Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.53(Belum satu)


__ADS_3

Pagi itu suasana hati Dara berubah drastis, Biru kembali menghubunginya dan memintanya pergi ke suatu tempat setelah berhari hari dalam kesedihan yang cukup melelahkan.


Bahkan wajah Dara terlihat berseri seri saat turun dari kamarnya, berjalan ke arah meja makan di mana kedua orang tuanya menatapnya heran.


"Kau tampak senang hari ini sayang?" Tanya Sophia seraya mengolesi sehelai roti dengan selai coklat kesukaannya.


Dara hanya tersenyum, mengambil satu buah apel dan langsung menggigitnya.


"Rian sebentar lagi akan datang, hari ini jadwalmu ke dokter!" tambah Sophia.


"Aku akan sibuk sampe sore, mungkin ke dokternya juga sore atau malam. Aku juga udah minta dokter mengubah jadwalnya. Aku pergi dulu!" sahutnya tidak lama, melenggang keluar dari rumah menuju mobil.


"Ayo Pak ... Kita ke kampus!" serunya lagi pada supir pribadinya.


Baskoro dan Sophia hanya bisa menatapnya dari jauh, putri mereka sudah bisa ceria seperti biasanya tapi membuat mereka sedikit khawatir.


"Apa Dara tidak aneh Pap?"


Baskoro menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, tunggu saja laporan supirnya kemana dia pergi hari ini. Beritahu Rian kalau jadwalnya sudah di rubah!"


Sophia mengangguk, segera menghubungi Rian dan memberitahukannya jika jadwal kunjungan ke dokter kandungan dirubah menjadi sore hari.


Sementara Mobil melaju ke kampus, sepanjang perjalanan Dara terus mengotak ngatik ponselnya, berbagi pesan singkat dengan Biru yang membuat wajahnya semakin berseri seri.


Dan setelah sampai di kampus, Dara keluar dari mobil lalu bergegas turun.


"Pak nanti aku kabari pulang kuliah, hari ini aku banyak kelas! Dan jangan menghubungiku kalau gak penting penting amat!"


"Baik Non!"


Dara langsung berjalan masuk, sementara supir pribadinya kembali melaju pergi. Setelah memastikan supir sudah jauh Dara kembali keluar dan mencegat taksi.


Hari ini kuliahnya libur, tidak ada kelas satupun yang dia ikuti. Namun masuk kelas dengan banyaknya jam kuliah menjadikannya alasan agar bisa pergi. Dia juga tidak merubah jadwal kunjungannya ke dokter hari ini.


Taksi yang membawanya tiba di sebuah tempat yang diberikan Biru, gadis itu langsung masuk tanpa menunggu lama.


Sebuah butik setelan jas ternama, cukup terkenal dengan jas bahan premium dan kualitas tinggi. Dara sendiri tercengang melihat dalam butik yang bisa dibilang mewah itu.


"Kenapa Biru minta ketemu di sini ya? Ini kan tempat mahal sekali!" gumamnya pelan.


Tiba tiba saja tubuhnya tersentak kaget saat seseorang dengan cepat menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam fitting room. Hampir saja Dara berteriak keras dan mendorong seseorang yang menariknya.


Biru berbalik dan terkekeh melihat wajahnya yang pucat karena kaget.


"Biru! Ih ... Nyebelin banget!"

__ADS_1


"Apa aku membuatmu kaget?"


"Bukan cuma kaget, jantungku mau copot!" Dara memukul dada Biru namun ikut tersenyum karena senang melihatnya lagi.


"Mau aku gantikan?"


Dara terbeliak, melirik ke kiri dan kanan yang kosong, hanya ada mereka berdua saja di dalam sana dengan tirai yang menjuntai panjang yang menutupi keduanya. "Apa maksudnya? Jangan macam macam ya!"


Biru kembali tertawa, "Bukankah jantungmu copot. Biar aku gantikan dengan jantungku, kenapa fikiranmu sangat kotor!"


Dara terkesiap, malu karena salah sangka, dan menatap ke arah Biru dengan wajah memerah. "Sekotor fikiranmu!"


Biru kembali tertawa lalu memeluknya dengan erat. "Aku merindukanmu Dara, berharap bertemu setiap waktu tanpa harus sembunyi sembunyi seperti ini!"


"Aku juga!"


Biru melepas pelukannya, menatap wajahnya dalam dalam. Perlahan lahan mencapit dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuknya. "Aku bisa melihat seberapa banyak rindumu padaku hanya dari wajahmu saja!"


"Memangnya keliatan apaan? Dasar tukang rayu!"


"Aku memang sedang merayumu! Kau sendiri terlihat senang saat aku rayu!" Biru terkekeh dengan wajah tampan dan bola mata bercahaya.


"Kamu ih jujur banget!"


"Perasaanku padamu tidak bisa aku sembunyikan lagi Dara, begitu juga denganmu. Aku dan kamu adalah satu!" ucapnya dengan suara yang berubah menjadi serak.


"Kita belum satu Biru, Kita masih aku dan kamu!"


"Ah ... Kau benar, kita dua saja kalau begitu!" ujarnya dengan tatapan yang semakin dalam.


Dara sedikit berjinjit dan mendekatkan wajah ke telinga Biru. Membisiki sesuatu yang membuat Biru salah tingkah.


"Aku tahu kalau kamu ingin nyium aku kan?"


Bibirnya kini melengkung, dengan dua tangan yang merengkuh pinggang Dara.


"Sudah aku bilang kau akan tahu segalanya." ucapnya dengan langsung menyambar bibir Dara yang tengah terbuka, menyelusupkan benda tanpa tulang ke dalamnya, memaguttnya dengan sangat lembut.


Dara sendiri melingkarkan tangan pada leher Biru, menerima dengan pasrah dan tentu saja membiarkan dirinya terbuai as mara.


Kerinduan akan sosok yang memberinya sejuta rasa dan menjadi pelipur lara dan duka serta obat dari segala kecewa.


Paguttan mereka baru berhenti setelah seseorang berdehem dari luar, mereka akhirnya keluar dan mendapati Alex berdiri dengan beberapa stel kemeja di tangannya.


"Apa kalian tidak tahu tempat, kaki ku pegal karena menunggu antrean, dan telingaku terganggu oleh desssah kalian!" ujarnya kesal dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


Sementara Biru dan Dara tertawa melihatnya, pria itu menyapu ujung bibir Dara yang tampak merah dan basah karena ulahnya lalu mengajaknya menjauh dari fitting Room.


"Apa Alex tahu apa yang kita lakukan di dalam tadi? Malu banget!"


"Mungkin tahu dan itu bukan masalah, dia akan pura pura tidak tahu dan menyimpan rahasia fitting room." Biru terkekeh, membawanya menuju deretan kemeja beserta jas nya.


"Kamu sendiri kenapa memilih butik ini?"


"Aku ingin kamu pilih satu untukku,"


"Aku. Kamu akan pakai pilihan aku?" tunjuk Dara pada dirinya sendiri, "Kalau selera pilihanku jelek gimana?"


"Aku akan memakai apa yang kamu pilihkan, apapun seleramu pasti bagus!"


Dara mulai memilih, satu persatu setelan warna dia lihat seraya melirik Biru yang mengikuti setiap langkahnya di belakang.


"Ini?"


Biru hanya menatap wajah Dara dengan penuh cinta tanpa melihat kemeja di tangan Dara. Hari hari mendadak indah saat bisa melihat orang yang dia sayangi dan setiap waktu saat bersamanya.


"Cocok! Pilih saja yang menurutmu bagus untukku, aku akan memakainya!"


Dara tampak senang, hal hal sederhana tapi membuatnya di hargai sedemikian rupa, menghargai setiap pilihannya juga memakainya, merasa dicintai walaupun dia merasa tidak sempurna karena tengah hamil oleh pria lain.


"Apa jadwal dokter kandunganmu tetap sama setiap bulan?" Tanya Biru.


Dara mengangguk, tidak tahu harus berkata apa lagi karena Biru selalu memperhatikan kehamilannya.


"Kau pergi bersama Rian?" tanyanya lagi saat Dara memilih dasi dan mencocokkannya dengan warna kemeja pilihannya.


Dara hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya, membuat Biru tersenyum lebar.


"Kamu ingin aku yang mengantarkanmu? Aku bisa kalau kamu mau!"


Dara membentangkan dasi berwarna Navi di leher Biru lalu mencoba mencocokkannya lagi, menggantinya dengan warna merah lalu dengan warna hitam.


"Aku suka ini! Cepat di coba!" ucapnya dengan memberikan semua pilihannya pada Biru.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?"


"Apa yang mesti aku jawab. Kamu udah tahu jawabannya!"


Biru tersenyum, cinta memang dashyat. Tidak perlu banyak kata kata dalam setiap ungkapanya.


"Baiklah aku mengerti!"

__ADS_1


__ADS_2