Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.26(Pemegang kendali)


__ADS_3

"Kamu udah aku traktir makan, terus apalagi? Jangan macam macam ya!"


Ting


Lift terbuka, satu persatu orang keluar dari lift hingga tinggal mereka berdua yang masih betah bertatap tatapan.


"Aku tidak akan macam macam, hanya satu macam saja dan itu tidak berat. Kau hanya perlu menurut saja padaku. Hm?"


"Aku apa? Harus apa? Hey ... Jangan mengambil kesempatan ya, kamu itu aku yang bayar, jadi kamu yang harus nurut padaku!" dengus Dara dengan menepiskan tangan Biru lantas dia keluar dari sana, "Enak saja, makin lama dia makin parah! Dikata harus nurut katanya, dih ... Harusnya sebaliknya kan!" gerutunya dengan terus melangkahkan kaki.


"Ok ... Aku akan menurut padamu! Dengan catatan kau patuh padaku!" seru Biru dari belakang, membuat Dara kesal adalah hobinya sekarang.


"Tak sudi! Biar uang yang bicara, di sini aku pemegang kendali, bukan kamu!"


Biru terkekeh, melingkarkan tangan di bahu Dara dan berjalan di sampingnya, gadis itu terbeliak dan langsung menepiskan tangan Biru, dan Biru tetap melingkarkan tangannya sekalipun Dara berkali kali menepiskannya.


"Kau bilang uang yang bicara, tapi lihatnya sekarang. Kalau kau terus melepaskan tanganku maka semua orang akan curiga pada kita, kau mau hal itu terjadi sekarang, bahkan saat kau bicara dengan Rian, semua orang akan menganggap kau ini sedang selingkuh. Benar bukan? Jadi fikirkan itu sebelum kau pergi!" Ujar Biru dengan bibir yang melengkung.


Dara mengedarkan kedua matanya, dia tahu maksud perkataan Biru. "Aku gak selingkuh ya, ini udah di ulang ulang kalau bagaimana pun juga Mas Rian adalah ayah dari anak yang aku kandung, dan dia berkewajiban untuk memastikan keadaan anaknya!"


Setelah mengatakannya, Dara menepis tangan Biru lalu melangkah lebih cepat dan meninggalkan Biru begitu saja. Dia masuk kembali kedalam ruangan ayahnya namun tidak berselang lama dia keluar dengan menjingjing tas miliknya.


"Sekarang kau ikut aku ke rumah sakit!"


"Kau berubah fikiran dan mengajakku sekarang? Bukannya Mas Rianmu itu?"


Dara berdecak dengan menarik tangan Biru dan membawanya pergi. "Gak usah banyak tanya!"

__ADS_1


Biru mengangkat bibirnya tipis, mengikuti langkah kaki Dara dengan terus membiarkan tangannya dia pegang. "Jangan salah faham, aku akan buktikan kalau aku yang pegang kendali di sini! Bukan kamu yang so dan tukang ngambil kesempatan!" cicitnya lagi.


Mereka masuk kedalam lift, dan Dara berdiri di depan tombol tombol lift agar kejadian yang tadi tidak terulang kembali, lebih baik mengantisipasi apapun itu dari pada hatinya akan terus hanyut dalam pesona si pencari untung.


Melihat tingkah Dara yang konyol dan tidak biasanya, Biru hanya menggelengkan kepalanya saja. Dara yang masih berusia 19 tahun dan tengah mengandung seorang janin yang tengah tumbuh tampak seperti anak kecil yang menggemaskan. Entah kenapa permainan ini begitu menyenangkan baginya, bahkan dia lupa untuk kembali pulang dan menyudahi liburannya.


'Mau sampai kapan di sini?'


Pesan singkat itu selalu dia terima dari sang ibu, yang kerap bertanya kapan dia akan pulang. Namun Biru tidak pernah memberikan jawaban yang pasti padanya ibunya.


"Inget ya ... Kita hanya berbisnis, jangan pernah lakukan hal itu lagi!" ucap Dara tanpa melihat ke arahnya, aneh memang karena sebelumnya lift sangat penuh namun kini hanya ada mereka berdua saja yang turun.


"Hal apa? Yang mana?" Biru mendadak polos.


Dara berdecak, "Udah deh ... Gak usah belaga begoo, kamu tahu maksudku yang mana!"


"Aku benar benar tidak tahu apa yang kau maksud, banyak hal yang aku lakukan padamu, memelukmu atau menciummu? Atau...?"


"Biruuu!" Dara mendelik ke arahnya dengan tajam, "Jangan kurang ajar ya ... Aku bisa laporin kamu ke---" Dara berhenti bicara, melaporkan apa pada siapa akan sia sia karena dimata siapapun Biru tetap suaminya, bahkan jika dia melaporkannya pada polisi sekalipun.


Sementara Biru terkekeh melihatnya yang kikuk.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu lagi!"


Dara terhenyak, tatapannya tetap tidak berubah ke arahnya bahkan terlihat semakin tajam saja.


"Apa ... Kenapa kamu makin marah, jangan bilang kalau kamu juga suka aku ciium dan aku pelukk? Benar begitu?"

__ADS_1


"Biruuuuu!!"


Ting


Dara segera menghentak kedua kakinya dan keluar dari lift, sementara Biru menahan tawa dibelakangnya. Semakin Dara kesal, semakin menggemaskan dan membuatnya senang.


"Dasar gila!"


"Anggap saja aku gila, yang jelas kamu marah karena aku mengatakan hal yang benar bukan?"


"Terserah sajalah!" sahut Dara yang menuruni tiga tangga saat keluar dari pintu.


Trakk!


Entah apa yang Dara injak, yang pasti kini dia malah tersandung hampir terjatuh. Beruntung Biru segera menahan lengannya hingga memegangi tubuhnya.


"Apa kamu tidak pakai mata!" sentaknya dengan kedua mata yang tajam. Entah kenapa Biru terlihat kesal. "Kamu lupa kalau kamu tidak sendiri, jadi berhati hati dalam setiap apapun! Kamu mengerti?"


Dara kaget sampai tidak berkata apa apa, kenapa Biru tiba tiba marah karena dirinya hampir tersandung saja.


Tak lama Biru melepaskan tubuhnya namun kini menggenggam tangannya dan membawanya berjalan ke arah mobil yang dia pinjam dari Alex. Biru membuka pintu mobil dan menyuruh Dara masuk.


Gadis itu lagi lagi hanya bisa terdiam dan lagi lagi tidak bisa melawan apalagi membuktikan diri sebagai pemegang kendali atas permainan kontrak mereka karena nyatanya Biru lebih berkuasa. Lebih menakutkan jika sudah marah dan lebih menyebalkan karena pria itu kerap membuatnya kesal.


Brak!


Biru menutup pintu mobil dengan keras lantas dia berjalan ke arah kemudi seraya menggerutu.

__ADS_1


"Apa gunanya mata kalau tidak digunakan dengan benar, haiissshhh ... Hampir saja, kenapa aku justru marah. Bukannya lebih bagus kalau bayi itu tidak ada!"


__ADS_2