Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.99(Sudah gak marah)


__ADS_3

"Apa kau masih pantas melihatnya Rian? Aku rasa tidak sekalipun itu tanpa sengaja!"


Rian tidak berkutik, kemarahannya tertahan karena Ayahnya memegangi lengannya kuat, hingga akhirnya dia hanya bisa membisu. Tampak jelas di matanya jika dia tengah menahan dirinya karena tidak ingin membuat masalah baru, terlebih posisi perusahaannya kali ini jadi taruhannya.


"Jangan terpancing Rian, atau kau hanya akan membuat kita rugi saja."


Dan pada saat semua orang bergabung datang untuk menyalami Zian dan juga Biru, Rian dan Prasetya mundur dengan sendirinya tanpa bisa melakukan apa apa.


"Pria itu jadi besar kepala!" Cicit Prasetya dengan menatap Biru.


"Papa benar ... Mereka memanfaatkan ketamakan Papa!" Dengus Rian yang memilih kembali duduk.


Prasetya menghela nafas panjang, lalu ikut bersamanya dengan duduk ditempatnya kembali.

__ADS_1


"Mereka sangat sombong. Untuk apa kita di undang dalam acara ini jika mereka saja tidak melihat kita, harusnya tadi kita tidak usah kemari!" dengus Prasetya.


Rian hanya mampu mencuri curi pandang pada Dara dan perutnya yang buncit, tersirat perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan mengingat di dalam perut itu adalah darah dagingnya.


Hal yang sama pun dilakukan Intan, gadis itu terus memperhatikan Dara yang tengah asik bicara dengan Air, terlihat sesekali Dara melirik ke arahyaa juga.


"Apa kamu akan diam saja seperti orang bodoh Rian?" cetusnya.


Intan mendelik melihatnya, dia tidak peduli jika Rian marah, pria itu akan tetap bersamanya walau apapun yang terjadi. Dara hanyalah alat yang dia dan Rian pakai bersama.


Intan tersenyum tipis karena kesempatan itu akhirnya datang juga, terlihat Dara berjalan sendirian menuju ke arah toilet, Intan pun bergegas berdiri lantas menyusulnya masuk ke dalam toilet.


Gadis itu menunggu Dara yang tengah berada di salah satu bilik toilet, dia sengaja menyalakan air di wastafel agar tidak membuat semua orang curiga. Hingga beberapa menit kemudian Dara akhirnya keluar.

__ADS_1


Dara tersentak melihat Intan, namun dia berusaha untuk tegar dan memilih tidak menegur nya, dia hanya diam saja saat membasuh kedua tangannya tepat di samping Intan. Lalu mengeringkan tangannya dengan cepat.


"Apa kamu gak ingin bicara apapun sama aku, atau gak adaa yang ingin kamu katakan padaku Dara?" pungkas Intan sengaja memancingnya.


"Enggak ada, untuk apa ....!"


"Apa kamu udah tahu semuanya Dara? Apa suamimu yang bicara padamu?"


"Apa semua masih penting Intan? Aku justru bersyukur mengetahui sifatmu yang asli, aku juga bisa bertemu dengan suamiku sekarang. Lalu apa kamu ingin aku marah marah atau menangis di hadapanmu Intan. Arrgh lebih tepatnya aku berterima kasih padamu. Aku jadi tahu siapa kamu dan Rian sebenarnya!" pungkasnya menohok.


Intan sedikit kaget, dia tidak menyangka sedikitpun apa yang baru saja dia dengar. Mengingat selama ini Dara adalah orang yang rendah hati dan sensitif.


"Kenapa? Kamu aneh lihat aku." Ucap Dara lagi dengan menatap lurus pada pantulan Intan di dalam cermin. "Kamu lihat perbedaan kita Intan. Awalnya aku merasa tidak akan punya masa depanku, hamil diluar nikah dan pendidikanku juga hancur. Tapi sekarang aku sadar, masa depanku sangat cerah. Aku punya orang orang baik dan sangat tulus di sisiku! Terima kasih Intan ... Walau bagaimanapun aku pernah meyakini kalau kamu itu sahabat aku yang tulus! Jadi aku sudah gak marah sama kamu!"

__ADS_1


__ADS_2