
Dara mengangkat tangannya hendak memukul, namun sebelum pukulannya mendarat dengan sempurna pada tubuh Biru, pria berusia 22 tahun itu sudah menangkis dan menangkap tangannya yang tidak seberapa.
"Kau tidak bisa sembarangan memukul orang, terlebih orang itu adalah suamimu sendiri!"
"Lepas!" Dara memberontak berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Biru namun tidak juga berhasil karena Biru semakin memegangnya erat. "Lepas gak!" teriaknya lagi.
"Kau yakin?"
"Biru. Lepas kalau gak aku teriak!"
"Oke ...!"
Biru akhirnya melepaskannya begitu saja, dan tubuh Dara yang tidak seberapa itu justru malah terhuyung ke belakang, dan untungnya tidak jauh dari aeah belakang memang ada sofa yang tadi di injaknya.
"Awww!" pekiknya.
Bruk!
Dara jatuh tepat di sofa dengan posisi terduduk, tubuhnya terhempas cukup keras hingga dress pendek yang dikenakannya tersingkap.
"Biru!" Teriaknya dengan buru buru membenahi pakaiannya.
Biru mengerdik kemudian membalikkan tubuh ke arah belakang tak ingin peduli.
"Itu bukan salahku Dara, kau sendiri yang ingin aku lepaskan!" ucapnya dengan acuh, padahal jantungnya sendiri tidak karuan.
Dara langsung bangkit dari sofa, mendecak kesal dengan kedua tangan yang berkacak di pinggangnya dan kedua maniknya menghujam tajam ke arah pria yang semakin tampan setelah memakai jas dan juga dasi. Tubuhnya yang tinggi dan atletis dengan lengan sedikit berotot serta dada bidangnya.
"Kamu kebangetan banget sih jadi orang!" Ujarnya kesal lantas beranjak keluar dari kamar Biru.
Dara menuruni tangga dengan terus menggerutu tidak jelas. Tidak terbayangkan seberapa kesal dirinya saat ini.
"Kenapa wajahmu sayang?" tanya Sophia.
__ADS_1
"Gak apa apa Mam ... Ada kecoa terbang di kamar tadi!"
"Ah masa? Kamarmu. Padahal setiap hari dibereskan!"
"Bukan ... Tuh di kamar si Biri biri!" ketusnya dengan kesal seraya menghempaskan tubuhnya disamping sang Ibu.
"Anak itu selalu membuat kita sekeluarga kesal, dan kau yang justru membuat dia semakin leluasa di rumah dan juga di kantor!" tukas Baskoro yang semakin kesal saja.
Tak lama Biru turun, dengan harum semerbak wangi yang tidak pernah Dara cium sebelumnya. Dan wangi yang saat ini tercium sangat berbeda dengan wangi yang sebelumnya. Namun lagi lagi Dara tidak merasakan mual sedikitpun, dia justru terlihat menarik nafas dalam dalam saat wangi parfum itu semakin dekat.
"Aku tidak suka jika orang orang sudah memiliki aroma yang sama!" ujarnya dengan berjalan menghampiri ketiga anggota penghuni rumah itu.
Seolah tahu apa yang ada di fikiran Dara, dengan sengaja Biru mengibas ngibaskan ujung jas yang dikenakannya hingga wanginya terasa semerbak.
"Apaan sih!"
Baskoro bangkit dari duduknya dengan mendelik ke arahnya. "Hampir 30 menit sia sia hanya untuk menunggumu saja!"
Siang hari Dara sudah berada di satu fakultas, sejak keberangkatannya ke luar negeri tertunda karena kehamilannya, hingga akhirnya Dara memutuskan untuk kuliah di dalam negeri saja.
Sampai semua data dan keperluannya mendaftar, Rian tidak juga kunjung tiba. Sampai beberapa kali Dara menghubungi namun tidak tersambung.
Gadis itu berdecak dengan memasukkan kembali ponsel ke dalam tas miliknya, lalu berjalan ke luar dari kampus.
Dan tepat saat itu sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di sampingnya. Dara lagi lagi berdecak saat mengenali mobil itu.
"Dara maafkan aku terlambat, ada pekerjaan yang harus aku urus terlebih dahulu!" terangnya saat keluar dari mobil dan menghampiri Dara.
"Mas emang gak ada niat aja! Dan aku bukan prioritas utama Mas Rian!" Dara berjalan ke arah mobil dengan kesal.
Hampir dua jam menunggu Rian yang tidak kunjung datang dan justru datang saat semuanya sudah selesai membuatnya kesal bukan main. Padahal pria itu banyak membicarakan janji janjinya dan Dara mencoba memberinya kesempatan karena dialah ayah dari anak yang dia kandung.
"Kalau begitu kita makan siang lebih dulu ya!"
__ADS_1
Dara menggelengkan kepalanya, "Aku gak ada selera makan. Aku mau pulang. Mas balik aja ke kantor!" ucapnya dengan menutup pintu mobil dan menyuruh supirnya segera tanjap gas.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sejak tahu tentang kehamilannya, semua aktifitasnya di batasi, dilarang menyetir, dilarang pergi sendiri dan membuatnya jadi malas untuk pergi.
"Pak kita ke kantor Papa aja ya!" tukasnya pada supir, dengan terus menatap ke arah spion dimana terlihat Rian tidak berusaha mengejarnya atau melakukan sesuatu.
"Emang dasar laki laki!" dengusnya kesal. "Tahu gitu aku minta temenin sama si songong aja!" gumamnya dengan pelan namun langsung mengigit lidahnya sendiri saat tersadar.
Mobil.yang membawa Dara terus melaju menuju kantor perusahaan Baskoro, perusahaan dibidang property dan juga periklanan yang cukup terkenal di kota xx.
"Non Dara sudah sampai!" ucap sopir dengan menoleh ke arah belakang.
Dara mengangguk, lantas dia turun dan langsung masuk ke dalam kantor. Semua orang tidak hanya tahu dia putri satu satunya pemilik perusahaan, tapi semua orang sudah tahu jika Dara adalah pewaris perusahaan.
Dara biasanya akan melenggang masuk begitu saja ke ruangan Baskoro tanpa satu halangan.
Dan dari kejauhan Dara sudah melihat sosok tegap yang tengah berdiri di depan ruangan Ayahnya, dan entah kenapa Dara mengulas senyuman saat pria di depannya tampak gagah dengan balutan resmi khas kantor.
Biru menoleh ke arahnya, dan langsung mengernyitkan dahi serta menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
"Kenapa kau kemari. Jangan bilang kau ingin melihatku bekerja kan?"
"Enak aja! Aku kesini mau ketemu Papa kok. Ngapain sih malah di sini. Bukannya kerja yang bener!" Dara terus melenggang.
"Ternyata kita punya pemikiran yang sama, dan kau benar, kenapa aku di sini? Jawabannya adalah Papamu tidak mengijinkan aku masuk." dengusnya kesal.
Dara menoleh, "Benarkah?"
Biru mengangguk lirih, dia hanya ditugaskan berdiri di depan pintu bak seorang ajudan saja. "Kau lihat sendiri bukan?"
Dara terkekeh dengan puas, wajahnya tersenyum sangat manis dan membuat Biru terpana.
"Oh bagus kalau gitu! Biar sedikit ada tahu diri dan gak songong jadi orang!"
__ADS_1