
Bisa di baca ulang bab sebelumnya yaaaaa. Tapi mungkin bisa dibaca besok karena kena review dari pagi dan lama banget. Huhuhu maafkan
.
Mas!" teriak Dara, "Mas jangan sembarangan ngomong ya, Biru gak ngelakuin hal kayak gitu, kita tahu batasan Mas!"
"Halah ... Kau bohong Dara!"
"Oh ... Jadi kamu membela nya? Kenapa ... Kamu suka padanya, kamu tiba tiba marah seperti ini dan tidak terima ucapanku!"
Dara menggelengkan kepalanya, orang orang sudah melirik lirik ke arah mereka berdua. Memalukan. Akhirnya dia pun bangkit dari duduknya dan langsung bergegas pergi, tidak peduli obat untuk kandungannya yang bekum dia ambil. Ucapan Rian sudah keterlaluan, bukan hanya menuduh Biru tapi juga menuduh dirinya seperti itu.
Rian mengejarnya, mencekal lengan Dara hingga tubuh gadis itu berputar ke arahnya.
"Kau marah padaku hanya karena hal sepele seperti ini?" ucap Rian.
"Sepele ... Yang benar saja Mas, ini semua sepele untukmu tapi enggak buat aku Mas. Kamu salah kalau nuduh nuduh aku dan Biru kayak gitu. Kamu gak lebih baik darinya, tapi Biru lebih menghargai aku dengan tidak mengatakan hal buruk tentangku. Dari pada Mas yang bukan hanya menuduh tapi juga menilai aku dengan buruk! Lepas ... Aku mau pergi!"
Keduanya terus bertengkar, baik Rian yang egois maupun Dara yang tidak terima jika dia di tuduh dengan hal hal yang tidak benar.
Apa yang di lakukan Biru masih dalam batas normal, sekalipun Biru kerap marah namun selalu ada alasan dalam setiap kemarahannya. Dan Dara mulai membandingkan sifat kedua pria itu.
"Lepas Mas ... Aku mau pulang sendiri aja!"
"Tidak ... Kau pulang denganku Dara."
"Mas ... Lepas, kamu gak lihat orang orang ngelihat kita sekarang. Apa Mas gak punya rasa malu?"
"Persetan, aku tidak malu karena aku benar!"
__ADS_1
Dara di seret masuk kedalam mobil, setelah itu Rian masuk juga dan langsung tanjap gas dengan kecepatan tinggi. Anggap saja Rian cemburu pada Biru, namun dia telah salah orang dan salah menunjukan kecemburuannya. Sikap Rian membuat Dara kesal, terlalu berlebihan untuk seorang pria yang bahkan tidak mau mengakui jika dialah ayah kandung bayi di depan Dokter.
"Aku akan meminta ayahmu untuk segera membuat pernikahan kalian berakhir ... Aku tidak sanggup kalau harus menunggu satu tahun Dara!"
"Mas ... Please jangan lagi!" sentak Dara.
"Aku tidak peduli kontrak mu dengan Biru ... Kalau perlu berikan apa yang dia minta Dara, agar kita selalu bisa bersama, aku tidak mau seperti ini. Aku ingin memilikimu sepenuhnya tanpa berfikir buruk tentangmu dan juga Biru!" ujarnya dengan tegas.
Terharu, jelas. Baru kali ini Dara melihat keseriusan dari Rian, sejak awal sampai hari ini, baru kali ini apa yang di katakan Rian sangatlah tegas. Tapi Rian tidak tahu apa yang harus diberikan Dara agar bisa lepas dari Biru.
Andai saja semudah itu aku lepas dari Biru, aku mungkin tidak akan memikirkan hal lain lagi Mas, kamu memang orang yang paling berhak tapi aku tidak siap memberikan sesuatu pada Biru sebagai pengganti kontrak itu. Tidur satu hari dengannya. Astaga ... Aku gak bisa bayangin hal itu. Tapi, aaahh ... kalian berdua membuat ku sakit kepala! Batin Dara.
"Hari ini juga aku akan bilang pada Ayahmu Dara! Kita akan akhiri semuanya. Persetan dengan orang itu! Jangan membuatnya semakin diuntungkan dalam hal ini Dara!" ungkap Rian kembali. Melajukan mobilnya ke arah kantor Baskoro dengan cepat.
Sementara itu Biru melajukan mobil ke arah hotel yang dia tinggali di kota ini, hotel milik sang ayah dimana dikelola oleh kedua orang tua Alex.
Semua pegawai tahu hanya dari sebuah kartu yang dia perlihatkan, kunci kamar presiden suite yang berada di lantai paling atas. Dan tidak sembarangan orang yang memilikinya. Kunci yang hanya ada 1 buah dan dipegang oleh sang pemilik kamar yaitu Zian.
Kunci yang dia keluarkan dari dalam dompet segera dia tempel dan pintu segera terbuka. Biru melepaskan jas yang dikenakannya lalu melemparkannya begitu saja. Situasi lagi lagi mengecewakannya, seorang gadis yang lagi lagi mempermainkannya sedemikian rupa. Tapi anehnya Biru tidak mampu melepaskannya. Justru semakin senang bermain main dengannya walau Rian dan janin yang dikandung Dara berada di antara mereka berdua.
Pria berusia 22 tahun itu masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual bersih bersihnya. Mengguyur kepalanya dengan air dari shower. Setelahnya dia keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lebih segar.
Biru membuka pintu lemari, lemari yang menyimpan sederet kemeja beserta perlengkapan milik ayahnya. Bahkan jam tangan yang selalu berdetak karena staff merawatnya dengan baik.
"Kau tidak hanya menurunkan semua ketampanan dan hatimu yang tulus. Tapi kau juga menurunkan nasib buruk percintaanku Dad! Kacau sekali Aku sama dengan mu, lemah pada wanita!" gumamnya saat melihat pantulan dirinya yang sudah rapi di depan kaca, tidak lupa memilih jam tangan termahal yang dia temukan. Beruntung sekali karena keduanya memiliki selera yang sama bagusnya.
Tok
Tok
__ADS_1
Suara ketukan terdengar di pintu hotel, Biru segera membukanya dan mendengus saat melihat Alex yang masuk.
"Kau terlambat dua menit Bung!"
Alex menghempaskan tubuh di kursi, rasa lelah dirasakannya semenjak ide konyol sang sahabat. Hampir semua dia siapkan demi ide konyol itu dan kerap mendapat ocehan walau hanya terlambat sedikit saja.
Biru berjalan ke arah mini bar, mengeluarkan botol wine yang harganya dipastikan mahal itu. Menuangnya dalam gelas kecil yang sudah dia isi dengan es batu.
"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?"
Alex mengambil nafas berat, "Ayolah ... Beri aku waktu sedikit saja, nafasku saja masih sesak ini! Kita sedang liburan Biru ... Bukan ambil proyek seperti ini!"
Biru tertawa, lalu menenggak wine sedikit demi sedikit. "Ayolah Lex ... Ini seru untuk mengisi liburan kita! Ini bermanfaat dibandingkan dengan pesta hura hura lainnya."
"Iya kau yang enak ... Aku tidak! Kau yang menikah, aku yang repot, kau yang masuk ke perusahaan itu tapi aku yang bekerja mati matian, bukan hanya aku saja, tapi kedua orang tuaku!"
"Ayolah Alex ... Kalau aku yang berperan secara langsung, mereka akan kaget dan itu tidak seru! Aku ingin membuat mereka menyesal."
Alex menggelengkan kepalanya. "Kenapa bukan kau saja yang belajar dan terjun langsung dalam bisnis keluargamu. Dan jangan libatkan aku!"
Biru kembali menenggak wine miliknya, "Sayang sekali ... Tadinya aku ingin berikan mobilku sebagai hadiah karena kau membantuku. Tapi kau menolaknya!"
Alex terbeliak mengingat mobil milik Biru adalah mobil idamannya dan itu sangat mahal. Dirinya bahkan dipukul berkali kali saat meminta kedua orang tuanya membelikannya.
"Royce Boat tailmu?"
Biru mengangguk, "Huum ... Si kuning yang mewah!"
Alex bangkit dan langsung menghampirinya lalu mengambil botol wine dan menuangkannya di atas gelas milik Biru.
__ADS_1
"Deal ... Kau boleh suruh apapun padaku Tuan Raja!"