
Keesokan paginya Dara terbangun setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya. Suara sang ibu terdengar lirih memanggilnya.
"Dara ... Kamu sudah bangun sayang?"
"Dara ...!"
Dara melangkahkan kakinya gontai menuju pintu kamar dan membukanya perlahan.
"Syukurlah kau sudah bangun, cepatlah turun!"
Dara mengernyit, "Ada apa Mam?"
"Pokoknya turun saja, nanti kamu tahu sendiri." ucap Sophia lalu melengos pergi.
Walaupun Dara tidak tahu apa yang terjadi tapi dia langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap siap. Tidak lama Dara segera turun setelah mandi dan merias wajahnya sederhana saja. Kehamilannya memang tidak merepotkan, dia hanya mual saat mencium parfum yang menyegakkan. Tapi sejauh ini dia tidak terganggu sama sekali.
Trap
Trap
Trap
Langkah kakinya terdengar menuruni tangga, dan belum juga sampai di lantai bawah, langkahnya terhenti.
"Mau apa lagi sih dia?" dengusnya saat melihat Rian dan juga Prasetya duduk di sofa,
Sedangkan Sophia dan Baskoro duduk di depan mereka.
"Selera makanku jadi hilang!" ucapnya lagi, secara dia baru saja bangun tidur.
Rian menatapnya tanpa jemu, walaupun Dara tidak meliriknya sedikitpun, semenjak kejadian di rumah sakit dia sudah semakin muak melihatnya.
Rian bangkit dan langaung menghampirinya. "Dara ... Maafkan aku! Aku tahu aku salah ... Maafkan aku atas kejadian kemarin!"
__ADS_1
Dara tidak menjawabnya, dia langsung melenggang melewati Rian yang berdiri menunggunya.
"Dara ... Apa aku harus bersujud agar kamu memaafkanku?" Rian kembali menyusulnya.
"Sujud saja!" Ungkap Dara yang memilih tidak pedulu sama sekali padanya.
"Dara apa kau tega padaku. Bagaimana pun juga aku ayah dari anak yang kau kandung!" Tentu saja Rian tidak benar benar ingin bersujud minta maaf, dia tahu jika Dara tidak tegaan.
"Masa?" Dara sudah tidak ingin mengurusi soal siapa ayah kandung anaknya, baik Rian sekalipun.
"Dara ... Lebih baik kita bicara baik baik ya. Maafkanlah Rian. Kelakuannya tempo hari itu karena Rian belum dewasa!" tambah Prasetya.
Dara hanya mendengus saja, setelahnya dia duduk di samping ayahnya. Melirik dua orang tamu yang semakin memuakkan. "Kenapa kalian datang kemari. Bukankah kalian sendiri yang bilang kalau gak akan ada pernikahan. Jadi kita udah gak punya urusan apapun itu!"
"Dara ... Kami kesini memang bukan untuk membahas soal itu. Kami juga tidak akan berubah fikiran, kami datang dengan segala kerendahan hati kami untuk meminta maaf!"
"Ooh ... Jadi harga diri dan martabat kalian sengaja di rendahkan hanya untuk minta maaf?" tukasnya lagi semakin kesal saja, bagaimana tidak, kedatangan mereka dan perminta maafan dari mereka bisa jadi karena terpaksa.
"Baskoro ... Aku tahu Rian bersalah, tapi apakah kau akan membiarkan Dara seperti itu? Dia putrimu satu satunya dan aku sangat mengerti keadaannya. Tapi---"
"Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin?"
Baskoro memang tidak tahu apa apa, dia juga tidak tahu jika Rian berbuat buruk pada putrinya.
Sophia pun menjelaskan apa yang terjadi, dan tidak lupa juga menceritakan soal Biru yang datang tepat waktu saat itu. Jika tidak dia tidak tahu kemungkinan apa yang dilakukan Rian pada Dara.
Baskoro terlihat kaget, dia menatap tajam ke arah Rian yang berani berbuat buruk pada putrinya. Namun bak harimau yang kehilangan taringnya, Baskoro tidak bisa marah seperti biasanya. Ditambah Sophia mengingatkan kesehatannya.
"Tenanglah Pap ... Yang penting Dara tidak apa apa!" ucap Sophia dengan mengelus bahu suaminya berulang kali. Dia takut jika penyakitnya kembali kambuh dan berakhir lebih fatal dari kemarin. "Bas ... Kita ini bersahabat sejak lama, aku tahu kau pasti marah dan tidak terima perlakuan putraku pada putrimu. Tapi Bas ... Kau tahu kalau ada cucu kita hm ... Itu tidak akan bisa kita ubah!"
"Cucu?" celetuk Dara, "Ini bukan cucu mu? Bukan anak Rian juga!"
Prasetya menghela nafas, bagaimanapun caranya mereka harus membujuk Dara agar tidak ada lagi masalah dengan G.G Corps.
__ADS_1
"Bas ... Maafkan kami!" Prasetya sangat yakin jika Baskoro tidak akan mempermasalahkan hal itu. "Sudahlah Pras ... Aku tidak bisa berkata kata dan menjelaskan apa apa padamu, masalah itu aku serahkan pada Dara." kata Baskoro, jujur saja dia ingin sekali marah dan memukul Rian, tapi dia juga ingat harus menahan diri sebab tidak ingin kembali masuk rumah sakit. Dan itu membuat Dara tersenyum tipis ke arahnya.
Prasetya melirik putranya, walaupun tidak mengatakan apa apa tapi sepertinya Rian faham soal tatapan itu
Rian pun berjalan mendekat dan kini meluruh di lantai, dia bersimpuh di depan kaki Dara.
"Dara ... Maafkan lah aku! Aku bersalah padamu soal hari kemarin, aku khilap dan aku kalap. Itu karena aku juga kesal dengan apa yang terjadi. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku Dara!"
Dara tersentak saat Rian memegangi kedua kakinya minta di maafkan.
Baskoro dan Sophia hanya bisa diam saja, tapi tidak untuk Dara, gadis itu menghentakkan kedua kakinya agar tangan Rian terlepas.
"Maaf ... Enak aja, aku tahu kamu dan ayahmu minta maaf karena terpaksa iya kan."
"Dara!!"
"Sudahlah Rian, lebih baik kamu pergi. Aku tidak mau melihatmu lagi."
"Dara aku mohon ... Kami datang kemari tidak dengan terpaksa! Aku mohon Dara." Rian kembali bersimpuh dan kali ini membungkuk lebih rendah.
Sial ... Aku harus melakukan hal seperti ini pada Dara, ini semua karena Papa dan si Sialan itu. Batin Rian.
Dara tetap tidak bergeming, enak saja memaafkan orang seperti Rian dengan mudah. Pria itu tidak hanya menghancurkan hidupnya saja, dia juga berniat menghancurkan hidupnya semakin buruk.
Aku tidak tahu jika kemarin gak ada Biru, apa kau akan bersujud seperti ini Rian. Aku rasa itu mustahil. Dan permintaa maafan mu yang terkesan lebay ini karena kamu takut akan sesuatu. Apa Biru juga mengancamnya? Kalau pun iya, mereka berdua sangat keterlaluan. Meminta maaf kayak gini bukan karena nyesel tapi karena di ancam. Batin Dara bicara.
Prasetya akhirnya membangunkan Rian sebab Dara tidak juga bergeming dan memaafkannya.
"Sudah Rian, kita sudah berusaha meminta maaf padanya tapi dia keterlaluan sampai tidak memaafkanmu. Lebih baik kita pergi dan jangan lagi berurusan dengan mereka!"
Rian menoleh pada ayahnya yang terlihat kesal itu, dan menatap tajam pada Dara yang masih memilih diam tidak bicara sedikitpun.
"Kau tahu Baskoro ... Aku akan segera menarik sahamku di perusahaanmu itu! Dan kau akan menyesal Bas!"
__ADS_1