Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.37(Beri aku kekuasaan)


__ADS_3

Brak!


Suara keras terdengar di ruang kerja. Berkas berkas yang dilemparkan berserakan dilantai, membuat Anderson yang tengah duduk pun mati gaya.


"Kau baru melaporkannya sekarang padaku. Apa yang lakukan selama ini. Hm?" bentak Zian. "Dan apa ini. Apa yang di lakukan Biru?" ucaonya lagi dengan kesal.


Anderson, orang yang dipercaya mengelola hotel Blue Moon menyalah gunakan wewenangnya dan melakukan investasi tanpa sepengetahuan Zian, terlebih kerja samanya gagal dan yang paling membuat Zian kecewa adalah semua karena putranya sendiri.


Dan Anderson tidak punya pilihan selain menceritakan semuanya pada Zian, bahwa apa yang dikerjakannya atas perintah Biru.


"Anak itu melakukan hal yang tidak pernah aku ajarkan!" desisnya dengan kesal dan dengan terpaksa memblokir semua akses keuangan miliknya.


Setelah kepergian Anderson, Agnia masuk dan menggelengkan kepala melihat berkas yang berantakan lalu memungutinya satu persatu dan menyimpannya di atas meja.


"Daddy. What wrong hm?" tanyanya dengan mengelus bahu sang suami.


Zian menghela nafas, menyandarkan kepala bak seekor kucing yang manja.


"Tidak gampang punya anak beranjak dewasa!"


"Apa yang Biru lakukan?"


Helaan nafas panjang kembali terdengar, mendengar nama anak laki lakinya itu. Agnia melirik semua laporan yang diberikan Anderson dan membacanya.


"Dad, apa harus memblokir semua kartu Biru. Kasihan dia, bagaimana kalau tidak bisa makan, mau tinggal dimana dia?"


"Sayang, aku terpaksa melakukan agar dia pulang dan bicara dengan kita! Bukan seperti ini."


Agnia menghela nafas, kembali menghampiri Zian. "Biru pasti takut buat pulang, kita juga tidak tahu alasan Biru melakukannya. Biru tidak mungkin menghamili anak orang Dad!"


"Kau percaya sekali anak itu!"


Agnia terkekeh, "Gimana aku gak percaya, dia anakku tapi dia juga kayak Daddy ... Apa Daddy gak sadar itu. Semua yang dia lakukan gak pernah di fikirkan dulu. Persis ... Jadi kita tunggu dia pulang. Hm?"


"Ya ... Tapi soal kabur kaburan nya itu mirip denganmu!"


Agnia berdecak, tapi juga tidak menyangkal sebab itu benar. Biru putra mereka, jelas ada sifat dan sikap yang menurun dari keduanya.


"Jadi Daddy jangan ikut campur sebelum tahu masalahnya, biarkan dia selesaikan dulu sendiri. Aku yakin jika dia udah gak sanggup, dia pasti mencari kita. Hm?"


Kemarahan Zian akhirnya mereda karena sang istri yang pintar menenangkannya, ditambah Agnia tife ibu yang percaya jika anaknya mampu menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya. Pengalaman masa muda yang memberikan efek luar biasa saat dia sudah jadi orang tua, tidak ingin Biru merasakan apa yang dia rasakan.


Dan benar saja, pagi pagi buta Biru sudah berdiri di depan pintu rumah lama milik kakek buyutnya. Rumah yang terawat meski tidak ditempati juga tidak di jualnya.

__ADS_1


Walaupun Zian dan Agnia sudah tahu Biru memiliki masalah namun mereka memberikan kesempatan pada Biru untuk menceritakannya langsung.


"Akhirnya kau pulang juga!" Zian yang baru kembali dari jogging mendapati Biru tengah berdiri.


"Dad?"


"Masuk ... Kita bicara didalam!" ujar Zian yang melangkah masuk ke dalam rumah.


Biru menghela nafas, tidak ada alasan dia untuk tetap berada di tempat lain setelah semua akses di blokirnya.


Air yang baru keluar dari kamar mengerjap ngerjapkan mata saat melihatnya.


"Astaga ... Anak itik kesasar akhirnya pulang! Mamiiiiii ...." teriaknya memanggil sang Ibu.


"Diam kau!"


Air menjulurkan lidah, dia langsung berlari ke arah kamar untuk menyusul ibunya, tak lama Agnia keluar dari kamar dan langsung memeluk Biru.


"Sayang ... Kau sudah makan. Sudah sarapan?"


Biru mengangguk kecil tapi terus melirik ke arah Zian yang kini duduk di sofa.


"Bicara sama Daddy, gak ada masalah yang gak bisa di selesaikan. Hm?"


Zian berdehem, membuat pelukan ibu dan anak kini terurai.


"Menyuruh orang kepercayaan Daddy berbohong sedemikian rupa, menginvestasikan dana tanpa tujuan yang jelas, mencampur adukkan semua masalah dan..." Zian menghela nafas, apa yang di katakannya sangat berat baginya. "Dan menghamili anak orang! Apa yang akan kau lakukan sebagai pertanggung jawabanmu Biru?"


Deg


Tanpa basa basi lagi, Zian mengatakan semua yang dilaporkan Anderson padanya, dan membuat Biru kaget karena ayahnya tahu semuanya.


"Aku akan membereskannya!" jawab Biru.


"Apa yang akan kau bereskan, kau ... Astaga! Kau bahkan menikah tanpa memberi tahu kami. Apa kau sudah gila?"


"Dad?" Agnia menyuruh Zian mengontrol emosinya.


"Aku tidak gila Dad ... Maafkan aku, aku berniat untuk tanggung jawab, tapi sekarang mereka menolakku. Mereka melakukannya dengan cara yang licik, memaksaku menanda tangani surat pembatalan pernikahan!"


"Itu bagus! Karena yang dia kandung bukan anakmu!" ucap Zian menohok.


"Daddy?" Agnia terbeliak, dia tidak tahu bagian itu..

__ADS_1


Biru menghela nafas, menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah karena sudah melibatkan diri sejauh ini. Tapi, bagaimana perasaannya pada Dara.


"Aku gak tahu soal ini. Daddy yakin?" Tanya Agnia lagi.


"Kqu tanya saja anak itu! Kenapa dia terlibat hal yang membuatnya repot sendiri." tunjuknya pada Biru.


Agnia menoleh pada Biru, lalu menggenggam tangannya kuat. "Kamu masih tidak mau cerita pada Mami. Hm? Apa kamu bisa mengurus semuanya sendiri?"


Brak!


"Kenapa kau diam saja. Kenapa kau tidak pulang lebih awal! Sementara kau sendiri tidak mampu menyelesaikan masalahmu sendiri!"


"Sudah aku bilang aku ingin membereskannya sendirian! Ini masalahku Dad... Dan aku tidak mau melibatkan keluarga!"


Zian tergelak, "Apa lagi yang akan kau bereskan?"


"Dad?"


"Sayang, lihat dia ... Oh astaga, dia sudah dewasa sekarang. Sampai tidak membutuhkan kita lagi!"


"Bukan begitu Dad! Aku hanya ingin membereskan semuanya sendiri saja!" Jelasnya lagi.


Agnia kembali menoleh pada Biru, mendesaknya untuk menceritakan semuanya tapi Biru justru bungkam seribu bahasa, begitu pula dengan sang suami yang tidak menceritakan semuanya secara detail padanya.


"Please ... Apa yang kalian bicarakan ini?"


Air yang duduk di sebelah Agnia berbisik lirih. "Sepertinya ini pembicaraan antara pria dewasa Mami?"


Agnia mengangguk, cukup paham dan dia akhirnya memilih diam mendengarkan saja.


"Dad ... Daddy yang selalu mengajarkan aku untuk bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan bukan? Dan aku ingin melakukannya sekarang. Apa itu salah?"


Zian kembali tertawa, "Apa mereka melukai harga dirimu?"


"Ya! Mereka merendahkan dan meremehkanku!"


Zian tidak berhenti tertawa membuat Agnia sendiri heran sebab dia tidak tahu apa apa.


"Itu salahmu sendiri! Kau bahkan tidak mengatakan kalau kau putraku!"


"Dad. Apa itu penting sekarang. Aku ingin dikenal tanpa bayang bayangmu Dad!" seloroh Biru dengan menegakkan kepala menatap sang ayah.


Zian lantas menggelengkan kepalanya. "Kau salah besar Biru. Itu hal yang tidak mungkin akan terjadi, bagaimana pun juga kau tidak akan pernah bisa melepaskan dirimu dari bayang bayang keluarga Maheswara. Justru kau bisa manfaatkan sebaik mungkin apa yang telah kau dapatkan dengan nama keluargamu selama ini Biru!"

__ADS_1


Biru terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Kalau begitu. Izinkan aku bekerja diperusahaan. Beri aku kekuasaan. Aku ingin membereskan semuanya sendirian!"


__ADS_2