untuk aku miliki seutuhnya. Aku tidak akan membagi sekalipun dia lebih berhak karena berhasil membuat ikatan batin dengan dia." ujarnya mengelus perut Dara.


"Maaf ...!"


"Hey ... Kenapa kamu minta maaf? Bukan kamu yang harusnya minta maaf, kamu gak salah dan aku tidak mempermasalahkan hal itu." terang Biru. "Ayo ... Waktunya ke dokter, setelah dari Dokter aku harus mengurus sesuatu!"


"Benarkah. Apa itu?"


"Tunggu saja kabar dariku. Hm?"


Dara mengangguk lalu mengikuti Biru menaiki mobil yang membuatnya tercengang.


"Ini mobilmu?"


Biru mengangguk, "Mobil ayahku tapi sekarang aku yang memakainya."


"Dan Alex?"


Alex yang sedang menyetir menoleh ke arah belakang. "Aku hanya memperlancar hubungan kalian, karena ini kesempatan yang jarang terjadi!"


"Maksudnya?" tanya Dara melirik keduanya bergantian.


Tidak ada jawaban dari keduanya yang membuat Dara puas, tapi dia juga tidak ingin memaksa jawaban yang ingin dia ketahui.


Mobil berhenti di rumah sakit, Dara dan Biru turun dan segera masuk ke dalam. Sementara Alex tetap berada di dalam mobil.


Keduanya masuk ke dalam ruangan dokter, dan Dokter tersenyum saat melihat Biru.


"Sudah lama tidak melihatmu datang kemari mengantar istrimu?"

__ADS_1


"Ya ... Sedikit sibuk!" sahut Biru tersenyum.


Sementara Dara tersenyum tipis karena ucapan Dokter, Biru bukan lagi suaminya sekarang, pernikahan pura pura mereka sudah berakhir tapi justru kini mereka saling mencintai. Lucu memang tapi itulah cinta, tidak tahu diri dan tidak tahu tempat berlabuh.


Keduanya tampak senang melihat gambar goresan goresan kecil di monitor, gambar yang hanya dokter saja yang tahu, sedangkan mereka tidak mengerti.


"Semuanya bagus, hanya saja tekanan darahmu terlalu rendah. Kamu harus banyak istirahat Dara! Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting ya!" terang Dokter, "Tapi semua tidak ada masalah, janinmu sehat dan kuat! Seperti ayahnya."


Deg!


Dara terkesiap, melihat ke arah Biru dan merasa bersalah. Namun Biru hanya tersenyum. "Jadi Dokter berfikir aku tidak penting?"


"Maaf?"


"Dokter tadi mengatakan jika tekanan Darahnya kurang karena Dara kelelahan dan jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting!"


"Ya betul. Jadi...?"


Dara turun dari ranjang pemeriksaan, mulai takut jika Biru berulah yang tidak tidak. Dia segera menarik lengan Biru.


"Asal dokter tahu saja, yang di fikirkan Dara itu adalah aku!" ucap Biru terkekeh.


Membuat Dokter yang khawatir salah bicara itu terkekeh pada akhirnya. Sementara Dara bernafas lega.


"Tidak apa apa sayang, agar Dokter tahu kalau diagnosanya benar. Bukan begitu dokter?"


"Ya ... Pak Biru harus sering menemani istrinya ya. Ibu hamil sering merasa sedih jika kurang perhatian suaminya." ujarnya dengan memberikan resep obat dan vitamin yang harus di minum Dara.


Keduanya keluar dengan wajah Dara yang merah, sementara Biru terkekeh melihatnya.


"Dokter tahu apa yang ada di fikiranku, aku ingin sekali menemanimu setiap saat bahkan menemanimu tidur!" bisiknya pada ucapan terakhir.


"Ih ... Biru! Nyebelin banget sih!" Dara mencubit pinggangnya hingga Biru tertawa sambil meringis.


Dan tawa Biru terhenti saat melihat seseorang berdiri di depannya dengan mengepalkan tangan dengan sorot mata yang menajam ke arahnya.


"Dara!" serunya dengan marah, lalu menarik tangannya dengan kasar. "Apa kau sedang mencoba membohongiku Hah?"


"Hey ... Jangan kasar kasar padanya!" Biru mendorong bahu Rian lalu menarik Dara dan menempatkannya di belakang tubuhnya.


Rian membalas mendorongnya dengan kasar. "Siapa kau berani melarangku, dan kau juga berani menemuinya lagi hah? Dasar tidak tahu diri. Kau tidak menyerah juga setelah mendapatkan apa yang kau mau hah?"


Bugh!

__ADS_1


Rian melayangkan pukulan pada Biru dan mengenai tulang rahangnya, membuat Dara berteriak.


Biru yang tidak terima memukulnya kembali, mereka akhirnya saling menyerang. Tidak peduli jika mereka berada di kawasan rumah sakit yang seharusnya dalam keadaan tenang.


Dara kembali berteriak, mencoba melerainya namun justru terkena pukulan Rian di pipinya dan membuatnya terjatuh.


"Dara!" Biru langsung melihatnya membantunya berdiri.


Sementara Rian bisa memukul kepalanya dari belakang dengan menggunakan tong sampah yang Rian ambil hingga tubuh Biru ambruk tidak sadarkan diri.


Dara menangis histeris, memegangi tubuh Biru yang tergolek tanpa daya dipangkuannya.


Sementara Rian berseringai melihat Biru tidak sadarkan diri dengan darah yang mulai merembes dari kepalanya. Pria itu tidak peduli padanya, dia langsung menarik tangan Dara dan membawanya pergi.


"Lepaskan aku. Lepas!" Dara memberontak melihat ke arah belakang di mana Biru tergeletak sampai beberapa perawat berlari menolongnya, dan Dara dibawa dibawa keluar dari rumah sakit.


Alex berlari mendorong Rian hingga pria itu terjungkal namun Dara mencegahnya.


"Lihat Biru disana, dia terluka! Cepat Alex bantu dia!"


"Kau!" tunjuknya pada Rian dengan marah, namun dia langsung ingat Biru dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Dara kembali di tariknya dengan kasar, sekalipun gadis itu terus memberontak melawan namun tetap saja tidak mampu melawannya.


Bruk!


"Masuk Dara. Kau membuatku marah!"


Dara menendangnya satu kali dan mengenai perutnya.


"Kau!"


Tangan Rian sudah melayang di udara hendak memukulnya sampai Dara memejamkan matanya dengan takut.


"Apa yang kau lakukan?"


Baskoro datang dan mencegahnya, menghentikan tindakan Rian yang sudah siap memukul putrinya.


"Om harus tahu apa yang dia lakukan di sini! Dia membohongi kita semua dan pergi bersama si brengsekk itu! Dan Om membiarkan itu terjadi?" ujar Rian.


"Biar aku yang mengurusnya!" Baskoro menarik Dara dan membawanya.


"Sudah seharusnya kau mengurusnya dengan benar!" gumam Rian yang melihat Baskoro membawa Dara masuk ke dalam mobil miliknya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Dara! Kau ...!"


__ADS_2