
"Baguslah, itu lah sifat kalian yang sebenarnya!"
Baskoro semakin merasakan jika nafasnya terasa sesak, bahkan dia tidak lagi mampu batuk agar memperlancar darah yang rassnya tersendat di saluran arteri menuju jantungnya.
Debaran dengan sakit luar biasa kini juga dirasakannya. "Da__dara!"
"Lebih baik kalian pergi saja dari sini!" Dara makin emosi saat melihat Rian dan Prasetya melenggang keluar begitu saja.
"Da--dara!" seru Sophia memanggil putrinya. "Papa ... Dara, kita harus membawa Papa ke rumah sakit!" teriaknya lagi dengan berusaha memegang tubuh Baskoro yang hampir limbung tanpa tenaga.
Dara yang melihatnya sontak kaget, dan langsung berteriak meminta bantuan 2 orang supir rumahnya.
"Papa ... Bertahanlah, kita akan ke rumah sakit!"
"Dara, Bagaimana nasibmu setelah ini Dara!" ucap Baskoro terbata bata.
"Papa jangan fikirin hal itu, kuta ke rumah sakit dulu yaa!"
Mereka semua membawa Baskoro ke rumah sakit, jantungnya kembali kumat karena apa yang terjadi. Fikiran yang tidak tenang membuat pemyakitnya datang lagi.
Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit, dengan Baskoro yang terbaring lemah di paha sang istri dan Dara yang berada di depan bersama supir mereka.
Tak lama mereka tiba di rumah sakit, dengan Baskoro yang semakin lemah saja. Suster dan Dokter yang tahu Baskoro adalah pasien vvip titipan seseorang langsung melakukan tindakan dengan cepat. Mereka membawanya ke ruangan ICU.
"Dara ... Bagaimana ini?" tanya Sophia, "Uang kita habis untuk mengganti rugi semua vendor persiapan pernikahan yang dibatalkan!" lirih Sophia. "Andai saja mereka tidak membatalkan pernikahan ini!"
"Mami tenang ya ... Kita pasti bisa dapat jalan lain. Jangan berharap pada sesorang yang gak ada niat baik Mam!"
"Iya ... Tapi bagaimana caranya Dara! Mami juga sudah tidak punya pegangan lagi." lirihnya sendu.
Dara terdiam, tidak mungkin berpangku tangan begitu saja melihat kedua orang tuanya kesulitan. Dia harus mencari jalan keluar sementara tabungannya saja tidak cukup untuk pengobatan Papanya yang mahal.
Tapi Dara juga tidak mungkin memberi tahukan semuanya pada Biru, dia sudah malu karena Biru banyak membantu.
"Mami tunggu di sini ya! Kabari aku kalau terjadi sesuatu!" Dara pun pergi meninggalkan rumah sakit. Dia kembali ke rumah dan mengambil barang barang yang bisa dia jual dengan cepat.
Semua perhiasan, barang berharga lainnya, bahkan laptop miliknya pun dia bawa. Tidak ada pilihan lain lagu, sebab keuangan keluarganya memburuk saat perusahaan mengalami kemerosotan.
Perusahaan kini juga tengah susah payah bangkit dengan bantuan Biru, tentu saja belum ada Dana yang bisa dihasilkan dari sana tidak lupa Dara juga membawa mobil kesayangannya untuk dia jual.
Hari mulai sore, Dara kembali ke rumah sakit saat semua barang miliknya terjual. Dia benar benar tidak ingin melibatkan Biru dalam masalah keluarganya.
Dara berjalan menyusuri koridor panjang rumah sakit dengan letih menuju tempat dimana Ayahnya di rawat.
__ADS_1
"Astaga ... Dara! Kau dari mana saja Nak?"
"Dari satu tempat Mami. Gimana keadaan Papa?"
"Papa masih harus berada di ICU."
Dara mengangguk, dan memeluk ibunya dengan sedih. Tidak pernah menyangka semua hal ini akan dialami keluarganya.
"Aku harus mengurus administrasinya dulu. Mami tunggu di sini!"
"Dara ... Maafkan Mami, Mami dan papa benar benar minta maaf."
Dara tersenyum, "Udah Mam ... yang penting sekarang Papa sembuh dan keadaan kita kembali kayak dulu lagi yaa!"
Dara melengos pergi dengan menitikkan air mata, jika boleh memilih Dara ingin keluarga yang utuh dan hangat, walaupun tidak bergelimang harta seperti dulu karena dia sudah merasakan bagaimana kedua orang tuanya saat berada di atas.
Dara berjalan menuju ruang administrasi, bertanya pada petugas dan langsung membayar uang perawatan ayahnya. Walaupun seluruh biaya belum bisa dia lunasi tapi Dara sedikit lega, setidaknya ayahnya mendapatkan perawatan sebaik mungkin.
Dara berjalan kembali ke ruang ICU, namun saat melewati sebuah taman kecil di sekitar rumah sakit, Dara menghentikkan langkahnya menatap bebatuan dengan air mancur buatan yang tampak sejuk.
Disampingnya ada kursi panjang yang kosong, sepertinya enak dan menenangkan jika dia duduk di sana.
"Dara!"
"Biru?"
"Kenapa kau tidak memberi tahuku! Apa yang kau fikirkan hm?" sentaknya marah.
"Beri tahu apa? Ada masalah apa?" tanya Dara ynag heran kenapa Biru datang dengan marah.
Pria itu menarik tangan Dara, membawamya ke arah samping rumah sakit dan ternyata memiliki taman yang lebih besar.
"Biru! Apa apa?"
"Kenapa kau sampai menjual barang barangmu, kau bahkan menjual mobil mu, dan juga laptopmu sementara kau membutuhkannya untuk kuliah!"
Dara berjingkat kaget, kenapa Biru mengetahui semuanya padahal tidak ada yang memberitahukannya, bahkan ibunya saja tidak dia beritahu.
"Dengar Dara, mintalah padaku apapun yang kamu butuhkan! Apapun!" sentaknya. "Aku akan memberikan mu semuanya padamu Dara. Apa kau mengerti Dara?"
"Biru aku hanya!"
"Aku tidak mau menerima penolakan!"
__ADS_1
Biru menyuruh Alex mengurus semuanya, sedankan Dia membawa Dara ke satu tempat. Biru membawanya ke kantin rumah sakit, memesankan bubur ayam spesial untuk Dara dan segelas kopi untuknya sendiri. Sementara Alex mengurus semua biaya dan juga menyuruh seseorang mengurus barang barang milik Dara yang dia jualnya.
"Makanlah!"
"Biru. Aku belum lapar!"
"Makan Dara! Fikirkan anakmu, jangan egois dan berfikir seolah kau ini sendirian, ada bayi yang perlu gizi!" sentak Biru, kekesalannya pada Dara tiba tiba meluap.
"Biru aku ...!"
"Dengar Dara! Apa kau menganggap jika aku ini ada artinya untukmu?"
"Biru aku ...!"
"Aku tidak suka ke egoisanmu! Aku tidak suka dengan sifatmu yang seperti ini!"
"Biru ... Dengar....!"
"Apa ... Kau fikir aku tidak mampu membantumu Dara? Kau fikir apa yang selama ini aku lakukan untukmu? Kau hanya perlu hubungi aku dan minta aku datang Dara! Apa sesulit itu?"
"Biru. Dengar! Aku mau ngomong, jangan cuma kamu yang ngomong dan marah marah gak jelas kayak gini!" Sentak Dara yang balik memarahi Biru.
Gadis itu menatapnya dengan tajam sementara Biru mendengus kasar. "Kau memang tidak menganggapku ada Dara!"
"Gak kayak gitu! Aku cuma gak mau ngerepotin kamu! Kamu udah bantu banyak, sementara aku hanya diam saja!"
"Jangan masalahkan hal itu, aku melakukannya karena aku peduli padamu, aku sayang sama kamu dan aku---"
Dara mengambil tangan Biru dan menggenggamnya lembut, membuat kemarahan Biru sesikit mereda.
"Aku tahu Biru, aku bisa merasakanya! Tapi aku juga berhak bergerak demi keluargaku Biru! Mereka orang tuaku ....!"
Biru menghela nafas, "Aku tahu ... Tapi tetap saja, kau harus minta bantuan padaku, minta apapun yang kau butuhkan padaku Dara!"
Dara menghela nafas. "Apapun?"
Biru mengangguk, "Apapun Dara ... Minta lah padaku!"
"Ok ... Aku akan melakukannya, aku akan minta apapun padamu termasuk aku ingin kamu jadi ayah dari anakku dan kamu tidak bisa menolaknya karena aku yang minta!"
.
Othor lagi ngabrutt ini ya ... Wkwkwk ... Semoga kalian senang....
__ADS_1
Jangan lupa like komennya jangan loncat loncat yaaa....