Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.09(Caraku)


__ADS_3

Hampir satu jam Biru dan Alex berada di rumah sakit tanpa melakukan sesuatu, mereka hanya menunggu situasi tampak sepi, karena pada saat itu kondisi rumah sakit cukup ramai. Banyak sekali orang yang datang untuk melihat keadaan Dara. Sepertinya Mereka semua tidak tahu jika Dara hanya berpura pura saja.


Alex yang berjanji mencari cara yang lebih baik nyatanya hanya diam saja dan bermain ponsel. Membuat Biru kembali kesal dan merebut ponsel dari tangannya.


"Apa yang kau lakukan, ku suruh kau cari cara agar aku bisa memberi pelajaran pada Dara, bukan hanya diam seperti orang yang cacingan seperti itu." ujarnya kesal.


Alex berdecak, "Aku sedang mencari caranya di internet, cara yang paling aman agar kita tidak d ketahui orang nanti, menyamar sebagai dokter itu sudah umum, menyamar sebagai suster apalagi, lagi pula di dalam sana sudah pasti ada ayah dan ibunya, juga pria itu. Kau mau ketahuan sebelum kau bicara dengan Dara, begitu? Yang ada urusan makin repot nanti!" tukas Alex yang kembali merebut ponsel miliknya dari tangan Biru. "Kau juga harusnya berfikir, aku kan sudah bilang jangan lakukan hal hal yaang di luar batas, kau ini susah di nasehati" tukasnya lagi, Alex mulai geram.


Biru berdecak, menendang kaki Alex menggunakan tumit sepatunya. "Aku tidak menerima nasihat busuk dari mu, kita lakukan dengan caraku saja!"


Biru bangkit dan berjalan, membiarkan Alex melongo dan tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.


"Jangan melakukan hal yang aneh, jangan gila dan jangan nekad!"


"Kau tahu aku bukan pria yang seperti itu, tindakanku selalu panjang dan rasional. Semua berdasarkan pemikiran, juga matang dan tidak akan setengah setengah," Ucapnya pada Alex di depan sebuah tiang yang terdapat tombol yang di lapisi oleh kaca. "Jadi jangan bermain main denganku saat aku berlaku baik padamu." ujarnya kesal dan langsung menekan tombol merah tersebut, lalu berlari.


Tombol yang baru saja di tekannya adalah tombol peringatan kebakaran, entah apa yang merasukinya hingga dia nekat membunyikannya dan mengabaikan nasihat serta saran dari Alex.


Bunyi sirine bergaung kemana mana, para petugas rumah sakit yang mulai panik dan sibuk membantu pasien pasien gawat dan kritis maupun dalam keadaan yang memprihatinkan.


Mereka berhamburan keluar dari ruangannya masing masing sementara Alex berdecak namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain membantunya.


"Kalau sudah begini, mampus kita Biru!" Teriaknya kesal.

__ADS_1


"Kau hanya perlu memisahkan keluarga Dara saja, agar aku bisa membawa Dara!" kata Biru yang sejak tadi mengabaikan ucapan Alex dan fokus pada tujuanya saja


"Tambah gila kau ini!"


Di saat orang orang berhambur ke luar dan menyelamatkan diri dari dugaan kebakaran di area rumah sakit, justru Biru berlari ke arah sebaliknya, dia bergegas mencari keberadaan Dara, dan Alex berada di belakangnya bertugas memisahkan keluarga Dara. Dan tepat di saat itu mereka terlihat sedang berlari, bahkan Dara yang diduga sakit pun justru berlari kencang.


Grep!


Biru berhasil memegang tangannya, sementara Alex mengecoh kedua orang tuanya yang kalut dan ingin menyelamatkan diri. Mereka terpisah dan masih belum sadar jika sang putri kini tidak lagi bersama mereka, sementara Rian sudah tidak terihat sejak tadi.


Dara tersentak kaget saat melihat Biru. Entah pria itu sengaja menolongnya atau apa.


"Biru?"


"Heh .. Kamu gila ya!" Ujarnya dengan menepis tangan Biru. "Ngapain sih! Ada kebakaran ini, malah masuk kesana. Gimana kalau kebakarannya ada di dalam sana?" ujarnya lagi heran.


Biru membalikkan tubuhnya, dengan tatapan tajam melihat ke arah Dara yang tidak terlihat merasa bersalah sama sekali,


"Kau benar benar berfikir di sini ada kebakaran. Hm?"


Dara terdiam, kedua matanyaa menelisik tajam, "Jadi kamu sengaja bikin alarm kebakaran itu bunyi?"


"Tentu saja!"

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan itu!" Dara berdecak.


"Kecurangan! Sama seperti yang kau lakukan lebih dulu. Licik! Kau fikir aku menolongmu. Lagi?"


Dara yang terkesiap dengan kedua matanya yang membola sempurna berdecih. "Kamu emang gila, nekat banget sih!"


Tanpa berbicara lagi, Biru langsung menarik kembali tangan Dara dan membawanya pergi melewati jalan belakang, dimana motornya terparkir. Sementara Dara terus memberontak dengan meronta ronta dan minta Biru untuk melepaskan pegangannya yang semakin menguat seiring dia melawan.


"Jangan gila ya, kau mau bawa aku kemana?"


"Kenapa kau lakukan itu hah? Kenapa kau melanggar perjanjianmu yang kau buat sendiri. Apa kau tidak tahu akibatnya. Orang tuamu berfikir akulah penipu! Itu karena mu!" ujarnya menghempaskan tangan Dara dengan kasar,


Dara mengelus pergelangan tangannya yang memerah dan sedikit meringis karena sakit.


"Kamu gila Biru! Aku mau pergi!" ujarnya dengan membalikkan tubuhnya.


"Kau gadis yang gila, yang tidak tahu terima kasih, aku sudah menolongmu dari awal, tapi kau mmbalasnya seperti ini, jadi jangan salahkan aku jika aku berlaku kejam padamu!" ucapnya dengan mendorong bahu Dara lalu menyuruhnya naik, sementara dia langsung menaiki motor setelahnya.


Dara mencebikkan bibir saat tahu rencananya berantakan dan kini membuat Biru marah, orang tuanya pun sudah marah pada Biru.


Biru menjalankan mesin kendaraan roda dua miliknya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Dara ketakutan, gadis itu hanya berpegangan pada besi yang berada di belakangnya sambil terus berdoa. Dan mulai heran saat jalan yang di laluinya tidak dia kenali.


"Kamu mau bawa aku kemana brengsekk!"

__ADS_1


__ADS_2