Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.83(Nomor 1 tetap keuarga)


__ADS_3

"Maksudmu siapa orang lain?"


Biru membulatkan kedua mata ke arah Dara.


"Heh ... Maksudku adalah orang orang lain, selainmu!"


"Selain aku? Siapa ... Katakan siapa orang lain selain aku itu?"


Biru sedang mode cemburu bak seorang anak kecil, orang lain selainnya yang di maksud Dara tentu bukan pria pria seperti dugaannya.


"Biru ... Apa kamu setiap hari bertemu orang?"


"Tentu saja!" Ujarnya, dan sedetik kemudian dia terbeliak, baru faham apa yang di katakan Dara.


"Nah orang orang itu apa hanya Alex aja, enggak kan ... Orang lain, banyak ... Bahkan penjual di jalanan juga orang kan, tukang parkir, dosen, supir aku ... Orang juga kan?" jelas Dara semakin rinci.


"Baiklah aku faham Dara, orang lain itu mereka. Apa kau juga mual saat ketemu mereka?"


"Sedikit, hanya kalau aku mencium aroma aroma yang aneh, kecuali parfummu!"


Biru terkekeh, "Tentu saja, parfum ini tidak ada disembarang tempat. Hanya aku, Air dan Daddy yang punya. Juga Mami!"


"Iya aku ngerti, parfum mahal kan dan hanya di pesan khusus oleh keluargamu. Aku tahu itu, ada sebagian orang orang sultan yang memiliki parfum khusus mereka."


Biru terkekeh, "Bukan hanya khusus ... Tapi Mami yang membuatnya sendiri."


"Benarkah? Wow keren sekali Mami mu! Pasti dia sangat jago soal racik meracik."


Biru mengangguk, tersenyum dan ingat bagaimana ibunya menceritakan asal muasal parfum yang di buatnya, bahkan sampai sekarang selalu saja ada perdebatan dengan sang ayah yang tidak mau memproduksinya besar besaran dan dipasarkan walaupun peluangnya sangat besar.


"Kenapa kamu senyum senyum?" tanya Dara yang melihat Biru melamun mengingat cerita itu.


"Tidak apa apa Dara ... Tiba tiba aku merindukan orang tuaku!"


Dara mengangguk mengerti, karena kesibukannya Biru pasti sudah jarang bertemu ayah dan ibunya juga adiknya yang menggemaskan.


Tidak berlangsung lama Alex masuk dan melihatnya, dia menghampiri Biru.


"Kita benar benar harus kembali ke kantor Bi!" bisiknya pelan, setelahnya dia kembali menegakkan tubuhnya dengan memasang wajah dingin. Benar benar twrlihat seperti asisten yang profesional.


Biru mengangguk, "Dara ... Maafkan aku, sepertinya aku harus kembali ke kantor!"


"Iya ... Maaf karena kamu harus nyempetin waktu buat datang nemuin Papa tadi." ujar Dara dengan menggenggam jemari Biru.

__ADS_1


"Itu bukan masalah, aku akan selalu menomor dua kan mu!"


Dara mengernyit, "Jadi nomor dua ya?"


"Ya ... Karena nomor satunya tetap keluarga, kecuali kalau kau sudah jadi nyonya Sagara. Kau akan jadi nomor satu. Bukan begitu?" Biru mencuil hidung Dara. Dara kini tersenyum, membayangnya menjalani hari harinya menjadi nyonya Sagara, merasa di cintai dan juga di hargai sedemikian rupa. Dia yakin hari harinya nanti akan sangat bahagia terlebih Biru menerima juga anaknya.


Biru akhirnya pergi dari rumah Dara, dia masuk ke dalam mobil dimana Alex sejak tadi menunggunya di sana, tak lama mobil pun melaju.


"Bagaimana Bi ... Apa tadi ada masalah?" tanya Alex.


Biru menggelengkan kepalanya seraya mengulum senyuman. "Tidak ada ...!"


"Lalu kenapa kau begitu lama di dalam. Kau tahu bokong ku panas karena terus duduk menunggu di mobil hampir 2 jam!"


"Kau seperti tidak tahu saja Lex!" akhirnya Biru terkekeh juga.


Alex menoleh dan menatap wajahnya yang berseri seri,


"Kau lupa sahabatmu ini? Kenapa mencari kesenangan sendirian padahal kau tahu aku bahkan tidak ada waktu mencari kesenangan!"


"Itu karena kau payah!"


Alex mendengus, walaupun tatapanya tepat pada ruas jalan. "Bagaimana aku tidak payah, waktuku saja kuhabiskan bersamamu. 7 x 24 jam kau tahu! Kalau begini caranya bagaimana aku bisa dapat jodohku sendiri!"


"Kau tanya aku? Kau tanya aku?" kata Alex berulang ulang.


"Katakan saja kau mau apa. Aku akan berikan apa saja selain mengambil libur dan juga cuti!" pungkasnya.


Alex terlihat sumringah, dia berfikir dengan cepat karena takut Biru berubah fikiran.


"Klub xxx ... Kita kesana nanti malam? Bagaimana Bi?"


Biru tampak terdiam memikirkan usulan dari Alex, semenjak bekerja waktu bersenang senang dan main main mereka memang terpangkas dengan sendirinya.


"Kau tidak lelah?"


Alex menggelengkan kepalanya. "Sore ini kita akan meeting mengenai pertemuan semua staff dan relasi sesuai keinginan Daddy mu ... Setelah itu kita masih ada waktu bersenang senang!"


"Baiklah ... Kau atur saja Lex ... Aku juga sudah lama tidak bersenang senang!"


"Tidak bersenang senang apanya? Kesenanganmu sudah berbeda semenjak bertemu Dara! Dia jadi kesenangan mu sekarang ... Kalian ... Ahk ... Sudahlah hanya akan iri saja kalau aku ceritakan!"


Biru menoleh ke arahnya. "Apa maksudmu? Apa kau melihatku berciu man tadi? Kau mengintip. Hah?"

__ADS_1


"Kau gila Bi ... Bagaimana kau bisa menyebutnya mengintip. Kau sendiri melakukannya di ruangan luar, aku tidak perlu bersusah payah mengintipmu karena aku bisa melihat siaran langsung itu!" tukas Alex menghela nafas. "Kau membuatku iri!"


Gelak tawa Biru semakin membahana, dia rasa dia bodoh kerena melakukannya sembarangan tempat.


"Mana sempat aku cari tempat Lex ... Kau nikmati saja siaran langsung ku itu!"


Alex mendengus. "Siallan!"


Keduanya tiba di kantor, semua orang terlihat panik dan juga berjalan terburu buru menuju ruangan meeting. Biru dan Alex saling berpandangan lalu melangkah masuk.


"Ayahmu sudah lebih dulu tiba Bi!"


"Hah ... Kenapa kau tidak mengatakannya langsung tadi? Mati ... Daddy pasti marah karena aku keluar dijam kantor!"


"Haruskah kau mengubah urutannya? Nomor satu keluarga, nomor dua pekerjaan dan nomor tiga baru Dara!" Cibir Alex yang mendengar sendiri perkataan Biru pada Dara tadi.


"Kau jangan meledek! Bantu aku cari alasan!"


Keduanya akhirnya tiba di ruangan meeting, benar saja Zian sudah lebih dulu masuk dan langsung menyorotinya yang baru saja tiba.


Meeting bulanan kali ini tampak istimewa sebab Zian yang tidak setiap bulan pergi ke indonesia kini hadir. Selain istimewa, para staff yang terlibat terlihat panik dan juga khawatir. Khususnya para syaff senior yang tahu bagaimana tabiat dari Zian.


"Kenapa ruangan ini terasa panas dan tengkuknya terasa pegal. Apa karena ada aku di sini?" tanya Zian.


"Ya!"


"Bukan!"


"Tidak!"


Pendukung terpecah jadi dua, ada yang keberatan dan juga tidak sama sekali keberatan. Sampai Zian bangkit berdiri.


Jangan ditanya lagi bagaimana Zian melakukannya. Aura kepemimpinan sangat kental terpancar dari wajah Zian dengan suara yang tegas juga tebal.


"Baiklah ... Berpura puralah tidak melihatku! Aku akan diam dibelakang agar suara kalian terdengar satu persatu!"


Beberapa staff mencegahnya, itu akan lebih berbahaya dan mengancam sebab Zian akan memgamuk jika ada kesalahan sedikit saja.


"Apa yang Daddy inginkan kali ini?"


.


.

__ADS_1


Seru yekan ... Seru dong pasti. ya iyalah ... Wkwkwk .... Syukurin tuh ... Sok soka sih pake acara menomor tigakan pekerjaan. Wkwkwk,


__ADS_2