Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.32(Investor lebih penting)


__ADS_3

"Maksudmu kalau tidak mabuk aku boleh masuk. Hm?"


Dara mengerjapkan kedua matanya, "Maksudku ... Maksudku bukan gitu!"


Biru menjadi terkekeh melihatnya. Lalu melepaskan Dara dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi guna membawa jasnya yang tertinggal.


"Kalau bukan begitu kenapa kau panik?"


"Enggak ... Siapa yang panik! Aku gak panik ya."


Biru mengangguk anggukan kepalanya, dengan terus tersenyum karena sikap Dara yang jelas terlihat salah tingkah.


Apa kau juga merasakan sesuatu yang aneh saat kita hanya berdua saja. Batin Biru. Dia tidak berani mengatakannya langsung.


Setelah itu, barulah Biru berlalu pergi, secepat kilat dia kembali ke dalam kamar miliknya tanpa di ketahui oleh orang lain. Membuat Dara menghela nafas namun juga ikut tersenyum saat wajah Biru yang tengah terlelap memeluknya kembali terbayang bayang.


"Aneh ...! Kenapa aku ini." gumamnya dengan menepuk jidatnya sendiri lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian gadis 19 tahun itu keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lebih baik, dia duduk di meja rias untuk memoles wajahnya dengan sederhana dan pandangannya tertuju pada pantulan dua buku di atas meja.


Seingatnya dia tidak memiliki buku baru, tidak membeli apalagi memesan buku. Kedua alisnya betaut saat melihat dua buku yang menurutnya sangat menggelitik.


"Apaan ini ... Buku panduan kehamilan, cara menjaga mood ibu hamil, kesehatan mental, suka duka menjadi seorang ibu untuk perta__" Dara berhenti membaca daftar isi dari salah satu buku yang kini dia pegang. "Siapa yang nyimpen buku ini di sini. Apa Biru?" lanjutnya. "Ya ... Pasti dia, buat apaan dia kasih buku ini?"


Dara heran, kenapa Biru melakukan hal tersebut, tetap saja pria itu tidak berkewajiban, Rian lah yang seharusnya melakukannya. Alih alih memperhatikan kehamilannya walau hal yang sederhana, justru Rianlah yang selalu membuatnya kesal.


Dara menyimpan kembali buku tersebut, tak lama dia keluar dari kamar. Bertepatan dengan Biru yang juga sudah rapi dan tampan dengan wangi farpum miliknya yang menenangkan.


Keduanya saling beradu pandang, dan Dara mendengus saat melihat Biru justru menaik turunkan kedua alisnya kepadanya lalu turun lebih dulu.


"Dasar gila!" desis Dara yang juga turun menyusulnya.


Suasana rumah tampak sepi, Baskoro dan Sophia sudah tidak terlihat lagi di meja makan. Mereka sudah lebih dulu pergi ke kantor tanpa mengajak Biru.


Pria berusia 22 tahun itu berdecak, menarik kursi lalu duduk.


"Papa mertua terlalu terang terangan membenciku." ujarnya dengan menyambar selembar roti lapis dan langsung melahapnya.


"Kenapa Papa harus nungguin kamu. Bukankah kamu bisa pergi ke kantor sendirian? Udah kayak anak kecil aja harus bareng bareng. Kamu ada mobil kan?"


"Mobil itu aku pinjam dari Alex ... Sudah aku kembalikan semalam."

__ADS_1


"Dih ... Bilang aja kalau kamu itu kere, pakai mobil aku. Tapi ingat, itu mobil kesayangan aku. Jangan sampe lecet!"


Biru terkekeh, menyambar roti lapis kedua dan melahapnya. "Baiknya punya istri."


"Jangan ngarep, aku berbuat gitu karena gak mau bikin masalah yang bisa bikin papa malu di kantor, terlebih keluarga Anderson percaya banget sama kamu!"


Biru mendongkakkan wajah ke arah Dara. "Sepenting itukah keluarga Anderson untuk keluargamu?"


"Penting lah ... Dia investor besar buat Papa, kelangsungan perusahaan yang artinya kelangsungan keluarga. Pasti kamu gak akan paham."


"Benar ... Aku tidak paham bisnis, aku hanya menikmati hasilnya selama ini ... tapi sekarang aku mau belajar!" sahut Biru dengan kepala terangguk.


"Dih...!"


"Seorang investor akan lebih dihargai bukan dari pada yang lainnya. Baiklah ...!"


"Dih ... Apaan? Kalau mau belajar ya belajar aja ... So soan ngomong tapi gak becus apa apa, keluarga Anderson cuma lihat cara bicaramu yang meyakinkan. Tapi mereka gak tahu kalau kamu pintar ngibul."


Biru tertawa sangat keras, sampai hampir tersedak rasanya saat mendengar celotehan Dara. Bisa dibayangkan akan sekaget apa keluarga Baskoro jika tahu yang sebenarnya siapa dirinya.


"Kamu benar, itulah kelebihanku ... Aku bisa meyakinkan keluarga investor dengan begitu aku ikut andil dalam kelangsungan perusahaan mu kan? Terima kasih."


Dara menggelengkan kepalanya, sangat tidak suka jika Biru sudah membual segala macam.


"Hey ... Kau makanlah sedikit, kau lupa kalau bukan hanya kau yang butuh gizi tapi anakmu juga. Kau mau dia lahir dengan kekurangan gizi?"


Dara yang sudah berjalan kearah tangga kembali menoleh ke belakang lalu mendengus pelan.


"Bener bener nyebelin!"


"Tidak ... Kau akan rindu aku nanti. Ayo makanlah, aku akan pergi." ujar Biru yang menyimpan selembar roti yang dia olesi selai coklat diatas piring milik Dara. Setelahnya dia bangkit lalu pergi.


Dara melihatnya sampai dia menghilang di balik pintu keluar, lalu berjalan kearah meja makan dan melihat roti buatan Biru untuknya.


"Bisa bisanya dia tahu kalau aku suka coklat dibandingkan stobery!"


Biru keluar dengan menggunakan mobil Dara, tidak bisa dia bayangkan semua yang dia lakukan saat ini hanyalah kekonyolan dan mempersulit dirinya sendiri.


Dengan bersenandung kecil Biru keluar dari pelataran parkir, melajukan mobil milik Dara dengan kecepatan sedang seraya terus memperhatikan segala macam perintilan di dalam mobil miliknya.


Tidak lama Biru tiba perusahaan Baskoro, dia segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kantor, namun dua orang security mencegahnya untuk masuk.

__ADS_1


"Maaf ... Anda tidak diperbolehkan masuk."


"Apa apaan ini? Aku bekerja di sini. Kau tahu aku pemegang tender besar di sini!" sahutnya dengan menepis tangan security yang mencekalnya.


"Maaf ... Tapi ini perintah Pak Baskoro! Anda dilarang masuk. Ayo pergi dari sini."


"Sialan ... Aku ini menantunya! Kenapa dia tidak memperbolehkan aku masuk." Biru masih berusaha untuk masuk, sampai dua security mendorongnya keluar.


"Pergilah!"


Prok!


Prok!


Suara tepuk tangan dari arah belakang membuatnya menoleh, dan sosok Rian berdiri dengan angkuh.


"Kasihan sekali, kau di usir dari kantor di hari keduamu? Sungguh tidak kompeten!"


Biru menghela nafas, "Apa yang kau lakukan. Lagi lagi bermain dengan curang?"


Rian tertawa, "Lebih baik kau pergi, sudahi semuanya agar tidak lagi merepotkan semua orang. Tidak perlu menunggu 1 tahun!"


Setelah mengatakannya Rian berjalan masuk, terlihat dua orang security menganggukkan kepala ke arahnya. Sangat berbeda saat berhadapan dengan Biru.


"Kurang ajar!" gumamnya dengan kesal.


Tidak lama Biru langsung merogoh ponsel miliknya di dalam saku celana dan menghubungi Alex.


'Apalagi?'


Suara Alex sudah tidak bisa dijelaskan, dia terdengar kesal.


'Beritahu paman dan Bibi untuk memberikan dana lebih besar lagi.' ucapnya tanpa basa basi.


'Kau jangan gila ... Itu sama saja penggelapan Dana Biru. Ayahmu tidak akan mentoleril hal ini jika ketahuan.'


'Sudah aku bilang, aku akan tanggung jawab! Cepat lakukan. Dan jangan lupa tugasmu yang kemarin.'


Tut


Biru langsung mematikan ponselnya lalu terkekeh, tidak bisa dibayangkan sekesal apa Alex yang mendapat perintah seperti itu darinya tanpa memikirkan resiko yang akan diterima kedua orang tuanya jika ayahnya sampai tahu.

__ADS_1


"Kita lihat saja siapa yang akan tertawa pada akhirnya!"


__ADS_2