
Biru menggertakkan gerahamnya saat melihat rekaman yang di berikan Alex, semua ucapan Intan yang membuatnya geram bukan main.
Brak!
"Tega sekali mereka itu!" serunya dengan menggebrak meja.
Alex sendiri terperanjat kaget, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Apa yang akan kau lakukan Bi. Mereka merencakan semuanya sebelum kau muncul, dan sekarang rencana mereka hancur dengan sendirinya!"
"Kau fikir aku akan diam saja?"
"Tentu tidak ... Kau pasti melakukan sesuatu makanya aku tanya apa yang akan kau lakukan!"
"Tutup semua aliran Dana pada perusahaan Prasetya, aku ingin perusahaannya hancur."
Alex terkesiap, kedua matanya bahkan tidak berkedip sedikit pun. Biru yang dia kenal kini terlihat berbeda,
"Kau yakin?"
"Ya ... Apa aku harus mengulanginya lagi? Perbuatan mereka sangat jahat, tidak hanya menipu tapi mereka membuat Dara kehilangan masa depannya. Kau bayangkan itu Lex!" sahutnya tegas dengan suara yang keras.
Tidak ada keraguan sedikitpun dari Biru, dia benar benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, terlihat rahangnya mengeras dengan kedua mata tajam. "Dara kehilangan hidupnya akibat apa yang di lakukan Rian, dan seorang anak yang tidak berdosa hadir dari perbuatan bejad Rian Lex!"
Alex mengangguk, benar apa yang dikatakan sahabat sekaligus bosnya itu.
"Mereka harus di beri pelajaran, dan satu satunya pelajaran yang paling pantas adalah menghancurkan perusahaannya!" Cicit Alex kemudian.
Biru mengangguk, "Besok pesta perusahaan, aku ingin mereka datang dengan gembira dan pulang dengan menangis!"
***
Setelah kejadian itu, Dara tampak lebih murung dari biasanya. Rasa kecewa yang teramat besar dan terasa menyesakkan. Tidak bisa dia pungkiri jika dirinya benar benar marah, terlebih karena perbuatan mereka kini dia mengandung.
Saat tahu apa yang dilakukan Rian dan Intan padanya, Intan mengurung dirinya di dalam kamar, dia hanya akan keluar ketika Biru ada saja. Dia juga selalu was was dan gelisah saat melihat orang lain. Dia jadi sulit untuk percaya bahkan pada orang orang di sekitarnya sebab Intan saja mengkhianatinya.
Biru membuka pintu, dia langsung mencarinya di kamar sebab tahu jika Dara sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1
Terlihat Dara tengah menghias vas bunga, menyusun bunga bunga yang tengah tumbuh mekar dan mengisinya dengan air.
Biru memeluknya dari belakang, kedua tangannya melingkar di perut Dara yang kian membesar.
"Kau sedang apa. Hm?"
Dara tersentak kaget, menolehkan kepalanya ke arah belakang dan melihat Biru. "Astaga ... Kamu bikin aku kaget Bi!"
"Maaf ... Aku mencarimu karena kau tidak menyambut suamimu ini pulang!"
"Maaf Bi ...!"
"Its ok ... Aku senang kau memiliki kegiatan baru sampai lupa waktu, tapi aku tidak senang karena itu membuatmu juga melupakan aku."
"Ih ... Mana bisa kamu bilang kayak gitu!"
Biru terkekeh dengan terus mengelus perut Dara berulang kali. Dan Dara kemudian membalikkan tubuh ke arahnya, raut wajahnya terlihat sendu dengan tatapan nanar menatap Biru.
"Bi ... Aku fikir aku ini gak pantes buat kamu, kamu baik dan kamu ngertiin aku banget, tapi semua ini bikin aku ngerasa bersalah banget!"
Dara mengangguk, "Aku ngerasa kotor dan gak pantas dapetin semua kebaikan kamu Bi. Kamu berhak dapat yang lebih baik dari aku!"
"Hey ... Kau tidak berhak bicara hal seperti itu, kita tidak pernah tahu batas kenyamanan seseorang Dara. Dan ucapan klise mu itu tidak akan berlaku untukku. Aku sudah menemukan orang yang pantas itu. Yaitu kau Dara ... Tidaklah kau mengerti juga. Hm?" lirih Biru dengan mengelus pipi Dara. "Berapa kali aku katakan kalau aku tidak peduli keadaan dan kondisimu. Dia tidak bersalah Dara," ucapnya lagi dengan menempelkan telapak tangannya pada perut Dara.
Biru terkesiap, sebab dia merasakan tendangan di tangannya, entahlah dia tidak mengerti soal itu tapi yang jelas, perut Dara seolah bergerak.
"Hey ... Apa itu! Apa dia mendengar kita bicara?"
Dara pun tidak kalah kagetnya, baru hari ini perutnya bereaksi seperti itu.
"Dara ... Apa dia mendengarku bicara?"
"Menurut buku yang aku baca sih itu salah satu tanda jika bayi bergerak atau merubah posisinya. Dan apa yang dirasakan ibunya pasti dia rasakan juga." terang Dara.
"Benarkah? Buku yang aku belikan untukmu?"
__ADS_1
Dara mengangguk dengan seutas senyum manis di bibirnya, menggemaskan melihat tingkah Biru yang terlihat antusias juga bingung. Padahal jelas jika Biru bukanlah ayah dari anak yang dia kandung, tapi melihat seberapa antusias Biru hanya karena pergerakan kecil di perutnya membuat hatinya kembali hangat.
Biru mengambil buku yang dia beli berbulan bulan yang lalu, yang dia beli hanya karena judulnya saja tentang kehamilan tanpa dia baca isinya. Dan sekarang dia buka lembar demi lembar untuk memastikan apa yang dia rasakan tadi.
"Mana Dara ... Aku tidak menemukannya, apa benar bayi yang bahkan belum tahu dunia bisa mendengar dan merasakan juga perasaan ibunya? Atau mendengar suara suara dari luar? Itu sebabnya ibu hamil harus banyak mendengarkan lagu lagu instrumental atau sejenisnya?" celotehnya dengan wajah berbinar.
Dara tersenyum melihatnya, melihat Biru dan wajah bahagianya saat berbicara.
"Kalau begitu, besok aku siapkan studio!"
Dara kali ini tertawa, "Untuk apa studio. Kamu mau latihan konser?"
"Bukan ... Agar kau rilexs dan anak kita juga rilexs ... Jangan terus murung dan bersedih, nanti dia juga ikut sedih dan murung!"
Dara mengerjap ngerjapkan kedua matanya yang sedikit mengabur, tapi sekuat tenaga dia menahan agar tidak menangis saat Biru mengatakan anak itu dengan anak kita. Sampai Dara harus menggigit bibirnya sendiri agar air bening itu tidak turun dan membuat suasana kembali tidak enak.
Biru terus bercerita banyak hal, bahkan dia mengajak bicara janin yang masih berusia 7 bulan itu.
"Kalau kau mendengarku bicara dengar baik baik ya ... Aku ayahmu dan ini ibumu ... Kau harus perhatikan baik baik wajah tampan ayahmu ini, jadi saat kau lahir kau harus mengenaliku. Ok ..? Jangan lupa ... Beritahu Ibumu agar tidak membuatmu sedih juga ... kau harus marah kalau perlu tendang dengan keras perut ibumu ya ... Ok ... kita satu tim sekarang!"
Dara tergelak mendengarnya, Biru bicara seolah janin itu benar benar bisa diajak bicara dan mengerti banyak hal, tidak lupa elusan lembut di sela pembicaraannya dan berkali kali juga perut Dara bergerak seolah olah bereaksi pada ucapan Biru.
"Kau lihat Dara ... Dia juga setuju! Jadi jangan terus sedih ya ... Lupakan hal hal yang membuatmu sedih, kau harus ingat ada seseorang yang sangat peduli dan sayang kalian berdua."
Dara mengangguk lirih, tawanya kini berganti dengan isakan lembut dan lirih pula. Merasakan betapa Biru tidak peduli jika dia bukanlah ayah anaknya, tapi sampai dunia hancur pun. Biru bukanlah ayah dari anaknya.
Seolah tahu apa yang di fikirkan Dara, Biru menarik tubuhnya kedalam dekapannya dan mengelus lembut punggungnya.
"Sampai kapanpun dia anakku Dara! Dia anak kita. Kau faham?"
.
.
Othor upnya satu satu dan nanggung, lama dan sebagainya. Wkwkw ... Maafkan othor yaa, semangat melehoy akibat belum gajian wkwkwk jadi harap maklum. So dukung terus karya karya receh othor yaaa.. Makasih
__ADS_1