Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.22(Hanya Suami diatas kertas)


__ADS_3

Biru berdecak dengan menatap tajam ke arah Dara, gadis itu menyibakkan rambutnya lalu berjalan melewatinya begitu saja.


"Minggir, aku mau masuk!"


"Tidak semudah itu, aku berdiri sejak tadi dan aku lapar!" Cicit Biru dengan mencekal lengannya, mencegah Dara yang hendak mendorong pintu ruangan.


Dia fikir aku peduli dengan pekerjaan ini, tidak sama sekali ... Aku bahkan bisa memiliki uang tanpa harus bekerja. Yang aku lakukan ini anggaplah hanya untuk main main saja. Konyol sekali sampai aku melakukan hal seperti ini untuk main main saja, entah apa yang akan dilakukan Daddy jika tahu kekonyolan aku ini, ah sudahlah, Daddy pasti akan mengerti. Biru bermonolog dalam hati.


Biru menarik lengan Dara dan membawanya pergi dari sana, teriakan Dara serta pukulan satu tangannya pada bahunya dia abaikan sampai akhirnya keluar dari area kantor.


"Kamu gila ya. Ini masih jam kerja Biru!" seru Dara dengan terus memukul dengan brutal.


"Aku tidak diijinkan bekerja oleh ayahmu, dan semua semua itu membuatku cepat lapar, kamu tahu seberapa lama aku berdiri di sana, kaki ku pegal. Dan sekarang kamu yang harus bertanggung jawab!" ucapnya dengan membawanya menyebrangi jalan.


Sebuah kafe yang cukup sepi karena jam istirahat sudah berakhir sejak tadi.


"Heh ... Kamu fikir aku bodoh ya, mana mungkin papa gak ijinin kamu makan siang tadi!"


"Kamu tanyakan saja padanya, apa dia menyuruh ku untuk makan atau tidak!" Biru membawanya masuk, dan menyuruhnya untuk duduk.


"Tapi aku sudah makan!"


"Aku membawamu kemari bukan mengajakmu makan siang bersama Dara," Ketusnya dengan memanggil pelayan kafe.


Dara mendengus kesal. Mendumel dalam hati karena sikap Biru sangat menyebalkan.


"Apa ... Kamu benar benar berharap aku mengajakmu makan siang bersama kan Dara?" ujarnya dengan berseringai kecil, satu ujung bibirnya sengaja dia angkat.


"Ih ... Kurang ajar banget! Siapa yang ngarep." gumam Dara tanpa suara.


Biru memesan sepiring nasi goreng dan satu minuman untuknya sendiri, tanpa peduli Dara yang menelan ludah berkali kali karena melihatnya makan dengan lahap, juga hanya memperhatikannya saat Biru menyisihkan daun bawang serta udang.


"Aneh, kenapa kamu memesan varian itu kalau gak suka udang dan kamu bisa minta gak pake daun bawang. Mulut tuh di manfaatin dengan baik, bukan cuma dipajang doang!"


"Mana aku tahu kalau nasi goreng ini memakai udang dan daun bawang!" kilahnya dengan terus menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya, hampir selama hidupnya dia memang jarang sekali makan nasi goreng khas indonesia kecuali jika Ibunya yang membuatkan untuknya.


Dara mendengus, "Dih ... Dasar kampungan, kamu pasti tahunya cuma nasi goreng abang abang gerobak pinggir jalan doang kan! So banget sih makan di kafe!"


Biru berseringai, tidak peduli ucapan gadis yang terus mengomel namun terlihat memperhatikannya terus.

__ADS_1


"Bilang saja kalau kamu mau!"


Dara yang hanya memesan minuman saja dan tidak ingin terlihat kelaparan itu berdecih, "Kalau aku mau aku sudah memesannya sendiri, kamu fikir aku mau makan bersamamu?"


Pria berusia 22 tahun itu pun hanya mengerdik. "Ya sudah!"


Tidak lama kemudian, Biru memanggil kembali pelayan kafe untuk membawa tagihannya. Pelayan pun datang dengan tagihan dan menyimpannya di atas meja.


"Aku sudah selesai!" ucapnya dengan mengelap bibir dan kemudian bangkit. "Istriku ... Tolong kamu bayar tagihannnya ya!" ujarnya lagi lalu beranjak pergi.


"Eeeh ... Biru sialan!" seru Dara yang menatap tajam Biru yang melambaikan tangan saat berlalu begitu saja. "Kurang ajar banget sih! Bisa bisa nya aku di manfaatin manusia gak tahu diri itu!" Dara semakin kesal di buatnya tapi tidak punya pilihan lain saat ini selain mengikuti aturannya.


Tidak ingin membuat dirinya malu sendiri akhirnya Dara membayar tagihannya walau dengan terus menggerutu tidak jelas sementara pelayan kafe hanya tersenyum melihatnya.


Dara menyusulnya keluar, terlihat Biru yang hanya berdiri dengan tersenyum ke arahnya. Senyuman manis yang cukup membuat Dara terkesima sesaat lalu mendengus setelahnya.


"Ayo, waktunya bersandiwara!" ucap Biru dengan melingkarkan tangan di bahu Dara.


Dara berusaha melepaskan tangan Biru dari pundaknya namun lagi lagi pria itu merengkuhnya."Ih apaan sih!"


"Kamu tidak lihat itu?" tunjuknya pada beberapa orang di pintu masuk perusahaan. "Tuan dan nyonya Anderson sudah datang, kamu ingin mereka tahu jika kita hanya bersandiwara?"


Dara menelan ludah, hal terpenting bagi perusahaan ayahnya saat investor datang dan mempercayakan satu proyek besar pada Biru sebagai pengawas proyek. Dan mau tidak mau membuat ayahnya sendiri tidak berkutik.


"Itu karena aku perlu tenaga untuk bersandiwara. Bukankah keluargamu yang akan menerima keuntungan lebih besar dari sekedar nasi goreng yang aku makan tadi?" Biru tersenyum dengan dua alis naik turun ke arahnya.


Lagi lagi Dara tidak mampu menolaknya, beruntung Biru memiliki kharisma yang tinggi, postur tubuh bagus dan wangi yang membuatnya tenang tanpa terganggu ataupun membuatnya mual.


"Selamat siang Om ... Tante?" Sapa Biru pada sepasang suami istri keluarga Anderson.


"Biru? Dara ...? Senang melihat kalian."


Biru menggenggam tangan Dara dengan lembut, membuat nyonya Anderson tersenyum. Tapi tidak dengan Baskoro. Dan Dara pun ikut tersenyum.


"Si paling bisa berakting!" gumam Dara yang jelas terdengar oleh Biru.


Pria itu menoleh dengan mengedipkan mata, "Aku dibayar mahal olehmu."


"Dih!"

__ADS_1


"Ayo masuk! Kita bicara di ruanganku!" seru Baskoro.


Semua orang melangkahkan kaki mengikutinya, begitu juga dengan Biru dan Dara yang kini berusaha melepaskan genggaman tangan Biru, bukan apa. Genggaman tangan dan prilaku Biru yang berbeda justru membuat jantung Dara berdebar debar dan takut semakin jatuh terlena.


"Dara!"


Seseorang memanggil namanya dari arah belakang, membuat Dara menolehkan kepala begitu juga dengan Biru.


"Mas Rian?"


"Bukankah tadi kamu bilang ingin pulang. Kenapa sekarang ada di sini dan....?" ujar Rian dengan menatap tangan keduanya yang masih saling menggenggam.


Dara paham betul arti tatapannya, dia berusaha melepaskan genggaman Biru karena tidak mau ada keributan di sana, namun Biru tidak merubah tangannya sedikitpun.


"Ayo kita pergi, bukankah sore nanti ada jadwal kontrol di rumah sakit?" Ucap Rian yang berusaha menahan diri.


"Bisakah kau urus nanti Rian, kau memang tidak bisa melihat moment!" sahut Biru.


"Itu bukan urusanmu! Aku hanya bicara pada Dara."


"Dia istriku! Apa kau bisa menghormati hal itu di sini?" Ucapan Biru sangat dingin, dengan tatapan tajam pada Rian yang terus hadir dan mengganggu.


Nyonya dan Tuan Anderson menoleh, begitu juga Baskoro. Membuat Rian tidak berkutik.


"Mas ... Lebih baik Mas Rian pergi. Aku gak mau suasana makin kacau, semua orang sedang melihat kita sekarang!"


"Pergilah Rian! Kau cukup tahu diri bukan?" tambah Biru dengan berseringai.


Rian berdecak, "Kau yang harusnya tahu diri! Kau hanya suami di atas kertas Biru, jadi jangan terlalu bangga akan hal itu!"


Biru hendak melangkah dengan rahang yang semakin kuat namun Dara mencegahnya dengan mengeratkan genggaman tangannya.


"Biru! Aku mohon ... Jangan mengacaukan semuanya saat ini!" cicit Dara.


Ucapan Dara membuat langkahnya terhenti saat itu juga namun dia menoleh padanya dengan tajam.


"Suruh ayah dari anakmu pergi jauh jauh, jangan membuatku kesal Dara, aku bisa berhenti sekarang juga kalau kalian terus bertemu di hadapanku!"


.

__ADS_1


.


Wkwkw ... Bang Biru cemburu niyeeee, othor gemes banget sama si BiDar nih,


__ADS_2