Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.75(Keras kepala)


__ADS_3

"Pergilah ... Temani ibumu makan, kalian juga harus sehat saat menjaga yang sakit." cicit Biru tidak lama kemudian.


Alex yang hanya berdiri tidak jauh dari Biru pun mendekat. "Ayo Dara ...!"


Dara menoleh, melihat dua orang pria berada di belakang Alex lalu beralih pada Biru dan Biru pun hanya mengangguk saja.


Akhirnya Dara membawa Ibunya pergi, di temani oleh dua orang yang hanya mengikutinya dari belakang.


"Dara ... Apa mereka berdua itu pengawal Biru?" desis Sophia.


"Dara gak tahu Mam ... Baru hari ini Biru bawa orang orang kayak gitu!"


Sophia mengangguk kecil, mereka tidak biasa dengan pengawalan seperti apa yang dilakukan keluarga Prasetya maupun Biru saat ini.


Tapi Biru benar, ibunya sendiri harus menjaga kesehatannya jangan sampai ikut ikutan sakit karena kelelahan menjaga suaminya. Begitu juga Dara yang kadang lupa dengan makan dan juga kandungannya sendiri.


Sementara kedua pria itu hanya berjaga jaga di luar kantin saja, mereka tidak berani masuk maupun berjarak sangat dekat, dan mendekat jika ada tanda bahaya saja.


"Bi ...?" tanya Alex ... Entah apa yang akan dia tanyakan sebab dia menghentikan ucapannya sendiri.


Biru hanya menoleh ke arahnya sekilas lalu memilih masuk ke dalam ruangan inap Baskoro, terlihat pria paruh baya itu sedang terbaring lemah diranjang pesakitan. Tanpa upaya, tidak pula berdaya.


Perlahan Biru mendudukkan dirinya di sofa seraya mengambil ponsel dan mengotak ngatiknya sementara Alex menunggunya di luar.


Merasa ada seseorang di dalam ruangan selain dirinya yang sedang istirahat, Baskoro perlahan membuka kedua matanya. Dia terbeliak saat pandangan pertamanya tepat pada sesosok pria. Biru.


"Sore Om!"


Baskoro terkesiap, pria itu benar benar Biru. Namun kali ini dengan penampilan berbeda, tubuh atletisnya dibalut jas berwarna navi dengan lipatan yang sangat rapi. Rambutnya juga rapi klimis dan wajahnya tampan bercahaya, bahkan cara duduknya saja sangat berbeda, dia menopang kaki kiri di atas kaki kanannya, begitu juga dengan tatapannya.


"Bi---Biru?"


"Ya ... Ini aku, Om tidak lupa padaku kan?" ucapnya dengan tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya.

__ADS_1


"Aku ... Aku!"


"Om tenang saja, aku datang kesini bukan untuk menyerang orang yang sedang lemah, aku kesini untuk menjaga Om selagi Dara dan Tante Sophia makan siang yang terlambat!" terangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, sediit berseringai dengan tatapan mencela.


"Bi---Biru, maafkan Om!"


"Maaf ... Untuk apa minta maaf?"


"Untuk semuanya yang pernah Om lakukan padamu!"


"Apa karena Om sekarang tahu siapa diriku ini?"


Baskoro terdiam menatap Biru yang kini bangkit dari duduknya. "Apa jika aku bukan keluarga Maheswara Om tidak akan berubah fikiran dan tetap menganggapku buruk?"


"Ti--tidak ... Tidak begitu!"


"Lalu seperti apa, apa Om tidak akan bersikap seperti ini jika aku tidak membantumu? Om pasti akan terus perhitungan padaku. Sayang sekali!" Biru berdecak berulang kali seraya menatapnya.


"Apa yang harus aku lakukan padamu, untuk menebus semua kesalahanku Biru?"


"Biru ... Aku!"


Baskoro tergagap gagap mendengar ucapan Biru, tatapannya juga seringaiannya. Dia tidak tahu apa yang akan Biru lakukan padanya. Dan sesaat kemudian dia mencondongkan tubuhnya dengan tangan bertumpu pada tepi ranjang. Manatap Baskoro yang terlihat takut sekarang ini.


"Tepat sekali, aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang Om lakukan padaku. Dan mungkin aku akan membalasnya 10 kali dari pada yang Om kira. Om fikir aku membantu Om dengan cuma cuma? Om salah ... Om harus membayar semua yang sudah Om lakukan padaku. Tapi suttthhh ...." Biru kembali berseringai dengan jari telunjuk yang dia tempelkan di bibirnya. "Dara tidak boleh tahu!"


Baskoro terperanjat, apa yang akan Biru lakukan, penebusan apa yang harus dia lakukan. Apa Biru akan merambas semua miliknya, perusahaaannya, hartanya dan bahkan Dara.


"Biru ... Tolong maafkan aku!"


Biru kembali menegakkan tubuhnya lalu menghela nafas. "Apa Om akan mengatakan hal yang sama dengan berulang ulang seperti ini jika orang yang berdiri ini adalah Biru sebulan yang lalu? Fikiranmu sungguh picik!"


"Lantas apa yang kau inginkan dariku?" nada bicara Baskoro perlahan meninggi, dia tidak suka cara Biru memperlakukannya seperti ini. "Apa kau akan melakukan hal buruk padaku, apa kau akan melakukan hal buruk pada putriku Biru?"

__ADS_1


"Tidak ... Aku hanya ingin Om selalu sehat agar Om bisa menyaksikan semuanya sendiri, bagaimana orang yang kau hina ini sebenarnya, bagaimana orang yang sudah tulus diperlakukan tidak adil, dituduh macam macam dan juga di buat babak belur. Om fikir aku akan semudah itu memaafkan Om karena aku mencintai Dara? Om salah besar ...!" ungkapnya menohok.


Tidak lama kemudian Biru berlalu pergi, dia keluar dari ruangan inap.


Baskoro masih tercengang, dia takut Biru melakukan hal yang lebih jahat padanya. Pada perusahaannya dan juga pada Dara.


Lamat lamat dia menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Sementara Biru kini terkekeh, dia duduk disamling Alex yang menunggunya di kursi tunggu.


"Kenapa kau tertawa seperti itu?"


"Tidak ... Hanya sedikit lucu saja!" jawabnya asal.


"Bi ... Jangan berbuat hal yang akan membuatmu sulit sendiri. Berhenti main main, kau lupa bagaimana ayahmu kalau kau mengalami kesulitan. Aku yang akan terkena imbasnya juga!"


"Kau tenang saja, aku hanya sedikit mengertaknya saja, aku sedikit bercanda. Sungguh!"


Alex menghela nafas, "Kau mengancam Om Baskoro? Sementara kau menginginkan anaknya, kau sudah gila, bukankah kau sedang berusaha mengambil restu kedua orang tuanya Bi?"


Biru menoleh pada Alex dengan satu alia yang naik ke atas. "Dasar kau bodoh, kau fikir masih ada orang yang tidak suka padaku setelah tahu siapa aku? Kau fikir ayah dan ibu Dara tidak akan merestui aku saat tahu siapa aku? Kau sama piciknya dengan Baskoro!"


"Bi ...!"


"Lex ... Kau dengar sendiri tadi, ibunya saja langsung minta maaf setelah tahu siapa dan apa yang sudah aku lakukan padaku. Begitu juga dengan Baskoro, dia langsung minta maaf saat tahu aku datang. Dan jika aku tidak membuka identitasku apa mereka akan melakukan hal itu? Aku rasa tidak ... penipu dan orang tidak tahu diri akan terus mereka ucapkan padaku!"


Alex menghela nafas, dia tahu seperti apa Biru. Paling tidak suka di remehkan orang lain.


"Apa yang akan kau lakukan Biru? Kau akan menyakiti Dara kalau dia tahu kau masih memiliki dendam pada orang tuanya! Lagi pula mereka itu orang tua, kau tidak boleh melakukan hal seperti itu pada orang tua!"


Alex benar, Dara mungkin akan marah jika tahu, sebagai anak muda juga tidak boleh berlaku buruk pada orang yang lebih tua. Tapi itu Bukan Biru, ayah dan ibunya salah saja akan dia salahkan dan berani menentangnya.


"Apalagi mereka orang tua dari gadis yang ingin kau nikahi, bukankah harusnya kau mengambil hati mereka?"


"Kenapa aku harus mengambil hati mereka Alex? Mereka yang harusnya mengambil hatiku!"

__ADS_1


.


Othor suka gaya lo ... Wkwkwk, enak aja ya langsung minta maaf karena tahu lo anak triliuner, kalau lo bukan siapa siapa mana mau mereka minta maaf yekaan wkwk ... Gengsi dan keras kepalanya mah Nia banget, begonya dan marahnya bener kayak Zian. terBiru Biru deh othor sama anak itik kesasar.


__ADS_2