
"Apa kau bilang? Kalau kau ingin berhenti silahkan berhenti saja, jangan membuatnya sebagai hal itu sebagai alasan. Ayo Dara, ikut denganku dan biarkan pecundang sialan ini!" ujar Rian yang menarik pergelangan tangan Dara.
Namun Dara masih menahan diri, dia tidak ingin membuat kekacauan lagi terlebih keluarga Anderson yang hendak menanam saham pada perusahaan ayahnya mqsih melihatnya dari ujung koridor.
"Dara kau dengar aku kan?" Bentak Rian dengan keras.
"Mas!"
"Ayo pergi denganku!"
Rian maju dan kembali menarik Dara, hingga keduanya terlihat tarik menarik satu sama lain.
"Mas lepas, kita bisa pergi nanti aja!"
Rian terus memaksa gadis 19 tahun itu hingga Biru mencekal pergelangan tangan dan menariknya sedikit ke atas, dia memutarkannya dengan kuat hingga Rian kesakitan.
"Dua hal yang tidak boleh kau lakukan pada seorang wanita ... Berkata kasar dan berbuat kasar. Dan kau melakukan keduanya sekaligus!" Tegas Biru dengan rahang mengeras, memiting pergelangan tangan Rian lalu mendorongnya hingga pria itu terhuyung kebelakang.
"Aaa--- Aarrgh. Kau gila ... Kau ingin mematahkan tanganku?"
Biru berseringai, kembali menggenggam jemari Dara dengan terus menajamkan kedua maniknya ke arah Rian yang berhasil kembali berdiri tegak walau memegangi pergelangan tangannya yang sakit.
"Ayo pergi Dara!" cicit Biru yang kemudian berjalan membawa Dara dan meninggalkan Rian begitu saja.
Ada yang hangat menjalar di sanubari Dara, melihat pria yang dia minta untuk bertanggung jawab atas kehamilannya, pria yang bersikap lembut dan berusaha melindunginya terlepas seberapa menyebalkannya sikap Biru sebelumnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nyonya Anderson, yang tidak lain adalah ibu kandung dari Alex.
Biru bisa saja mengatakan hal yang akan membuatnya kembali di untungkan, dia bisa mengatakan jika Rian mengganggunya atau apalah itu. Namun dia tidak melakukannya.
"Tidak Tante, hanya persoalan masa lalu yang belum kelar."
"Hah?" Kedua manik Dara membola.
__ADS_1
"Benarkah? Apa dia mengganggu kalian?"
"Sedikit, dia hanya seseorang dari masa lalu istriku yang tidak terima dengan pernikahan kami. Bukan begitu sayang?" Biru menoleh ke arahnya dengan tatapan meneduhkan, membuat Dara menelan saliva dan bingung menjawabnya.
"I---iiyaa Tante." jawabnya dengan gagap.
"Oh ... Tante beri tahu ya, pria seperti itu tidak baik. Kenapa ... Karena dia tidak bisa menerima kenyataan dan masih mengejar wanita yang sudah menikah!" cicitnya dengan tangan menghalangi bibirnya saat bicara.
Dara tersenyum datar, lalu menolehkan pandangan ke arah Biru yang justru mengedipkan satu matanya dengan ujung bibir yang melengkung.
"Ayo masuk!" seru Baskoro yang tidak ingin terus membahas calon menantu idamannya. Rian.
Semua orang masuk ke dalam ruangan Baskoro, begitu juga dengan Biru dan Dara yang masih saling menggenggam, sesekali Biru menoleh kepadanya lalu tersenyum, dan itu membuat Dara hampir gila. Sedangkan Rian yang melihatnya dari kejauhan dibuatnya marah dan mengepalkan tangannya.
"Sialan ... Dia membuat tanganku sakit dan dia berani mengolok ngolokku di depan Dara!" cicitnya.
Baskoro terus memperhatikan Biru yang masih betah memegang tangan sang putri, pria itu terlalu banyak mengambil kesempatan dari keluarganya terlebih dari anak semata wayangnya.
"Ya?" Biru sampai berjingkat karena suara Baskoro mengagetkannya saat hatinya merasa tenang menatap Dara.
Baskoro semakin membulatkan bola matanya, lalu melirik jemari mereka yang masih mengerat satu sama lain.
"Lepaskan tanganmu! Kau ingin terus seperti itu padahal kita di kantor? Dan Nyonya dan Tuan Anderson ada di sini?" ucapnya lagi.
"Sudah biar saja, mereka sangat manis. Tidak perlu memarahinya." Nyonya Anderson membuka suara lagi dan memberikan dukungan lebih untuk Biru.
Melihat hal itu tentu saja Biru senang, selain membuat Baskoro kesal oleh ulahnya, dia juga bisa dekat dekat dengan Dara. Menatap wajahnya yang manis dan juga sedikit galak.
Setelah beberapa point yamg harus di ketahui opeh Biru, keluarga Anderson pun mulai menggelontorkan dana untuk perusahaan Baskoro. Tidak tanggung tanggung, mereka memberikan dana yang besar untuk Baskoro.
Biru menatap Baskoro yang terlihat sumringah, wajahnya berseri seri dan terus tertawa gembira karena perusahaannya terselamatkan. Tanpa dia tahu siapa yang ada di balik itu semua.
Kau akan kaget sampai rasanya terkena serangan jantung kalau kau tahu semua papa Mertua, Batin Biru.
__ADS_1
Dara berjalan ke arahnya, dan berdiri disampingnya tanpa menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu lihatin terus Papa kayak gitu?" ujarnya dengan menyenggol lengannya.
"Ahh ... Oh ... Itu karena Papa mertua luar biasa, aku yakin semasa muda dia sangat tampan dan gagah. Aku kagum padanya," kilahnya dengan memuji.
Dara mendengus kecil, "Kamu yakin gak lagi ngerencanain sesuatu kan?"
"Aku ... Apa yang bisa aku rencanakan? Aku bahkan tidak mengerti kenapa mereka ingin aku menjadi pengawas proyek ini. Jujur aku tidak mengerti bisnis. Keluarga hanya pengusaha kecil dan aku tidak berminat terjun di dunia Bisnis mereka!" kilahnya lagi.
"Dasar anak yang gak berbakti, harusnya kamu bantu keluargamu sebisa mungkin. Gimana nanti kau menghidupi anak dan istrimu?"
Biru menoleh ke arahnya, "Memangnya kamu mau aku menghidupimu?"
Plak!
Dara menggeplak lengannya dengan sangat keras sampai Biru tersentak dan membulatkan kedua manik hitamnya.
"Jangan ngarep, aku gak bahas tentang itu!" ujar Dara dengan berlalu.
Biru menggelengkan kepalanya, jika saja bukan di kantor mungkin dia akan membalas perbuatan Dara dengan setimpal. Menciumnya lagi seperti tadi pagi mungkin. Membayangkannya saja membuat ujung bibir Biru melengkung, namun itu tidak berlangsung lama karena lagi lagi Baskoro menyorotinya dengan tajam.
Namun dengan sengaja Biru menghampiri Dara dan mengecup pucuk kepalanya dengan menatap ke arah Baskoro dengan sengaja.
Tidak hanya Baskoro yang kaget, Dara pun demikian hingga dia berbalik dan langsung berhadapan dengan Biru.
"Kurang ajar!" gumam Baskoro kesal, namun dia tidak mampu berbuat banyak.
"Biru!" gumam Dara, "Gak.usah ngambil kesempatan dalam kesempitan bisa kan? Jangan mentang mentang ada mereka lantas kamu seenaknya!"
Biru mengangguk dengan tersenyum, berdiri di hadapan Dara dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Aku harus berterima kasih pada mereka."
__ADS_1