Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.56(Serangan jantung)


__ADS_3

Baskoro tidak berkutik saat Prasetya mencecarnya karena kelakuan Dara yang kembali berurusan dengan Biru. Dia marah karena menganggap Baskoro tidak menepati janji. Sementara Rian tersenyum tipis melihatnya, dia sangat puas saat melihat Baskoro tidak berdaya.


"Lebih baik kita batalkan saja kerja sama kita kalau kau sudah tidak menepati janjimu sendiri! Kami sudah banyak membantu tapi ini balasan yang kami dapatkan darimu!"


"Aku akan memperbaiki semuanya, aku pastikan Dara tidak akan menemuinya lagi. Bagaimana kalau kita percepat lagi pernikahan mereka supaya anak itu tidak kembali mencari Dara. Hm? Bagaimana?"


"Om fikir hanya dia yang berani menemui Dara, anak Om saja berani menemuinya dan membohongiku!"


"Kau dengar itu Baskoro! Putraku sendiri yang melihat mereka berdua, aku fikir putrimu lugu dan Rian yang memiliki kesalahan terbesar di sini, tapi aku salah karena nyatanya putrimu tidak selugu dugaanku!"


Entahlah apa yang harus Baskoro lakukan supaya bisa menyakinkan mereka berdua, hubungan diantara mereka berubah jadi buruk karena Biru. Fikirnya.


"Kita percepat pernikahan agar mereka tidak lagi saling bertemu Pras. Aku mohon agar semuanya jelas dan Rian segera bertanggung jawab." katanya lagi.


Rian menghampiri ayahnya dan terlihat berbisik lirih, Baskoro tidak bisa mendengar apapun namun terlihat Prasetya mengangguk anggukan kepala seraya tersenyum.


"Maaf Bas ... Kita tidak bisa mengabulkannya, Kami memiliki mega proyek yang lebih penting! Dan urusan pernikahan aku serahkan pada Rian, kalau putraku masih menginginkan Dara, dia pasti akan menikahinya!"


Baskoro tersentak, menatap lirih ke arah Rian yang juga mengangguk anggukan kepala.


"Tenang saja Om, aku pasti akan menikahi Dara, tapi itu tadi ... Aku akan mengurus sesuatu yang lebih penting dulu!" sahutnya dengan melirik jam tangannya. "Papa sudah waktunya kita pergi!" ucapnya lagi lalu pergi begitu saja.


Prasetya pun berlalu meninggalkan Baskoro sendirian, tidak peduli padanya karena mereka harus segera pergi untuk meeting.


Baskoro menghela nafas, semua kekacauan ini karena bocah tengil bernama Biru. Gara gara dia, dirinya harus bersikap tidak tahu malu serta memohon pada Prasetya seperti ini.


Baskoro kembali pulang dengan perasaan kecewa dan marah, dia langsung pergi ke kamar Dara untuk meluapkan kemarahannya.


Brak!


Pria itu langsung menarik Dara yang tengah terbaring di atas ranjang hingga tersentak.


"Dara! Sekarang juga kau harus memohon pada Rian untuk segera menikahimu."


"Aku gak mau Pap! Aku gak mau mohon mohon pada orang yang gak berniat tulus dan bertanggung jawab! Papa salah kalau menyebut Biru tidak tahu diri dan memanfaatkan Dara, nyatanya Rianlah yang mempermainkan Papa."


Cekalan Baskoro ditangannya semakin kuat saja, membuat Dara kesakitan dan meringis.

__ADS_1


"Lancang sekali mulut mu itu!"


"Lepas ... Tangan ku sakit!"


"Sakit ...? Apa kau tahu sesakit apa Papa saat tahu kau diam diam bertemu bocah itu Dara! Dan jangan berani mengatai Papa,"


"Itu memang kenyataannya Pap, Papa hanya memikirkan satu sisi saja, apa bedanya Rian? Dia yang harusnya bertanggung jawab dari awal justru datang seolah sebagai pahlawan, apa Papa gak sadar itu? Dara udah gak mau nikah sama Rian, Dara bisa besarkan anak ini sendirian! Dara gak mau mohon mohon!"


Baskoro menghentakkan tangannya dengan kasar, tidak peduli pada Dara yang kembali menangis. "Memangnya kau mampu hah? Apa kau mampu ... Kalau kau tidak menikah dengan Rian, kau sendiri akan sengsara. Anakmu butuh ayahnya, dan perusahaan Papa yang akan bangkrut, kita tidak akan punya apa apa lagi Dara!"


Terlihat wajah sang ayah sangat sendu dan juga menyedihkan, kesedihan dan juga kekecewaan yang terlihat jelas.


Baskoro terduduk lemas, membasuh wajahnya dengan kedua tangan.


"Papa tidak punya apa apa selain perusahaan yang harus Papa jaga, dan Papa tidak punya siapa siapa selain kau Dara, Papa mengandalkanmu!" lirihnya sedih.


Dara menangis tersedu sedu, tubuhnya lunglai ke bawah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sementara Biru belum juga tahu bagaimana keadaannya.


Drett


Drett


"Dara ... Kamu harus tahu kalau saat ini bukan hanya kamu yang menderita Nak, tapi kita semua. Perusahaan Papa berada di ujung tanduk, tanpa Prasetya dan Rian, mungkin perusahaan itu sudah bangkrut sejak lama. Dan sekarang karena ulahmu juga bisa bisa Prasetya menghentikan kerja sama dengan Papa!" ungkap Sophia dengan mengelus kepala Dara.


Gadis itu hanya menangis saja, "Apa hanya itu satu satunya cara. Apa kalian tidak punya cara lain lagi. Kenapa Dara yang dikorbankan Mam?"


Pyarrrrr!


Suara pecahan kaca terdengar keras, membuat keduanya tersentak dan berlari keluar dari kamar.


Pyarrr!


Brakk!


Suara keras kembali terdengar dari ruangan kerja dimana Baskoro tadi masuk ke sana setelah ponselnya berdering. Sophia dan Dara segera kesana dan membuka pintu.


"Astaga Papa!!"

__ADS_1


Terlihat Baskoro sudah tergeletak tidak sadarkan diri, Sophia mengguncangkan tubuhnya namun Baskoro tidak bereaksi.


"Papa!"


"Apa yang terjadi?"


"Dara telefon ambulance, Papa harus segera kita bawa ke rumah sakit!"


Situasi begitu mencekam, Sophia dan Dara pun begitu panik saat Baskoro tergeletak tidal sadarkan diri. Dia memiliki riwayat jantung dan sepertinya kumat setelah mendapatkan telefon.


Dara langsung berteriak memanggil supirnya untuk membawa Baskoro juga menelefon rumah sakit, dia juga mau tidak mau menelepon Rian agar segera datang membantu namun pria itu tidak mengangkat teleponnya.


Ditempat lain Rian berdecak berkali kali setelah tahu Dara menghubungi setelah keributan di antara mereka.


Rian dan Prasetya sudah berada di kantor Global globe untuk meeting.


Hampir satu jam Rian menunggu, dia dan ayahnya memang datang lebih cepat karena tidak sabar namun ternyata pihak perusahaan kesulitan menghubungi Pimpinan mereka.


Kepala manager datang menemui mereka yang sudah siap itu dengan wajah yang sulit di artikan.


"Maaf ... Saya baru dapat kabar jika meeting hari ini diminta di reschedule karena ada beberapa kendala dilapangan. Kami akan jadwalkan lagi dan mengabari anda!"


Terang saja Rian dan Prasetya kecewa, terlihat wajah keduanya masam dan tidak karuan.


"Kapan itu?"


"Soal itu kami harus koordinasikan lagi dengan pimpinan kami!"


Rian mendengus pelan dan langsung pergi begitu juga dengan sang ayah.


"Apa yang terjadi, padahal kita sudah lama menunggu di sini dan mereka mendadak memberitahu. Kenapa tidak dari awal!" dengus Rian kesal.


"Kita harus sabar Rian, ingat perusahaan kita lebih unggul daripada yang lain! Ini sangat jarang terjadi, Global globe sangat jarang bekerja sama. Mereka lebih ahli dalam persoalan merger!"


"Benarkah?"


Prasetya mengangguk, "Kita akan pelan pelan masuk dan menusuknya dari dalam!"

__ADS_1


__ADS_2