Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.62(Belum siap)


__ADS_3

"Apa ini juga bagian dari rencanamu?"


"Apa? Yang mana?"


"Aku dengar mas Rian lagi ada proyek besar dengan G.G Coprs, apa itu juga rencanamu?" tanyanya lagi, masih penasaran dan tidak percaya jika Biru adalah seorang pria yang tidak kalah hebat dari Rian.


Biru menggelengkan kepalanya. "Mas?"


Dara berdecak, panggilan itu tidak memiliki arti lagi baginya. Hanya pembiasaan saja.


"Ya .. Rian!" ralatnya ulang, tidak ingin membuat Biru salah tanggap. "Jadi ... Benar ini rencana yang kamu bilang?"


"Bukan!"


"Hah ...!"


"Memang awalnya bukan rencanaku!"


"Tapi ... Tapi!"


"Itu rencana Daddy ... Maksudku orang tua aku!"


Daddy ... Dia bahkan panggil ayahnya dengan Daddy, mereka benar benar tinggal di luar negeri. Bukan kaleng kaleng. Duh aku jadi malu banget, batin Dara, sempat berfikir buruk saat melihat kedua orang tua yang datang saat hari pernikahannya, dua orang tua yang sibuk sendiri dengan makanan dan terkesan kampungan.


"Oo__ orang tua mu? Maksudku orang tuamu juga tahu soal hal ini?"


Biru mengangguk lagi, "Mereka tahu sebelum aku sendiri yang menceritakannya!"


Tidak habis fikir dan tidak juga percaya. Itulah yang dirasakan Dara saat ini, dimana ada orang tua yang seperti itu, mengingat perlakuan orang tuanya sendiri saja seperti apa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana orang tua keluarga Biru itu.


"Awalnya rencana Daddy, tapi akhirnya aku yang ambil alih!" Biru tersenyum setelah mengatakannya.


"Apa yang kamu rencanakan?"


"Jadi begini...."


Drett


Drett


Ponsel Biru berdering nyaring tepat saat dirinya baru saja akan berbicara. Pria itu merogoh ponsel dan langsung melihat nama ibunya terpangpang dilayar ponselnya


"Sebentar Dara!" ujarnya dengan berjalan melipir sedikit menjauh dari Dara.


Terlihat Biru berdecak, lalu tangannya berkacak di pinggangnya. Jelas sekali terlihat resah saat berbicara ditelefon.


Dara hanya memperhatikannya dari belakang, Biru mondar mandir dengan raut wajah yang berubah ubah. Tak lama dia menutup telepon dan kembali menghampirinya. Dara berpura pura tidak memperhatikannya, dia juga tidak mengatakan apa apa padanya.


"Dara ... Apa kamu tudak keberatan kalau ikut aku sekarang?" tanya Biru.


"Kemana?"


Biru mengulurkan tangan ke arahnya. "Ikut saja!"

__ADS_1


Mereka turun dari rooftop lalu keluar dari kafe itu,


"Suruh supirmu mengikuti kita Dara! Maaf tapi aku tidak mau kamu dapat masalah lagi dari ayahmu jika ketahuan pergi denganku."


Dara mengangguk, menyuruh supirnya mengikuti mereka.


"Kita mau kemana?"


"Blue moon!" Biru terkekeh. "Kau tidak keberatan kan?"


"Tunggu. Kemana? Blue moon ... Untuk apa kita kesana?"


"Kau akan tahu nanti!"


"Tapi Biru, jangan fikir kau bisa macam macam ya!" Dara memukul lengannya dengan keras.


"Astaga ibu hamil ini sangat galak! Aku tidak akan macam macam Dara! Kau harus percaya padaku!" ucap Biru.


Akhirnya Dara hanya bisa diam dengan penasaran, melihat ruas jalanan yang mereka lewati. Terlihat Biru terus melirik Dara dan tersenyum tipis.


"Apa yang khawatirkan. Kita hanya akan bertemu kedua orang tuaku saja di sana!"


"Hah....! Biru jangan gila,"


"Aku tidak gila Dara, aku tergila gila pada mu!"


Dara memukul bahu Biru dengan keras, mencubit lengannya dengan kesal, bisa bisanya bercanda saat situasi dirinya yang resah tidak karuan.


"Dara aku sedang menyetir!"


"Dara sayang, tidak ada yang harus kamu khawatirkan, orang tuaku tidak akan menggigitmu!"


Dara akhirnya menangis, takut jika kedua orang tua Biru tidak mau menerimanya terlebih dirinya yang hamil oleh pria lain. Bukan Biru. Lalu keluarganya yang meremehkan Biru dan banyak hal yang dia takutkan. Tapi Biru benar benar meyakinkannya hingga Dara akhirnya hanya diam menurut saja.


Jantungnya semakin tidak karuan saat mobil memasuki basement hotel mewah itu. Hotel dengan harga selangit dan hanya orang orang dari kalangan jetset saja yang keluar masuk hotel itu.


"Ayo!"


Tanpa sadar mobil ternyata sudah menepi, pintu mobil juga sudah terbuka tapi Dara masih melamun.


"Dara?"


"Biru kamu yakin bawa aku ke dalem?" ucapnya dengan melirik pakaian yang dikenakannya.


Dara hanya mengenakan setelan rok dengan bunga bunga dan flat shoes saja, tidaklah cocok untuk masuk ke dalam hotel mewah itu. Fikirnya.


"Kamu cantik! Ayo....!"


Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam, dengan Dara yang merasa panas dingin tiba tiba, Biru menoleh dan tersenyum saat merasakan tangan yang dia genggam sedikit basah.


"Dara ... Kita hanya akan bertemu orang tuaku saja! Bukan presiden amerika!"


"Kalau aku bisa milih, aku pasti milih presiden amerika dulu aja! Aku benar benar belum siap."

__ADS_1


Biru terkekeh mendengarnya dan berhenti tepat di depan sebuah pintu lebar berukuran besar. Membuat Dara semakin tegang.


"Boleh aku ke toilet dulu?"


Biru mengangguk. "Mau aku antar?"


"Gak usah ... Kamu tunggu aja di sini, jangan dulu masuk." Ucap Dara yang langsung berbalik arah menuju toilet, walaupun dia sendiri tidak tahu kemana arahnya.


Dara masuk ke dalam toilet, menghela nafas panjang saat menatap pantulan wajahnya di kaca. Debaran jantungnya semakin tidak karuan saja, takut jika keluarga Biru tidak menyukainya. Ditambah dirinya yang hamil di luar nikah.


"Apa yang harus aku lakukan!"


Untuk beberapa lama Dara hanya mondar mandir di dalam toilet, sampai Biru datang mengetuk pintu toilet.


"Dara ... Kamu tidak apa apa kan?"


"Astaga gimana ini!"


"Kamu butuh bantuan?"


"Enggak kok ... Aku gak apa apa!"


Akhirnya Dara keluar dari toilet, wajahnya sedikit pucat dan berkeringat, rasanya dia ingin kabur saja dari sana. Tapi itu akan membuat dirinya sendiri terlihat buruk.


"Kamu gak apa apa?" ucap Biru yang menggenggam tangan Dara yang dingin.


Dara menggangguk kecil sementara Biru tersenyum. "Kamu terlihat seperti orang yang baru saja lihat hantu!"


"Biru please jangan bercanda! Gak tahu apa aku lagi tegang begini!"


Keduanya terus berjalan menuju ruangan dimana keluarga Biru sudah menunggunya. Dan jantungnya berpacu semakin kencang saat pintu tiba tiba terbuka.


Dara membola, melihat sosok pria yang pernah dia lihat tempo hari. Yang merasa wajahnya tidak asing baginya. Keringat dingin kembali menyerang saat pria itu mendongkakkan kepala ke arahnya.


"Kau terlalu lama bung!"


Dara tersentak mendengar suaranya yang tegas dan juga keras. Tatapannya juga tajam dengan rahang yang kuat. Lagi lagi aura nya terlalu kuat.


"Maaf Dad ... Aku sudah bilang kalau hari ini sibuk dan kalian memaksa!"


Suara decakan kecil terdengar dari arah samping, seorang gadis tinggi semampai dengan rambut panjangnya. Sangat cantik membuat Dara sendiri terpesona.


"Banyak alasan!"


"Diam kau!" ujarnya pada gadis itu. "Dia adikku ... Sangat bandel," bisiknya pada Dara.


Dara hanya tersenyum melihatnya, lalu gadis itu malah melengos dan duduk di samping ayahnya.


"Jadi ini yang namanya Dara?"


.


.Wah berapa bab nih hari ini ... Wkwk lagi rajin ya othor. Jangan lupa dukungannya buat Bidar yaaa Bidara ... Kek daun Bidara wkwkwk.

__ADS_1


Ahk othor sih lebih duka Daddynya. secara othor penyayang Sugar Daddy wkwkw


__ADS_2