
"Kau akan tahu nanti Dara. Aku pastikan mereka semua yang hancur dengan rencananya sendiri!"
Keduanya kembali berjalan ke arah depan dimana semua orang masih menunggunya.
"Dara kau tidak apa apa kan?" tanya Zian, dia khawatir terjadi sesuatu pada menantunya itu.
"Dad ...!" Air mendelik ke arahnya, dia tidak suka ayahnya terlalu memperhatikan orang lain, "Yang harusnya khawatir itu bukan Daddy, kakak saja cengecesan begitu, jadi sudah pasti gak ada yang perlu di khawatirkan. Iya kan Mami?"
Agnia hanya tersenyum seraya mengangguk, tangannya terulur mengelus pipi sang putri, setiap anak perempuan sudah pasti akan bersikap seperti Air,"
"Kamu lihat itu Daddy. Putri mu tife pencemburu, dia marah karena kamu perhatian pada Dara." Agnia terkekeh, berbicara setengah berbisik pada suaminya.
"Ya ... Air bisa jadi wakilmu dalam hal itu, jadi kau senang bukan?"
Agnia kembali tertawa, itu memang benar. Dia tidak harus mengatakan apapun karena anak anaknya sudah besar dan tahu bagaimana bereaksi terhadap sesuatu yang tidak benar.
"Sayang ... Ini duduk. Kamu pasti capek walau hanya ke toilet."
Agnia memilih mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Dara untuk kembali duduk, sementara Biru hanya mengangguk saja.
Sedangkan Alex bergegas menghampiri Biru untuk mengambil benda kecil yang di berikan Dara padanya.
"Siapkan semua Lex," ujarnya dengan menyerahkan benda kecil itu padaa ALex.
Alex menagngguk, dia segera pergi setelah benda kecil itu masuk ke dalam kantung celananya
Flash back On
"Sudahlah ... Biarkan saja, aku tahu kau lelah Lex, jangan terobsesi terlalu keras untuk jadi asisten yang handal!?"
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu Bi. Kalau aku berhenti mengikuti Intan dan mencari tahu apa yang di lakukan Prasetya?"
"Biarkan Intan menemui Dara, dia pasti akan menyerang Dara baik fisik ataupun psikis hanya agar Dara hancur."
"Jadi apa?"
"Jelas kita akan memanfaatkan kesempatan itu Lex, siapakan alat untuk merekam semua pembicaraan itu, siapkan juga orang orang untuk berjaga jaga, aku tidak ingin lengah sedikitpun dan membiarkan Intan menyakiti Dara, siapkan juga kamera dan jangan beritahu Dara." terang Biru.
Tiba tiba pintu ruangan terbuka, Dara masuk dan tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan Biru dan Alex, keduanya terperanjat dan tidak lagi bisa menutupi semuanya dari Dara.
"Apa Bi? Apa yang ingin kamu lakukan sama Intan?"
Biru menghampirinya dan membawa kotak makan yang berada di tangannya lalu menyimpannya diatas meja begitu saja.
"Bi?" tanya Alex.
Biru meliriknya lantas mengangguk lirih, Alex pun faham dan segera keluar dari ruangan itu.
"Dara ... Karena kau sudah tahu .. Maka aku tidak bisa laagi menyembunyikannya lagi padamu. Aku akan minta tolong padamu saja,"
"Minta tolong apa? Apa yang kamu sembunyikan."
"Jadi kau nanti sebisa mungkin harus memancing Intan untuk bicara seluruhnya dan juga sejujurnya atas apa yang dia dan Rian perbuat padamu. Itu akan jadi bukti kuat untuk kita."
Dara terdiam, menatap Biru dengan nanar. Tak lama Alex kembali masuk, dia menyerahkan sebuah alat perekam suara dengan ukuran yang sangat kecil.
Biru mengambilnya, dan menyerahkannya pada Dara.
"Kau hanya perlu menyimpannya di dalam tas atau sakumu Dara. Dan alat ini akan bekerja otomatis setelah kau tekan tombol kecil ini." terang Biru dengan menunjukan sebuah tombol kecil di dalamnya, dengan ukurannya yang kecil, alat itu cukup efisien dan bisa di simpan di mana saja. Bahkan bisa disembunyikan dimana saja.
__ADS_1
Dara masih terdiam, dia masih ragu karena Intan masih dia anggap sahabat baiknya. Tapi info yang dia dapatkan dari Alex dan bukti suara Intan di ponsel miliknya membuatnya tidak percaya jika sahabatnya sendirilah yang mencelakainya.
"Baiklah ... Aku akan memakainya besok." ucapnya pelan seraya terus melihat kamera perekam yang sangat kecil itu.
"Apa yang akan kamu lakukan Bi. Apa kamu akan melaporkan Intan ke polisi?"
Biru tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum lirih padanya. "Besok kita fikirkan lagi hal itu yaa ..., kau jangan banyak fikiran ok!!"
Flash back Off.
Alex membawa kamera itu masuk ke dalam ruangan, dia dan memasangkannya pada sebuah alat yang terhubung dengan layar besar di depan panggung. Ya ... Benar, alih alih membawanya ke polisi, Biru memang berniat menjatuhkan semua lawan dengan satu kali langkah saja, tidak hanya menjatuhkan harga dirinya, tapi juga menghancurkan semua langkahnya. Bak permainan catur yang mengunci lawan sampai tidak berkutik, semua langkahnya akan mati dan buntu. Seperti Rian, yang tidak akan lagi bisa berkutik.
Biru tersenyum tipis, saat layar besar putih di atas panggung kini mulai menyala. Cuplikan cuplikan seseorang yang tidak tampak jelas terlihat, juga beberapa orang orang yang juga menjadi tamu di sana.
Sepertinya kau menyalakannya sejak kita duduk Dara?"
Dara mengangguk, itu benar dia menyalakannya langsung karena merasa panik sendiri.
Rian dan Prasetya terperangah saat layar itu menampilkan foto dirinya dan juga Rian yang tengah bersaama seorang gadis. Di sana juga ada foto foto dimana Prasetya dan Rian tengah memegang sesuatu di tangan merekadan terakhir rekaman seorang gadis yang berada di toilet, yang berteriak dan juga tertawa. "Kurang ajar!" cicit Prasetya kesal, dia langsung bangkit berdiri dan berlalu begitu saja, begitu juga dengan Rian yang tersentak kaget juga tidak kalah marah karena kebodohan kekasihnya.
Tak berselang lama dia pun pergi menyusul ayahnya keluar dari sana. Intan yang baru saja kembali dari toilet terpaku di tempatnya berdiri, hampir semua orang menatap dirinya kini. Gadis itu merasa aneh lalu menatap Rian dan juga Prasetya yang akhirnya beranjak pergi begitu saja. Dia juga langsung menoleh ke arah layar yang kini menampilkan dirinya yang tengah bicara pada Dara dan menceritakan semuanya.
"Mati!" gumamnya, tidak bisa lagi berkata kata.
Bukan hanya tamu tamu yang hadir yang kaget, Baskoro dan Sophia tidak kalah kaget, bahkan keduanya sampai terperanjat karena kebenaran yang baru saja terungkap.
Baskoro menoeh ke kiri dan ke kanan untuk menccari Prasetya dan minta penjelasannya, namun ternyata dua orang itu sudah tidak terlihat. Baskoro bergegas mencarinya dengan keluar dari gedung, betapa marahnya dia atas apa yang dilakukan Prasetya dan anaknya. Orang orang yang berjaga jaga di luar pun menghadang Prasetya dan Rian agar tidak bisa keluar lagi dari pelataran parkir.
"Bi ...?" Zian yang theran kenapa acara perusahaan kini berubah menjadi ricuh.
__ADS_1
Agnia tersenyum pada sang suami dan menyuruhnya untuk tidak banyak bicara saat ini.
"Maafkan aku Dad ... Aku menghancurkan acaramu, tapi aku rasa inilah waktu yang paling tepat untuk mereka!"