
Biru memutuskan pulang ke hotel malam itu juga, menenteng koper berisi uang pemberian Baskoro. Walaupun dia sendiri menyesali kenapa harus membawa uang tersebut. Dan sepanjang perjalanan hanya menggerutu karena kebodohannya. Terus menghembuskan nafas sampai dia tiba di depan meja resepsionis.
"Bawa ini ke atas!" ucapnya dengan menyerahkan koper berisi uang itu pada seorang staff.
Staff hotel itu langsung menundukkan kepalanya, dengan halus menolak perintah tuan muda pemilik kartu sakti.
"Ayo tunggu apa lagi! Dan bawakan aku obat ...! Sekarang juga!" ujarnya lagi dengan langsung melangkahkan kakinya.
Dua staff menyusulnya, bukan untuk menjalankan perintahnya namun justru untuk menghalaunya masuk ke dalam lift, membuat Pria tinggi itu mengernyitkan dahi.
"Ada apa?"
"Maafkan kami ... Kami hanya menjalankan tugas." jawab salah satu staff.
"Ya ... Aku tahu, jadi lakukan tugas kalian dengan benar!" Biru kembali melangkah hendak masuk ke dalam lift yang terbuka.
Dan lagi lagi staff menghalangi jalannya dengan wajah yang penuh ketakutan namun terpaksa melakukannya.
"Maafkan kami, kami hanya pegawai biasa. Dan kami hanya menjalankan tugas saja!"
Biru semakin heran menatap keduanya yang ketakutan serta melarangnya. Ya dia dilarang masuk ke dalam lift bahkan dilarang masuk kamar president suite padahal dia memiliki kartu akses untuk itu.
"Kau lupa siapa aku?"
"Maafkan kami ... Kami tidak mungkin lupa, tapi---"
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas." tanya Biru yang mulai kesal.
Bukannya menjawab atau menjelaskan dengan jelas kedua staff itu justru menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani membuka mulut sekalipun mereka takut Biru semakin marah.
__ADS_1
Brak!
Biru memukul pintu lift yang baru saja tertutup di depan matanya. Membuat kedua staff hotel itu berjingkat karena kaget.
"Katakan, apa Daddy yang melarangku masuk?" ucap Biru menduga, sebab hanya dengan perintah sang ayahlah yang tidak bisa terbantahkan di dunia ini kecuali ibunya yang membantahnya.
Kedua staff hotel semakin menunduk saja tanpa ada yang berani mengatakan jika dugaan Biru benar, dan dengan melihat reaksi keduanya membuat Biru tahu sendiri jawabannya.
"Arrgghhh!!" Biru mengacak rambutnya dengan kasar lalu beranjak pergi. Dia keluar dari hotel begitu saja dengan marah, tidak menyangka jika ayahnya akan setega itu padanya.
"Kenapa Daddy gegabah sekali!" cicitnya lagi.
Biru berjalan keluar hotel, menghubungi Alex namun nomornya kini tidak aktif, siall baginya karena saat ini dia benar benar sendiri. Sudah jelas Alex akan takut dan memilih kabur dari pada ikut terkena imbasnya. Dan di sisi lain dia sendiri masih tidak berani untuk pulang menemui kedua orang tuanya karena takut.
Biru memutuskan masuk kedalam kafe yang tidak jauh dari sana, memesan ruangan VIP agar bisa istirahat sejenak. Tak lupa dia juga memesan banyak makanan dan minuman serta meminta pelayan kafe menyiapkan obat obatan untuknya.
Alih alih berjalan mulus, pangeran muda dan pewaris keluarga Maheswara itu harus menelan pil pahit saat ruangan VIP yang dia inginkan tidak bisa dia pesan. Dikarenakan kartu kartu sakti miliknya tidak berguna sama sekali.
"What ... Mana mungkin, coba sekali lagi!" Biru masih yakin, sebab beberapa jam yang lalu kartu itu masih bisa di gunakan olehnya.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya, mencoba menawarkan kembali untuk mencoba memakai kartu lain yang dia miliki.
"Mungkin anda punya kartu lain?" tanyanya ulang.
Biru tampak kesal, dengan rahang yang mengertak keras dan menyoroti semua pelayan yang ada di sana saat itu. Dengan sekali tebak saja sudah bisa menduga siapa yang bisa melakukan semua itu padanya.
Dan pelayan terlihat meminta bantuan rekannya yang lain untuk mengatasi masalah yang akan terjadi selanjutnya jika Biru dibiarkan tetap berada di sana.
"Sepertinya anda harus pergi, jangan coba coba menipu orang lain hanya karena anda ingin makan gratis!" ucap seorang pelayan. Kemungkinan senior di tempat itu.
__ADS_1
Brak!
Biru menggebrak meja, dia tidak terima jika dikatakan ingin makan gratis, uang bukan masalah baginya, terkecuali jika keluarganya sudah bertindak keras.
"Kau bilang apa. Coba kau ulangi lagi! Katakan dengan jelas dan aku akan menyumpal mulutmu itu dengan uangku!"
Pelayan senior itu tidak mudah digertak, apalagi penampilan Biru dan luka luka diwajahnya sudah membuatnya curiga sejak awal, dia menyuruh dua orang penjaga untuk masuk.
"Apa apaan ini?" ujar Biru dengan menatap satu persatu dari mereka.
"Setidaknya kau harus cuci piring agar mendapat makan gratis, itu pun hanya makanan sisa!"
"Lancang sekali mulutmu itu!" sentak Biru, namun dia tidak bisa melakukan apa apa sekarang.
Kartu kartu miliknya tidak bisa digunakan, dan dia juga tidak menyimpan uang tunai di dalam dompetnya.
"Sial ... Hari ini memang hari kesialan!" rutuknya kesal.
Dan tiba tiba dia ingat koper berisi uang dengan penuh pemberian Baskoro tadi. Dan mau tidak mau, Biru harus menggunakanya. Tapi, sesuatu melintas begitu saja di benaknya. Ya uang ... kebodohan yang menguntungkan. Fikirnya, tapi Biru baru ingat uang dalam koper itu masih dia tinggalkan di sana.
"Sial ... Koper itu ada di hotel," Biru langsung berlari ke arah hotel yang cukup dekat dari kafe.
Beruntung koper itu masih aman di sana, dan Biru langsung membawanya dan kembali masuk ke dalam kafe.
"Berikan apa yang tadi aku katakan. Cepat!" serunya dengan kesal, membuka koper berwarna hitam itu dan memperlihatkannya pada semua orang. "Dan ambil itu sebagai bayaran," ujarnya lagi karena melemparkan koper itu ke arah pelayan.
Dan lebih beruntung lagi karena uang yang diberikan oleh Baskoro untuknya saat ini benar benar berguna.
Dan Biru menggunakannya tepat waktu. Dan Biru berseringai setelah berhasil membuka ruang VIP untuk beristirahat.
__ADS_1
"Daddy ... Bukankah putramu ini lebih cerdik darimu?"