Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.39(Hari pertama)


__ADS_3

"Astaga ... Dari mana aku mulai!"


Hampir dua jam Biru berkutat dengan berkas berkas diatas meja yang menumpuk. Mulai dari analisa data beberapa kategori, bahkan ada data tahunan yang perlu di revisi sampai berkas yang Biru saja tidak mengerti


22 tahun usianya, tapi tidak pernah sekalipun Biru ingin melibatkan diri di perusahaan milik ayahnya, dia memang diajarkan bisnis sejak kecil. Tidak jarang ikut serta ke kantor karena ibunya sendiri yang menjadi sekretaris pribadi sang ayah selama bertahun tahu.


Dan sedikit banyaknya tahu soal Bisnis karena dia juga kuliah Bisnis internasional. Tapi melihat meja penuh seperti ini otaknya saja tidak mampu bekerja dengan baik. Tapi bukan Biru jika tidak memiliki cara lain, dia keluar dari ruangan dan baru sadar setelah hari mulai gelap dan semua orang mungkin sudah masuk ke dalam kamar masing masing.


Biru menghela nafas, lalu berjalan ke arah kamar ibunya. Dia berdiri didepan pintu, mulai ragu apa dia harus mengetuk pintu atau tidak. Sesaat dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruangan kerja karena tidak mungkin mengganggu sang ibu.


"Biru?"


Biru menoleh, seketika wajahnya berseri penuh semangat karena melihat ibunya keluar dari kamar.


"Mami baru mau lihat kamu!"


"kebetulan. Ayo Mih!" Biru menarik pergelangan tangan ibunya dan membawanya masuk ke dalam ruangan kerja.


"Mami tidak mau Biru kenapa kenapa bukan?"


Agnia mengangguk, "Tentu saja sayang. Ada apa?"


"Mami mau bantu Biru kan?"


"Iya sayang, tentu."


Biru melirik berkas berkas di atas meja yang masih menumpuk, lalu melirik ke arah sang Ibu dengan senyuman manis.


Wanita berusia 38 tahun itu pun menghela nafas. "Semua ini Daddy yang berikan?"


Gantian Biru yang kini mengangguk dengan wajah sendu, meminta simpati pada sang ibu. "Banyak sekali Mami, kepalaku pusing."


Agnia mulai melinting lengan bajunya dan langsung mengambil satu berkas. Seorang ibu tentu saja tidak akan rela jika melihat anaknya kepayahan hanya karena sebuah posisi di perusahaan, walaupun dia tahu semua itu sengaja dilakukan Zian agar Biru belajar bertanggung jawab.


"Baiklah ayo kita kerjakan!"


***


Pagi pagi sekali Biru sudah siap, mengenakan jas lengkap yang disiapkan ibunya. Tampak tampan dengan rambut klimis dan wangi parfum khas miliknya.

__ADS_1


"Kau sudah siap?" tanya Zian yang masuk ke dalam kamar Biru.


"Ya Daddy. Bagaimana, apa aku tampan?"


"Tentu saja ... Kau putraku, ketampanan menurun 100 persen dari ku!" sahut Zian menepuk nepuk bahu putranya.


Air yang ikut masuk dan melihat keduanya pun tersungut. "Daddy gitu deh! Semuanya turun ke kakak, aku enggak nih?"


"Hey ... Kau menyambar seperti bahan bakar!" Dengus Biru pada sang adik.


Membuat Zian terkekeh dan langsung merangkul putri kesayangannya. "Tentu saja kau juga cantik, putriku! Kau cantik seperti bidadari."


"Kenapa harus bidadari Daddy? Dari mana Daddy tahu kalau bidadari itu cantik. Daddy pernah melihatnya?" tanya Air dengan polosnya.


"Kau ini seperti tidak tahu saja. Mana pernah Daddy tahu bidadari, Yang Daddy tahu cuma Mami. Iya kan Dad?" tambah Biru.


Zian tertawa, merangkul kedua anaknya dengan penuh bahagia. Kesempurnaan hidup adalah memiliki keluarga yang hangat, begitu juga Agnia yang baru saja masuk dan berdecak karena melihat mereka bertiga berpelukan.


"Apa Mami gak di ajak?"


Biru dan Air langsung memburu ke arahnya, memeluk ibu hebat dan luar biasa juga tetap awet muda itu.


"Tentu Mami, oh ya ... tapi apa Daddy sudah periksa tugas yang Daddy berikan untukku. Jadi posisi apa yang akan aku tempati di global globe?" tanyanya pada pada Zian.


"Kau akan tahu nanti. Sekarang pergilah ... Jangan biarkan mereka menunggu."


Biru ternganga saat melihat mobil di garasi, mobil mewah yang disiapkan khusus untuknya. Membuat kepercayaan dirinya meningkat dan bersyukur memiliki keluarga yang penuh dukungan sekalipun tidak tahu inti dari masalahnya.


Dan seseorang keluar dari mobil dengan setelan yang sama gagahnya.


"Pagi tuan muda. Kau siap berangkat?"


Biru membulatkan kedua manik hitamnya saat melihat siapa yang keluar dari mobilnya dan menyapa.


"Alex?"


"Benar, dan hari ini hari pertama aku bekerja. Sebagai asisten pribadi mu!" Alex terkekeh, merengkuh sahabatnya namun langsung terhuyung ke belakang.


"Bukannya kau pergi dan tidak mau lagi ikut campur. Kenapa sekarang tiba tiba jadi asisten pribadi?"

__ADS_1


"Daddy yang suruh!" Seru Zian dari belakang, sosok pria luar biasa tidak ada tandingannya.


Biru menghela nafas, semua sudah dipersiapkan rupanya. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan menyenggol lengan Alex dengan kesal.


Akhirnya Biru pergi ke perusahaan milik sang Ayah, Alex melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik ke arah belakang dari spion yang ada di depannya. Biru tampak masih kesal dan tidak peduli kehadirannya.


"Kau masih marah padaku? Jangan salahkan aku, setelah Ayahmu tahu kalau ayah dan ibuku terlibat, dan aku tidak punya pilihan lain!"


Biru berdecih, tidak ingin menanggapi ucapan sahabatnya. Dia pun mengambil kaca mata hitam miliknya dan mengenakannya agar tidak terlihat jika dia sebenarnya gugup dan juga khawatir.


Alex hanya tersenyum, dia tahu Biru tidak akan benar benar marah padanya. Dan waktu terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di kantor global globe.


Seorang petugas membuka pintu mobil tepat saat Biru hendak membukanya, mempersilahkan Biru keluar dengan menundukan kepalanya. Dan Alex segera keluar setelahnya.


"Apa ini Lex?" Bisiknya.


"Aku tidak tahu bagian ini!" jawabnya.


Dan deretan staff berjejer rapi di sisi kanannya, juga beberapa orang dari perwakilan berbagai divisi turut serta menyambutnya.


"Sepertinya kau sendiri tidak tahu soal ini?" tanya Alex.


"Entahlah, aku hanya disuruh datang dan bekerja! Sampai detik ini saja aku tidak tahu posisi ku di sini. Tapi kenapa mereka menyambutku seperti ini Alex?"


"Daddy mu luar biasa!"


Seorang pria berjalan ke arahnya, dan mengulurkan tangan kepadanya.


"Selamat datang Pak Biru, kami semua senang mendengar anda akan segera bergabung di perusahaan ini. Saya Manager umum di sini."


Biru mengangguk, untung saja dia memakai kaca mata hitam dan tidak sempat membukanya. Kalau tidak, mereka akan tahu segugup apa dia sekarang.


"Terima kasih!" ucapnya seraya menjabat tangannya.


Biru berjalan masuk, melewati barisan staff yang berjejer rapi dan menatap dirinya dengan tersenyum, ada pula yang terlihat kagum dan tidak percaya yang datang adalah anak dari pemilik perusahaan.


"Lex ... Kau lihat ... Mereka bahkan menundukan kepalanya padaku? Apa posisiku sangat penting sampai mereka tunduk seperti ini?" ucap Biru dengan pelan, sampai saat ini saja dia tidak tahu apa yang akan dia kerjakan di kantor ini.


"Tentu saja karena mereka tahu siapa dirimu. Jadi tetaplah tenang dan jangan norak. Perlihatkan kegagahan dirimu!"

__ADS_1


__ADS_2