Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.121(Waktu yang melelahkan)


__ADS_3

"Kamu telah membuka mataku untuk melihat kebaikan dalam dirimu dan dalam dunia ini. Aku merasa beruntung memilikimu sebagai pendamping hidupku, Bi. Aku berjanji akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagimu."


Biru menatap Dara dengan penuh cinta dan rasa syukur. "Aku pun berjanji untuk selalu ada untukmu, Dara. Kita akan saling mendukung, saling menguatkan, dan saling melengkapi dalam setiap langkah perjalanan kita. Bersama, kita bisa menciptakan kebahagiaan yang abadi."


Mereka kembali berdua saling merangkul, merasakan kehangatan dan kebersamaan yang tak tergantikan. Di hadapan tantangan dan perjalanan yang menanti, mereka tahu bahwa cinta dan kepercayaan mereka akan menjadi pilar yang kokoh.


Dalam momen haru itu, Dara dan Biru merasakan kepastian bahwa mereka telah saling menemukan satu sama lain, dan bersama-sama mereka akan membangun kehidupan yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan kedamaian bersama buah hati mereka.


Biru menatap Dara dengan penuh tekad. "Dara, aku akan mengurus masalah dengan Rian. Aku tidak akan membiarkannya mengganggu kehidupan kita lagi kedepannya. Tapi aku butuh waktu untuk menyelesaikan hal ini dengan baik. Tolong tetap bersabar dan menunggu aku. Aku akan kembali ke pelukanmu, dan kita akan melanjutkan perjalanan ini bersama."


"Apa yang akan kamu lakukan Bi? Jangan melakukan apa pun yang bisa merugikanmu. Aku takut ...! Kita tahu selicik apa Rian."


"Kamu tenang saja, aku memiliki rencana yang baik tanpa melakukan kekerasan maupun kelicikan. Itu tidak akan ada habisnya. Aku akan menjeratnya dengan hukum. Biar mereka menerima hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan. Hm?"


Dara tidak menyangka, Biru sangat tenang dan tidak gegabah. Tutur kata dan kesabarannya yang tebal membuat pria tampan itu semakin dewasa dan mempesona.


Dara akhirnya mengangguk dengan penuh pengertian. "Aku percaya padamu, Bi. Aku akan menunggumu. Semoga masalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan gak ganggu kebahagiaan kita lagi. Aku akan selalu berada di sini untukmu, menunggumu sepanjang perjalanan ini."


Biru menggenggam tangan Dara dengan erat. "Terima kasih, Dara. Karena kepercayaan dari mu. aku merasa kuat untuk menghadapi apa pun yang terjadi. Bersama-sama, kita bisa mengatasi semua rintangan dan membangun masa depan yang cerah."


Mereka saling bertatap mata, merasakan ikatan yang semakin kuat di antara mereka. Dalam kebersamaan dan dukungan satu sama lain, mereka merasa yakin bahwa mereka dapat menghadapi dan mengatasi segala tantangan yang mungkin menghadang.


Dara dan Biru menyadari bahwa masalah dengan Rian tidak akan mudah diselesaikan, tetapi mereka bersama-sama, saling melengkapi dan saling mendukung. Dengan cinta dan keberanian, mereka siap menghadapi apa pun yang datang, sambil memelihara dan memperkuat hubungan mereka.


Akhirnya Biru kembali meninggalkan Dara setelah mengantarkannya ke ruang inap,


"Mami ... Tolong jaga Dara untukku. Aku akan kembali setelah urusanku selesai!" ucap Biru pada Sophia yang kini berada disamping Dara.

__ADS_1


"Tentu saja Biru ... Mami akan menjaga Dara dan berdoa untuk segala kebaikanmu. Terima kasih Nak!" tukas Sophia yang menggenggam tangan Biru dengan erat.


Biru mengangguk, menatap Dara sekilas lalu beranjak keluar.


Sementara itu Alex sudah berada di kantor, dia menunggu proses penyelesaian masalah dengan Rian beserta mengumpulkan bukti bukti kecurangan yang dilakukan Prasetya di perusahaannya. Dia sudah berjanji untuk tetap mendukung dan membangun kehidupan yang baik dengan Biru. Mendukung segala rencana Biru termasuk Biru yang ingin terus bersama Dara, merencanakan masa depan yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan keberhasilan, menatap hari-hari yang akan datang dengan optimisme dan keyakinan dengannya.


Selama tiga hari itu, kehadiran Biru di kantor benar-benar terasa kosong. Namun semua berjalan dengan baik karena Zian pun ikut andil selama Biru menemani Dara di rumah sakit.


Walaupun tidak menutup kemungkinan jika semua karyawan merasa khawatir dan penasaran dengan alasan ketidak hadiran Biru yang tiba-tiba. Beberapa dari mereka mulai berspekulasi tentang apa yang mungkin terjadi.


Di balik layar, Biru sibuk mengurus pekerjaannya yang berkaitan dengan perusahaan Prasetya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, meskipun dalam hatinya masih ada kekhawatiran dan beban yang ia pikul.


Brak!


Biru membuka pintu kantor dengan lebar. Membuat Alex yang tengah sibuk dengan berkas berkas melonjak kaget.


"Kenapa kau. Seperti orang yang baru saja terjaring penggrebekan!" tukas Biru yang langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kebangsaannya. "Kau sudah cari apa yang aku minta?"


Alex masih merengut karena ucapan Biru soal penggrebekan. Entah benar atau tidak Biru pun tidak tahu.


"Bicara yang benar. Kau ingin semua orang dengar dan berfikir hal hal buruk tentangku? Mana pernah aku terjaring penggrebekan!" Ucap Alex yang bangkit dari duduknya dan menghampiri Biru. "Ini semua data yang kau minta. Dan ini bukti bukti penyelewangan yang baru aku temukan setelah membobol data base perusahaan mereka.


"Kerja bagus Lex. Siapkan apa keinginanmu untuk bonus akhir bulan ini!"


Kedua mata Alex berbinar. "Kau serius?"


"Ya ... Apapun yang kau mau!"

__ADS_1


"Yess!!"


Alex pun bersorak gembira, dia langsung berjingkrak jingkrak kesenangan saat mendengarnya. Dan kembali berkutat pada pekerjaannya yang menyita waktu seraya berfikir apa yang dia inginkan untuk bonus akhir bulan.


Dalam keheningan kantor, semua staff bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa dari mereka mencoba menghubungi siapa pun melalui telepon atau pesan, terkait Biru yang tiba tiba hilang kabar dan berita yang menggemparkan yang juga tiba tiba menghilang begitu saja. Namun semuanya tidak mendapatkan informasi yang jelas terkait isu isu yang beredar. Kekhawatiran dan rasa ke ingin tahuan yang membesar kini sirna seiring berjalannya waktu.


Biru duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan bukti-bukti penyelewengan dana yang telah ia kumpulkan dengan teliti. Dia merasa tegang dan penuh dengan perasaan campur aduk.


Alex sudah memijit pelipisnya yang kini terasa berdenyut. Nyatanya rencana Biru benar benar penuh perjuangan dan menghabiskan waktu. Orang orang yang berkepentingan khusus dalam proses ini datang silih berganti.


Menggenggam bukti-bukti tersebut, Biru merasa berada di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, ia tahu bahwa mengungkap penyelewengan dana ini adalah hal yang benar dan penting untuk keadilan. Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa langkah ini akan memiliki konsekuensi besar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.


Biru merasakan beban moral yang berat. Dia merasa bertanggung jawab untuk membawa kebenaran kepada muka. Namun, ia juga sadar bahwa melakukannya akan membawa implikasi yang signifikan bagi perusahaan, termasuk Prasetya dan semua orang yang terlibat di dalamnya.


Penuh kekhawatiran dan pertimbangan, Biru memutuskan untuk berkonsultasi dengan orang-orang terpercaya dalam lingkungannya. Dia ingin mendapatkan sudut pandang lain, nasihat, dan dukungan mereka sebelum mengambil keputusan akhir.


Biru menyusun rencana dan memilih orang-orang yang akan diajak berbicara. Dia tahu bahwa langkah ini tidak boleh diambil dengan gegabah, dan bahwa keputusan yang ia ambil akan memiliki dampak jangka panjang.


Dalam pertemuan dengan mereka, Biru membuka diri tentang bukti-bukti yang ia temukan dan keraguan yang ia rasakan. Dia mendengarkan dengan seksama saran dan pandangan mereka, mencoba memahami berbagai sudut pandang yang ada.


Setelah serangkaian diskusi yang intens, Biru akhirnya merasa yakin dengan langkah yang harus diambil. Dia memutuskan untuk menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang kuat. Meskipun ia tahu bahwa perjalanan akan sulit, ia siap untuk menghadapi konsekuensi dan memastikan kebenaran terungkap.


Dengan hati yang berat, Biru mempersiapkan langkah berikutnya. Dia mengetahui bahwa perjalanan yang akan ia tempuh tidak akan mudah, tetapi ia bertekad untuk membawa keadilan dan integritas kembali kepada perusahaan.


Dalam hatinya, Biru tahu bahwa keputusannya ini akan mengubah segalanya. Namun, ia yakin bahwa dengan mengungkap kebenaran, dia sedang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar bagi dirinya sendiri, Dara dan putra mereka.


Alex menghela nafas berat, dia menghempaskan punggung dan pinggangnya yang terasa patah disandaran sofa.

__ADS_1


"Bi ... Aku lelah! Kenapa tidak kita hajar saja mereka sepuluh kali seperti kebiasaanmu dulu!"


__ADS_2