Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.112(Maafkan Dara)


__ADS_3

"Kau atau dia yang tidak tahu Diri?"


Biru menajamkan pandangan padanya, sedikit kesal pada Alex yang terus memperlihatkan ketidak sukaannya pada Dara dan hubungan rumah tangganya.


"Sekali lagi kau bicara tidak jelas itu, aku akan mengirimmu sangat jauh!"


"Hey ...!" suara Alex menggelegar, membuat semua tamu yang sedang berdoa menoleh padanya di belakang. Alex terlihat mengerjap ngerjapkan kedua mata nya dan merasa malu.


Hingga upacara penghormatan selesai. Dan orang orang terlihat pergi satu persatu meninggalkan tempat pemakamam itu. Yang masih terus berada di sana hanya keluarga dan juga sanak saudara.


Biru terus melihat Dara sedang sedih dari kejauhan, namun dia harus menjaga jarak agar tidak membuat hubungan mereka semakin buruk. Biru juga memberikan waktu sendiri pada Dara dan menghargai keinginannya.


Zian menyambanginya, sementara sang istri masih berada di sini Dara.


"Bi ...!" Zian meremass kuat bahunya, memberikan energi positif dan kekuatan sang ayah pada putra laki lakinya yang harus kuat dan memiliki mental baja. Sifat keduanya memang sama persis jika berhadapan dengan cinta dan wanita. Melebihi orang bodoh yang buta dan tuli apalagi cinta lah yang bicara.


"Dara terlihat begitu sedih... Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali menemaninya tapi dia tidak ingin aku temani!"


"Apa yang bisa Daddy lakukan padamu? Daddy harap kau lebih pintar dari Daddy sewaktu muda. Tapi Daddy tidak bisa memaksamu dan Daddy hanya bisa menyayangkan sikapnya saja!" sahut Zian.


Biru mengangguk mengerti, siapapun tidak bisa mengontrol fikiran dan hatinya, termasuk pilihan yang dia pilih saat ini. Dan Biru memilih menjauh sementara waktu agar Dara semakin baik baik saja.


Dara melihat punggungnya yang menjauh, dan semakin menjauh dari pandangannya.


Aku merindukan dukungan dan kehadirannya, tapi mungkin dia gak ingin mendekatiku setelah sikapku sebelumnya. Maafkan aku Bi ... Aku tahu aku terlalu banyak salah padamu dan aku gak berbuat apa apa selain menjadi bebanmu saja. Batin Dara.

__ADS_1


Biru menoleh, menatap ke arah Dara dengan sedih, tetapi dia tidak bergerak mendekatinya maupun melakukan apa yang dia ingin lakukan sejak tadi. Yaitu memeluknya serta berkata semua akan baik baik saja.


Dara berkaca-kaca melihatnya, untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain.


"Dara ... Mau Mami panggilkan Biru?"


"Aku merasa begitu terjebak dalam kebingungan. Apakah dia masih marah sama aku? Apa dia tidak ingin menghiburku lagi Mami?"


Agnia mendekati Dara. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


Dara memegang tangan ibu mertuanya yang terlihat lebih mengerti di bandingkan ibunya sendiri. "Maafkan aku Mami. Aku bikin Biru sedih karena aku gak ingin melibatkan Biru lagi sama masalah aku. Tapi melihatnya hari ini kenapa hatiku sangat sakit?"


"Kau butuh waktu sayang. Mami yakin pada Biru. Dia pasti akan tetap peduli padamu nak!"


"Mungkin dia membiarkan mu menentukan apa yang kamu butuhkan sekarang, Dara. Mungkin dia memahami bahwa kamu perlu menghadapi momen ini sendirian saja."


Dara mngangguk lagi, dengan suara lembut mengeratkan genggaman tangannya pada tangan seorang ibu yang mengerti kegundahan hatinya saat ini. "Mungkin itu benar, Mami . Aku perlu melalui proses ini sendiri, meskipun aku rindu dukungan Biru dan aku menyesal karena ini gak adil buat Biru yang selalu ada buat aku selama ini. Maafkan aku Mami!"


Agnia mencondongkan tubuh ke arahnya. "Dara ... Percayalah. Biru akan selalu ada di sini untukmu, Dara, meskipun mungkin tidak secara langsung saat ini. Jangan ragu untuk mendekatinya jika kamu merasa siap untuk berbicara atau membutuhkan dukungannya. Hm?"


Dara berhambur memeluk Agnia, bukan hanya mengerti keadaannya, tapi tutur kata yang tulus dan sangat bijak. Tidak ada sekalipun kata kata yang menyudutkannya maupun menyalahkannya.


"Begitu beruntungnya aku memiliki ibu mertua sebaik Mami. Makasih Mami!"


"Sama sama sayang ... Mami dan Daddy akan selalu membantu sayang. Kami akan terus mendukung apapun yang terbaik buat kalian. Jadi jangan sungkan ya!"

__ADS_1


Dalam situasi seperti ini. Dara sadar dengan sendirinya. Dia terus melihat bahwa Biru juga sedih karenanya. Pria itu jelas menahan dirinya sejak dari rumah sakit. Ia sekalipun tidak berniat mendekatinya untuk memberikan penghiburan apapun itu. Dan itu lah yang membuat Dara merasa bingung dan merindukan kehadiran dan dukungan Biru, tetapi dia juga menyadari bahwa mungkin Biru membiarkannya menentukan apa yang dia butuhkan saat ini.


Agnia berhasil menenangkan Dara dan mengingatkannya dengan kata kata yang kembaut dan menenangkan bahwa Biru akan selalu ada di sana untuknya, bahkan jika tidak secara langsung seperti saat ini. Dara merasa dia perlu melewati proses ini sendiri.


Setelah kepergian keluarga Maheswara, Dara terdiam cukup lama sekalipun suster sudah mengingatkannya untuk segera kembali ke rumah sakit. Namun Dara meminta waktu untuknya sendiri dengan menatap foto sang ayah di atas tanah merah yang masih basah itu.


"Papa ... Maaf kan Dara, Dara belum bisa jadi anak yang bikin Papa bangga. Dara hanya bisa kasih Papa masalah demi masalah dan membuat Papa kefikiran sampai akhirnya Papa ninggalin Dara. Maafkan Dara Papa." lirihnya dengan kembali menangis.


"Dara ... Ayo pergi! Kamu tidak bisa berlama lama di sini karena tubuhmu belum pulih benar!" ujar Sophia. Dia benar benar malu pada Zian dan Agnia yang masih sangat baik pada putrinya setelah perlakuan buruknya pada Biru.


"Mami ... Aku akan mencoba memperbaiki hubungan ku sama Biru setelah ini."


Sophia tersentak kaget, jelas itu hal yang baik bagi Dara dan juga Biru yang selama ini begitu tulus


"Itu adalah langkah yang baik, Dara. Biru peduli padamu dan ingin memberikan dukungan yang kamu butuhkan. Percayalah bahwa dia ada di sini untukmu. Jangan pernah menyia nyiakannya Dara. Kau lihat sendiri kan. Bukan hanya Biru yang menerimamu dengan tulus, kedua orang tuanya pun memperlakukanmu dengan baik. Bahkan di akhir hayat Papamu sampai ke tanah kuburan ini, mereka lah yang paling ada untuk kita."


Dara mengambil momen itu sebagai kesadaran akan pentingnya menghargai dan berterima kasih kepada Biru atas bantuan dan dukungannya. Ucapan tajam dari Zian membuatnya menyadari betapa sikap dinginnya sebelumnya dapat mempengaruhi hubungan mereka. Dengan dukungan Agnia, Dara bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Biru dan mengungkapkan rasa terima kasihnya setelah pemakaman selesai.


Dan Dara baru ingin meninggalkan tempat peristirahatan terakhir papanya setelah dirinya kembali tenang dan memikirkan banyak hal.


Sementara Biru dan Alex yang lebih dulu pergi dan menyerahkan semua pada Dokter dan suster kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa kita akan kembali ke rumah sakit dan melihat kekonyolanmu lagi?" tanya Alex dengan tangan yang berada di setir mobil.


"Tidak ... Kita ke tempat lain saja Alex!"

__ADS_1


__ADS_2