
"Aku mempercayaimu, Biru. Aku juga percaya kalau kita hadapi ini bersama-sama dan menciptakan masa depan untuk keluarga kecil kita."
Biru tersenyum lega mendengar kata-kata Dara. Dia merasakan kelegaan dan harapan yang tumbuh di dalam dirinya.
"Maafkan aku Bi ... Maafkan aku yang sempet ragu dan bikin kamu sakit hati dengan semua ucapan dan sikapku padahal semua kamu lakukan untuk aku dan anakku."
Dengan penuh tekad yang semakin kuat, Biru menatap Dara dengan penuh kasih.
"Terima kasih. Bi. Aku gak akan pernah mengecewakanmu lagi," ujar Dara dengan suara tulus. "Kita akan melalui ini bersama-sama dan membuktikan bahwa kita bisa menjadi keluarga yang kuat dan bahagia. Aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi ayah yang baik bagi anak kita."
Dara tersenyum, merasakan kehangatan cinta dan kepercayaan yang mengalir di antara mereka. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan mereka hadapi tidak akan mudah, namun dengan saling mendukung dan saling percaya, mereka bisa mengatasi segala rintangan.
"Mari kita fokus pada masa depan kita," ucap Biru lagi dengan penuh keyakinan. "Kita akan belajar dari masa lalu dan menciptakan keluarga yang bahagia. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, Dara!"
Dara mengangguk, merasakan kehangatan dan kebahagiaan memenuhi hatinya, dicintai begitu besar oleh seorang pria yang mau menerima segala kekurangannya, yang tetap sabar menghadapi dan menjadi orang pertama yang sigap dalam masalah yang datang bertubi tubi.
Biru tahu bahwa mereka memiliki banyak perbedaan dan tantangan yang harus dihadapi, tetapi dia yakin bahwa bersama, mereka bisa mengatasi semuanya.
"Masa depan kita penuh dengan harapan dan cinta," kata Biru dengan penuh keyakinan, mengelus punggung tangan Dara. "Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai pasangan hidupku dan sebagai ibu bagi anak anak kita. Bersama, kita akan membangun keluarga yang kuat dan bahagia."
Dara kembali mengangguk, bibirnya bergetar menahan rasa haru dan bahagia yang bercampur aduk. Sejurus kemudian dia berhambur memeluk Biru.
__ADS_1
Dara dan Biru saling memeluk dengan erat, menguatkan janji-janji mereka satu sama lain. Mereka telah melewati berbagai rintangan dan ujian, dan sekarang, mereka siap untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka sebagai keluarga.
Dalam kehangatan pelukan mereka, mereka merasakan kekuatan cinta yang tidak tergoyahkan. Bersama-sama, mereka akan menghadapi masa depan dengan penuh harapan dan keyakinan bahwa mereka bisa menciptakan kebahagiaan yang abadi untuk keluarga kecil mereka.
"Apa kau sudah melihat putra kita?" Tanya Biru masih mendekap Dara.
Dara terdiam, semakin menggigit bibirnya yang kini sudah terasa perih.
"Kau mau melihatnya? Dia sangat lucu dan menggemaskan sepertimu." ujar Biru, mencoba merayu Dara karena sampai saat ini Dara tidak sedikitpun berkeinginan melihat Bayi yang tengah dalam perawatan inkubator karena usianya kelahiran yang masih kurang.
Perlahan, Biru mengurai pelukannya, lalu menatap Dara.
"Menangis lah Dara, jangan kau tahan saat air matamu ingin keluar. Itu akan membuat hati dan perasaan mu menjadi lega. Luapkan semua kemarahan, kekesalan dan penyesalan agar kamu bisa kembali bangkit. Semua ada masanya ... Dan aku akan berada di sampingmu apapun keadaanmu. Hm?"
"Setelah kau tenang, kita lihat anak kita ya. Dia anak yang kuat, bertahan sampai sejauh ini hanya untuk menjadi penguat dalam hidupmu Dara. Jadi, bertahan pulalah untuknya!"
Ucapan Biru sungguh menyayat, kata kata penenang yang seharusnya terlontar dari orang yang seharusnya bertanggung jawab.
"Kamu bukan ayahnya Bi ... Kenapa kamu mencintai bayi itu sebesar ini. Aku takut ...!" lirih Dara.
Biru mengulas senyuman, dengan lembut dia kembali menyapu air mata di pipinya. "Karena aku mencintai ibunya sebesar ini juga. Kau pernah dengar istilah buy one get one? Nah itulah aku..." godanya kemudian seraya sedikit terkekeh.
__ADS_1
Dara yang menangis kini bisa sedikit tersenyum karena ucapan Biru menggelitik.
"Buy one get one. Kau fikir aku ayam crispy!" dengus Dara menyusut air matanya dengan pasti.
Tak berselang lama, Biru mendorong kursi roda, membawa Dara menuju ruang perawatan bayi. Sophia yang melihatnya kini menjadi haru. Diam diam menitikkan air mata dan merasa sangat lega.
"Andai saja papa bisa melihatnya. Papa pasti akan bahagia. Biru sangat baik pap. Dan kita sempat meragukannya!" gumam Sophia yang terus melihat mereka yang pergi menjauh.
Keheningan menyelimuti ruangan saat Dara menatap anaknya yang terbaring tenang di dalam inkubator. Kesedihan yang mendalam terpancar dari matanya yang berkaca-kaca. Meskipun Dara telah melahirkan seorang anak, namun rasa ibu yang hangat dan ikatan batin yang seharusnya terjalin belum sepenuhnya hadir dalam dirinya, sebab anak itu hadir dan tumbuh dari seorang pria bejad yang tidak bertanggung jawab.
Dalam keheningan yang terasa berat, Dara merasakan kekosongan di dalam hatinya. Ia merenung tentang bagaimana segala sesuatu bisa berubah begitu cepat. Ia merasa terombang-ambing antara kekhawatiran, rasa bersalah, dan ketidak mampuannya untuk menerima anaknya sendiri.
Tatapan Dara kosong, terpaku pada bayi kecil yang sedang tidur di dalam inkubator. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini. Rasa takut dan ketidak pastian melanda pikirannya. Ia tidak merasakan getaran kebahagiaan seperti yang seharusnya dialami seorang ibu saat melihat anaknya untuk pertama kalinya.
Biru yang berdiri di samping Dara, merasakan keheningan dan kesedihan yang memenuhi ruangan. Ia bisa merasakan betapa sulitnya bagi Dara untuk menerima keadaan ini. Dia menggenggam tangan Dara dengan penuh kasih, mencoba memberikan dukungan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tidak ada yang berbicara, hanya hening yang terasa semakin dalam. Dara merasa terpisah dari anaknya, meskipun mereka berada dalam ruangan yang sama. Ia terjebak dalam konflik emosional yang rumit, berjuang antara rasa ingin melibatkan diri sebagai ibu dan ketidak mampuannya untuk melakukan penerimaan setulus hatinya.
Kedua orang tua tersebut terdiam dalam kesedihan yang tak terungkapkan. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hati Dara. Hanya air mata yang perlahan jatuh di pipi wanita yang masih tergolong sangat muda, menandakan kepedihan yang teramat dalam.
Dalam keheningan yang menyayat hati itu, Biru menyadari bahwa proses penyembuhan dan penerimaan akan membutuhkan waktu yang panjang. Semua pihak yang terlibat harus saling mendukung dan menghormati proses emosional yang sedang dialami Dara.
__ADS_1
Mungkin suatu saat nanti, dalam langkah-langkah kecil dan kesabaran yang tak terbatas, Dara akan mampu melihat anaknya dengan rasa cinta dan kehangatan sejati. Namun, untuk saat ini, mereka harus menghadapi keheningan dan kesedihan yang ada, dan berharap bahwa waktu akan membawa kesembuhan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menerima bayi mungil tanpa dosa itu.
"Kau sudah menyiapkan nama untuknya Dara?"