Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.103(Semua salah Biru)


__ADS_3

Siapkan kamar operasi saja Dokter!! Pasien itu riwayat jantung dan ini ke 3 kalinya dalam satu bulan dimana bulan ini penyakitnya kambuh!"


Biru berteriak saat melihat suster menutup pintu masuk ruangan pemeriksaan. Mereka tentu saja melakukan yang paling mendasar pada pasien yang baru saja datang.


Suara suara mesin saling saut menyaut di ruangan itu, dengan berbagai kabel yang menempel di tubuh Baskoro yang semakin memprihatinkan. Dokter dan para suster yang terlihat wara wiri mengerjakan tugasnya.


"Kita harus lakukan operasi Dok!" kata salah satu suster yang tengah memeriksa.


Dokter menggelengkan kepalanya. "Terlalu beresiko ... Pasien tidak akan bertahan. Kita harus menurunkan tekanan darahnya terlebih dahulu baru bisa!"


"Lalu bagaimana Dok?"


Dokter itu keluar dari ruangan, dan menghubungi seseorang dari telepon yang ada di ruangan itu.


Terlihat Dara dan Sophia yang cemas juga takut dengan kondisi terburuk yang akan terjadi. Begitu juga dengan Biru yang berusaha menenangkan Dara.


"Maafkan aku Dara ... Aku tidak berfikir panjang saat melakukan hal ini."


Dara terdiam, hanya isak tangis yang terdengar lirih di pelukan Biru. Sampai beberapa Dokter berjalan masuk ke dalam ruangan itu termasuk dokter senior dan juga profesor doktor mereka.


Bahkan beberapa tamu yang hadir di pesta perusahaan dan juga mengenal Baskoro hadir di sana, termasuk Zian dan juga Agnia. Dan melihat kedua orang tuanya datang, Biru lantas menghampiri keduanya.


"Bagaimana keadaan ayah mertuamu?" tanya Zian pada Biru.


"Aku belum tahu Dad ... Semua orang sibuk menanganinya!" jawabnya dengan lirih, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi.


Zian menepuk bahu sang putra yang terlihat merasa bersalah atas kejadian yang terjadi. "Ini semua salahku!"


Tepukan Zian dibahunya kini berubah menjadi re masaan kuat. Seolah memberi kekuatan pada sang anak. "Ini bukan salahmu Biru! Tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi."

__ADS_1


"Daddy mu benar sayang, kamu harus kuat ... Lihat istrimu dan tenangkan dia. Hm?" tambah sang Ibu.


Biru menatap Dara yang kini memeluk erat sang ibu, hingga akhirnya dia mengangguk kecil dan langsung menghampiri Dara kembali.


"Dara ... Duduklah, kau juga ingat kalau kau sedang hamil."


Dara masih enggan menjawab pertanyaan Biru, dia hanya mempererat pelukannya pada sang Ibu. Dan melihat kondisi Baskoro yang semakin lemah. Para Dokter pun hanya bisa menghela nafas, terlalu beresiko jika dilakukan operasi sekalipun.


Sampai Dokter Irsan berjalan masuk dengan tergesa gesa. Biru yang melihatnya pun dengan cepat langsung menyusulnya.


"Uncle Irsan ...!"


Dokter Irsan yang merupakan sahabat dari sang Ayah pun menoleh dengan wajah datar yang menjadi ciri khas miliknya. "Ya!"


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan mertuaku!"


Dokter Irsan tidak menjawabnya, hal itu sudah tentu akan dia lakukan tanpa di minta sebab itulah pekerjaannya.


Hampir 6 jam dokter menangani Baskoro di dalam ruangan, segala upaya pun sudah dilakukan para dokter dokter terbaik rumah sakit bahkan dokter yang memiliki lisensi internasional. Tapi tuhan berkata lain, takdir seseorang yang sudah tertulis sebelumnya.


Setelah beberapa jam lamanya. Baskoro akhirnya menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan tersebut.


Dokter yang sudah berupaya itu pun hanyalah manusia dan bukan seseorang yang bisa mengubah takdir hidup.


"Kami sudah berupaya. Tapi tuhan berkata lain dan pasien dinyatakan meninggal akibat gagal jantung!" ucap seorang Dokter.


Mendengar hal itu tentu saja Dara menangis sejadi jadinya, begitu juga dengan Sophia saat mendengar kabar kematian suami dan ayah nya tersebut. Begitu pula dengan Biru yang merasa bersalah karena kejadian itu disebabkan oleh dirinya.


Tubuh Dara yang lunglai ke lantai dan menangis itu terus memukul mukul dada dan tubuh Biru.

__ADS_1


"Kamu jahat Bi ... Kamu jahat!"


"Maafkan aku Dara ... Maafkan aku!"


"Papa ku sekarang meninggal dan itu semua gara gara kamu dan rencana mu itu!nAku benci sama kamu Bi!"


"Kamu boleh pukul sepuasmu Dara ... Pukul aku ... Tapi tolong jangan benci aku Dara!"


Dara terus mendorong Biru yang berusaha menenangkan dan memeluk tubuhnya. Dia terus menyuruh Biru untuk pergi.


"Maafkan aku Dara!"


"Pergi Bi ... Pergi! Aku benci sama kamu!"


Dara terus memukuli tubuh Biru dengan sangat kuat, air bening tampak tumpah dan tidak lagi mampu terbendung lagi. Sophia yang lebih terlihat tegar dari pada Dara berusaha membangunkan dan memeluk putri semata wayangnya.


"Jangan salahkan Biru sayang, Papa sudah tenang dan tidak merasakan sakitnya lagi!"


"Tapi semua ini gak akan terjadi kalau Biru gak ngelakuin hal tadi Mam!" isak Dara yang terus menangis di pelukan sang ibu.


"Papamu yang memilih menyerah Dara ..., Semua ini bukan salah Biru!" sela Dokter Irsan yang baru saja keluar dari ruangan dan mendengar Dara bicara, dan langsung berjalan kembali.


Biru langsung menghampirinya lagi, dia terus meminta maaf dan merasa bersalah pada Dara juga Ibu mertuanya.


"Dara ... Maafkan aku!"


Dara masih berkelit, sedikitpun tidak ingin mendengar apapun lagi dari Biru. Sampai beberapa saat pandangan dan penglihatan Dara menggelap dan terus gelap gulita.


Beruntung Biru langsung menangkap tubuh Dara yang tiba tiba lunglai tidak sadarkan diri, dan membuat semua orang yang tengah berada di sana terperangah kaget melihatnya.

__ADS_1


"Dara... Hey ... Bangun sayang!"


__ADS_2